{"id":394676,"date":"2026-03-08T13:44:59","date_gmt":"2026-03-08T06:44:59","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=394676"},"modified":"2026-03-08T13:59:46","modified_gmt":"2026-03-08T06:59:46","slug":"sebenarnya-siapa-sih-yang-memulai-tradisi-uang-baru-saat-hari-raya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sebenarnya-siapa-sih-yang-memulai-tradisi-uang-baru-saat-hari-raya\/","title":{"rendered":"Sebenarnya Siapa sih yang Memulai Tradisi Uang Baru Saat Hari Raya? Bikin Repot doang!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap menjelang hari raya, ada satu hal yang hampir selalu terjadi di banyak keluarga: orang-orang mulai berburu uang baru. Entah itu ke bank, tempat penukaran uang di pinggir jalan, atau bahkan lewat jasa calo yang sengaja menyediakan paket dengan berbagai nominal. Alasannya sederhana, untuk dibagikan kepada anak-anak, keponakan, atau kerabat yang lebih muda saat silaturahmi hari raya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun jujur saja, saya sering bertanya dalam hati: sebenarnya siapa yang pertama kali memulai tradisi ini? Siapa yang membuat seolah-olah uang yang dibagikan saat hari raya harus selalu dalam kondisi baru, rapi, dan belum pernah dipakai?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya mungkin tradisi ini dimaksudkan sebagai sesuatu yang baik. Memberikan uang baru bisa dianggap simbol kebahagiaan, keberkahan, atau awal yang baru setelah menjalani bulan suci. Anak-anak juga biasanya senang menerima uang yang masih kaku dan bersih karena terlihat lebih istimewa dibandingkan uang lama yang sudah lecek.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi lama-lama, tradisi ini terasa berubah menjadi semacam kewajiban sosial yang cukup merepotkan. Bukan lagi sekadar berbagi rezeki, melainkan harus memenuhi standar tertentu: uangnya harus baru. Kalau tidak baru, rasanya seperti ada yang kurang. Bahkan kadang ada perasaan tidak enak jika memberikan yang sudah agak lusuh.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kok pada serius amat ya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang membuat saya semakin heran adalah betapa seriusnya orang-orang berburu uang baru menjelang hari raya. Antrean di bank bisa panjang hanya untuk <a href=\"https:\/\/www.bca.co.id\/id\/tentang-bca\/media-riset\/pressroom\/siaran-pers\/2026\/03\/04\/03\/38\/selama-lebaran-2026-begini-cara-penukaran-uang-pecahan-kecil-di-bca\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">menukar uang<\/a>. Di beberapa tempat bahkan ada orang yang sengaja menjual jasa penukaran dengan mengambil keuntungan. Misalnya menukar seratus ribu rupiah dengan paket yang jumlahnya lebih sedikit karena sudah dipotong biaya jasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika dipikir-pikir, situasi ini terasa agak lucu sekaligus mengesalkan. Sama-sama uang, nilainya juga sama, tetapi karena tidak dalam kondisi baru, seolah-olah menjadi kurang layak untuk dibagikan saat hari raya. Padahal tujuan utamanya adalah berbagi kebahagiaan, bukan memamerkan seberapa baru uang yang diberikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kadang saya juga merasa tradisi ini secara tidak langsung menambah beban bagi sebagian orang. Tidak semua orang punya waktu atau kesempatan untuk menukar uang baru di bank. Belum lagi jika jumlah yang dibutuhkan cukup banyak. Akhirnya orang harus mengeluarkan tenaga ekstra hanya demi memenuhi ekspektasi yang sebenarnya tidak terlalu penting.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi anak-anak mungkin uang baru memang terlihat lebih menarik. Warnanya cerah, masih kaku, dan terasa spesial. Tetapi jika dipikir lebih dalam, yang membuat mereka senang sebenarnya bukan karena uangnya baru, melainkan karena mereka mendapat perhatian dan hadiah saat hari raya. Yang lama pun sebenarnya tidak akan mengurangi nilai kebahagiaan itu.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/fenomena-menukar-uang-cetakan-baru-menjelang-lebaran-masih-relevan-nggak-sih\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>BACA JUGA: Fenomena Menukar Uang Cetakan Baru Menjelang Lebaran Masih Relevan Nggak, sih?<\/strong><\/a><\/p>\n<h2><b>Yang mulai tradisi uang baru ini siapa sih?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fenomena ini membuat saya semakin penasaran: apakah benar tradisi ini berasal dari budaya lama, atau sebenarnya hanya kebiasaan yang berkembang belakangan karena ikut-ikutan? Bisa jadi awalnya hanya kebetulan ada orang yang membagikan uang baru, lalu lama-lama dianggap sebagai standar yang harus diikuti semua orang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal jika kita kembali ke makna hari raya, inti utamanya adalah silaturahmi, saling memaafkan, dan berbagi kebahagiaan. Bukan soal harus baru atau tidak. Bahkan bagi sebagian orang, sekadar bisa berkumpul dengan keluarga saja sudah menjadi kebahagiaan yang tidak tergantikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pribadi kadang merasa tradisi uang baru ini terlalu dibesar-besarkan. Bukan berarti berbagi itu salah, tetapi rasanya tidak perlu sampai memaksakan diri hanya demi mendapatkan uang yang masih baru dari bank. Jika yang tersedia adalah versi yang lama, seharusnya itu juga tidak masalah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin sudah saatnya kita melihat kembali kebiasaan ini dengan lebih santai. Memberi uang saat hari raya tetap bisa dilakukan tanpa harus terobsesi dengan uang baru. Yang lebih penting adalah niat berbagi dan kebahagiaan yang ingin diberikan kepada orang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaan tentang siapa yang pertama kali memulai tradisi ini saat hari raya mungkin tidak akan pernah benar-benar terjawab. Namun satu hal yang pasti, tradisi ini terus berjalan karena banyak orang merasa harus mengikutinya. Padahal sebenarnya, kita juga punya pilihan untuk tidak terlalu terikat pada kebiasaan tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebahagiaan hari raya tidak ditentukan oleh seberapa baru uang yang kita berikan, melainkan oleh kehangatan hubungan dan kebersamaan yang kita rasakan bersama keluarga dan orang-orang terdekat.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Intan Permata Putri<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/harian\/tukar-uang-baru-buat-thr-tradisi-toksik\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tak Ikut Tukar Uang Baru buat THR ke Saudara karena Tradisi Toxic: Pilih Jadi Pelit, Dibacotin tapi Bahagia karena Aman Finansial<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya pribadi kadang merasa tradisi uang baru ini terlalu dibesar-besarkan. Jika yang tersedia adalah uang biasa, seharusnya tidak masalah.<\/p>\n","protected":false},"author":3172,"featured_media":394695,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[32741,342,32743,32742],"class_list":["post-394676","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-cara-tukar-uang-baru-di-bank","tag-lebaran","tag-uang-baru","tag-uang-baru-lebaran"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/394676","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3172"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=394676"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/394676\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":394699,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/394676\/revisions\/394699"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/394695"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=394676"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=394676"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=394676"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}