{"id":393901,"date":"2026-03-01T15:32:11","date_gmt":"2026-03-01T08:32:11","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=393901"},"modified":"2026-03-01T15:32:11","modified_gmt":"2026-03-01T08:32:11","slug":"bukber-berkedok-reuni-itu-scam-arena-bunuh-teman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bukber-berkedok-reuni-itu-scam-arena-bunuh-teman\/","title":{"rendered":"Bukber Berkedok Reuni Itu Seperti \u201cScam\u201d: Adu Outfit, Adu Gaji, Adu Kerjaan, Ujung-ujungnya Adu Nasib"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ramadan selalu punya satu agenda sosial yang hampir tak terhindarkan, yaitu bukber. Dari <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-siasat-bertahan-di-grup-whatsapp-keluarga-besar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">grup keluarga<\/a>, teman kuliah, rekan kerja, sampai alumni sekolah, semuanya berlomba-lomba membuat jadwal. Awalnya terdengar hangat. Tapi semakin dewasa, semakin terasa ada yang berbeda. Khusunya yang pakai tajuk &#8220;reuni&#8221; karena hanya menjadi ajang &#8220;membunuh teman&#8221;.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukber yang dulu sederhana cukup pesan es teh manis dan gorengan sekarang berubah menjadi ajang yang rasanya lebih mirip kompetisi tak resmi. Kadang saya merasa, bukber berkedok reuni itu seperti \u201cscam\u201d sosial yang dibungkus dengan kata silaturahmi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan karena acaranya buruk. Bukan juga karena orang-orangnya jahat. Tapi karena ada atmosfer tak kasatmata bernama adu outfit, gaji, pekerjaan, status, dan pada akhirnya\u2026 nasib.<\/span><\/p>\n<h2><b>Bukber berkedok reuni cuma menjadi ajang adu outfit<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum hari-H bukber sekaligus reuni, obrolan di grup sudah ramai.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTempatnya estetik ya.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOutfit-nya semi formal aja.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBiar sekalian foto-foto.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu, datanglah hari itu. Semua tampil versi terbaiknya. <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kesalahan-makeup-yang-bikin-wajah-kelihatan-tua\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Makeup flawless<\/a>, tas branded (atau setidaknya terlihat branded), sepatu baru, parfum mahal. Tak ada yang salah dengan tampil rapi dan percaya diri. Tapi kadang yang terasa bukan lagi sekadar berdandan, melainkan unjuk pencapaian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang dulu sederhana, kini datang dengan gaya metropolitan. Ada yang dulu cuek, sekarang tampil seperti selebgram. Saling memuji ketika bukber, tapi di balik senyum ada tatapan yang seperti sedang mengukur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOh, sekarang kamu makin stylish ya.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKurus banget sekarang, diet ya?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalimatnya terdengar manis, tapi terasa seperti penilaian terselubung. Bukber berkedok reuni berubah menjadi panggung kecil untuk menunjukkan siapa yang paling \u201cberhasil\u201d glow up sejak terakhir kali bertemu.<\/span><\/p>\n<h2><b>Adu gaji<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah makanan datang dan suasana mulai hangat, topik yang tak pernah gagal muncul adalah pekerjaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSekarang kerja di mana?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cUdah berapa lama di situ?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201c<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hidup-dengan-gaji-umr-itu-indah-tapi-bohong\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Gajinya lumayan dong pasti?<\/a>\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaan itu mungkin terdengar biasa. Tapi ketika mendengarnya dengan nada tertentu, saya malah merasa lagi wawancara kerja, bukan bukber. Apalagi kalau ada yang dengan bangga menyebut angka, fasilitas kantor, atau bonus tahunan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang bekerja di perusahaan besar otomatis menjadi pusat perhatian. Tapi bagaimana dengan yang masih kontrak, belum punya kerja, dan yang sedang bertahan di pekerjaan yang tak sesuai passion?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami hanya bisa tersenyum, mengalihkan pembicaraan, atau menjawab sekenanya. Di tengah riuh tawa bukber, ada perasaan kecil yang pelan-pelan menggerogoti: apakah nilai diri sekarang ditentukan oleh nominal slip gaji?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukber yang katanya untuk mempererat hubungan, malah membuat sebagian orang pulang dengan perasaan tak cukup.<\/span><\/p>\n<h2><b>Adu kerjaan: Siapa paling bergengsi jadi pusat perhatian di kala bukber berkedok reuni<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak berhenti di soal gaji, obrolan biasanya naik level ke jabatan dan pencapaian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAlhamdulillah, baru naik posisi.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagi-lagi, tak ada yang salah dengan berbagi kabar baik ketika reuni. Justru kita seharusnya ikut senang. Tapi suasana bukber malah berubah jadi kompetitif. Tanpa sadar, orang-orang mulai membandingkan jalur hidup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teman yang berani menikah duluan merasa lebih \u201cmapan\u201d. Mereka yang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tipe-orang-yang-nggak-cocok-punya-rumah-sendiri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sudah punya rumah<\/a>, merasa lebih \u201cstabil\u201d. Lalu, yang sudah bawa anak ketika bukber, merasa lebih \u201cdewasa\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara yang belum menikah? Ditanya kapan punya momongan. Belum punya rumah? Bisa nabung nggak sih. Karier mentok segitu doang? Hidupmu tuh ngapain aja? Seolah-olah hidup punya timeline seragam yang wajib dipatuhi. Bukber menjadi ruang evaluasi tak resmi: siapa yang sudah sampai mana.<\/span><\/p>\n<h2><b>Ujung-ujungnya, bukber berkedok reuni jadi ajang adu nasib<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua kembali pada satu hal: nasib. Padahal kita tak pernah benar-benar tahu isi perjuangan masing-masing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada yang kelihatan glamor, ternyata menderita karena banyak cicilan. Teman datang bukber kelihatan bahagia, ternyata pernikahannya di ujung tanduk. Jangan lupa, yang kelihatan santai, nyatanya menyimpan kecemasan tentang masa depan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, di meja bukber, yang terlihat hanya permukaan. Dan permukaan itulah yang dibandingkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ironisnya, setelah acara selesai dan foto-foto diunggah ke media sosial, semua tampak harmonis. Caption-nya penuh kata \u201csilaturahmi\u201d, \u201ckebersamaan\u201d, dan \u201cmasyaAllah reuninya seru banget\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukber tetap bisa menjadi momen yang tulus, jika niatnya memang untuk menyambung hubungan, bukan <a href=\"https:\/\/www.idntimes.com\/life\/relationship\/alasan-mutlak-leo-malas-datang-ke-acara-reuni-sekolah-00-2lnkv-q6w4z2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">membandingkan pencapaian<\/a>. Masalahnya bukan pada acaranya, tapi pada mindset yang kita bawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau datang hanya untuk validasi, maka yang kita cari adalah pengakuan. Bukber hanya untuk, kamu hanya akan menemukan kecemasan. Tapi, kalau datang untuk benar-benar mendengar kabar dan berbagi cerita, suasananya akan berbeda.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin, yang perlu kita ubah bukan tradisinya, melainkan cara kita memaknainya. Bukber kini hanya sebatas scam karena kita menjadikannya ajang kompetisi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Intan Permata Putri<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-alasan-yang-bikin-saya-malas-datang-bukber\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">4 Alasan yang Bikin Saya Malas Datang Bukber, Bukan Cuma karena Jadi Ajang Pamer<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini\u00a0<\/i><\/a><i>ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bukber berkedok reuni itu, di zaman sekarang, terasa seperti scam. Bukan jadi ajang silaturahmi, tapi jadi ajang &#8220;bunuh teman&#8221; sendiri. <\/p>\n","protected":false},"author":3172,"featured_media":393925,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[504,317,318,6489,32654,32653,109,11527],"class_list":["post-393901","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-batal-puasa","tag-buka-bersama","tag-bukber","tag-bukber-ramadan","tag-bukber-reuni","tag-menu-bukber","tag-puasa","tag-puasa-ramadan"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/393901","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3172"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=393901"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/393901\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":393924,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/393901\/revisions\/393924"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/393925"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=393901"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=393901"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=393901"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}