{"id":393472,"date":"2026-02-25T16:03:36","date_gmt":"2026-02-25T09:03:36","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=393472"},"modified":"2026-02-25T16:04:59","modified_gmt":"2026-02-25T09:04:59","slug":"momen-pulang-dari-jawa-ke-lembata-ntt-dipenuhi-rasa-kaget","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/momen-pulang-dari-jawa-ke-lembata-ntt-dipenuhi-rasa-kaget\/","title":{"rendered":"Momen Pulang ke Lembata NTT Setelah Sekian Lama Merantau di Jawa Diliputi Rasa Kaget, Kampung Halaman Banyak Berubah"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya akhirnya bisa pulang ke kampung halaman di Kabupaten Lembata NTT setelah sekian lama merantau ke Jawa. Selain rasa rindu, ada semacam rasa kaget ketika pulang. Kampung halaman saya berubah ke versi lain. Masih bisa dikenali, hanya terasa berbeda saja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Agar kalian bisa ikut membayangkannya, pulang ke Lembata NTT setelah sekian lama merantau itu seperti mendengar lagu lawas yang diaransemen ulang. Lagunya sama, liriknya tak banyak berubah, tapi terasa berbeda karena diberi aransemen yang mengikuti zaman.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Itu mengapa, pengalaman pulang kampung yang saya pikir akan biasa saja, justru banyak <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/5-hal-wajar-di-pati-yang-nggak-lumrah-di-jogja-bikin-syok\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">culture shock<\/a>-nya.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Lembata NTT jadi punya jalan bagus dan banyak gedung baru\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejauh ingatan saya, perjalanan dari kota ke kampung itu memakan waktu sekitar 1 jam. Jalanan waktu itu memang sudah aspal, tapi banyak lubang. Bahkan, beberapa lubang sangatlah dalam. Apabila hujan datang, airnya akan menggenang di sana seperti kolam.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu ada jalur yang kondisinya masih tanah. Jadi kalau panas akan sangat berdebu, sementara ketika hujan akan sangat licin dan berlumpur. Kondisi itu membuat jalur ini sangat menakutkan ketika dilalui malam hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, setelah bertahun-tahun merantau dan kembali lagi ke sana, jalanan kini sudah mulus. Setidaknya bisa buat ngebut. Durasi tempuhnya pun jadi hanya 30 menit dari kota ke kampung saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu hal seperti ini memudahkan aspek lain. Mulai dari logistik yang lebih lancar ketika ada keadaan darurat seperti ada yang sakit, ambulance pun jadi lebih cepat. Kampung saya terasa jadi lebih dekat dari dunia luar.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain jalan, perubahan lain di Lembata NTT yang menyita perhatian adalah gedung baru. Sewaktu kecil, banyak lahan kosong. Dan, itu jadi ruang paling ideal dan demokratis karena siapapun boleh datang, tidak ada waktu baku, dan bisa digunakan untuk bermain apapun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya ingat dahulu ada sebuah lahan kosong persis di sebelah sekolahan. Di situ saya dan kawan-kawan bermain bola. Kini di sana sudah berdiri gedung lumayan tinggi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat kenyataan ini sebenarnya ada rasa sedih. Bukan cuma kehilangan tempat, tapi juga kebiasaan-kebiasaan konyol yang saya dan kawan-kawan lakukan dulu. Tempat menunggu teman, tempat berdiskusi soal hal-hal aneh, atau berdebat soal siapa yang pantas menjadi striker saat bermain bola nanti.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Bepergian terasa lebih dekat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dahulu rasanya jarak satu lokasi dengan lokasi lain itu begitu jauh. Tapi, sekarang jadi lebih dekat. Entah kenapa, waktu kecil jalan kaki atau sepeda ke lokasi A yang jarak 5 km terasa jauh. Jauh di sini bukan maksudnya bikin capek, tapi lebih ke banyak hal yang dilalui dan merasa akan repot kalau orang tua tahu. Tapi saat dewasa dan melalui rute yang sama, ternyata jaraknya pendek, cepat, dan cuma segitu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisi itu bikin merasa kampung jadi terasa makin mengecil. Padahal ya memang dari dulu cuma segitu-gitu aja jaraknya. Versi diri yang dulu sepertinya terlalu meromantisasi dan hiperbolis ketika main di tetangga jauh, sudah dianggap seperti merantau.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-orang-ntt-lebih-pilih-kuliah-di-jogja-dibanding-kota-lain\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em>Baca juga Alasan Orang-Orang NTT Lebih Memilih Merantau Kuliah ke Jogja daripada Kota Besar Lainnya.<\/em><\/a><\/p>\n<h2><b>#3 Di Lembata NTT mulai muncul toko-toko besar<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Lembata NTT mulai bermunculan toko-toko besar. Tentu saya kaget ketika di daerah saya sudah berdiri toko serba guna Mr. DIY. Ini jadi kemajuan peradaban yang signifikan di daerah saya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setidaknya, warga Lembata sudah bisa lebih update dengan barang keluaran terbaru dengan kualitas yang bagus. Contoh sederhana tumbler. Setidaknya nggak terbatas pada pilihan toko perabotan yang kualitasnya tentu tidak sebagus di <a href=\"https:\/\/www.mrdiy.com\/id\/tentang-kami\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">MR.DIY<\/a>. Hanya saja, hingga saat ini belum kelihatan tanda-tanda berdirinya Indomaret atau Alfamart di sana.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Masuknya sinyal internet mengubah banyak hal\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudahan akses internet juga dirasakan di Lembata NTT. Kemudahan ini mengubah banyak hal di sana. Kalau ingat jaman dulu, sekadar telpon saja ada lokasi khusus di kampung. Nggak sembarangan telponan di dalam atau halaman rumah. Soal internet tentu lebih parah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, ketika <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/korupsi-masa-aktif-kuota-data-internet-28-hari-merugikan-pelanggan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">internet<\/a> masuk seperti sekarang, budaya nongkrong pun bergeser. Dulu banyak bercerita, kini kita banyak menunduk, entah mabar game online, atau sibuk dengan media sosial masing-masing. Kondisi itu tentu bikin saya kaget tapi di sisi lain mewajarkan. Sebab di zaman sekarang, kehidupan manusia memang lebih banyak dihabiskan di layar gawai.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/6-fakta-tentang-nusa-tenggara-timur-yang-harus-kalian-tahu\/\"><em>Baca juga 6 Fakta Tentang Nusa Tenggara Timur yang Harus Kalian Tahu.<\/em><\/a><\/p>\n<h2><b>#5 Teman-teman menjalani hidup masing-masing<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terakhir dan yang paling bikin syok adalah teman-teman yang sudah menikah dan punya anak. Di sini saya merasa <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/yang-merantau-dan-yang-tak-pernah-berniat-pulang-kampung\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pulang kampung<\/a> itu bukan kembali ke waktu yang sama, tapi datang bertamu ke fase hidup orang lain. Sebab teman-teman saya yang sudah menikah tentu punya kehidupan yang jauh berbeda dari yang dulu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Status membuat pembicaraan soal nostalgia masa kecil hanya sebagai pemanis, inti bicaranya sudah beralih soal pekerjaan, anak, pasangan, mertua, dan hal lain yang kadang bikin saya gagap untuk merespon. Lah mau merespon bagaimana kalau saya sendiri masih belum menikah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari semua perasaan itu, pada akhirnya saya merasa culture shock saya ini bukan hanya soal Lembata yang berubah, tapi juga diri sendiri yang memang pulang dengan versi yang berbeda. Tapi, yang jelas, kampung halaman selalu bisa menjadi cermin yang memantulkan dua wajah sekaligus, yaitu wajah masa kecil yang masih ingin percaya semuanya tidak berbuah, dan wajah dewasa yang sadar bahwa waktu tidak pernah berhenti menata ulang apapun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA\u00a0 <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nestapa-hidup-di-kabupaten-lembata\/\"><b><i>Nestapa Hidup di Kabupaten Lembata<\/i><\/b><\/a><b>.<\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pulang ke Lembata NTT setelah sekian lama merantau ke Jawa menimbulkan syok karena kampung halaman sudah banyak berubah. <\/p>\n","protected":false},"author":232,"featured_media":393479,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[623,32587,19945,29445,1418,1161,5807,355],"class_list":["post-393472","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jawa","tag-kampng-halaman","tag-lembata","tag-lembata-ntt","tag-merantau","tag-ntt","tag-perantau","tag-pulang-kampung"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/393472","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/232"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=393472"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/393472\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":393483,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/393472\/revisions\/393483"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/393479"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=393472"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=393472"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=393472"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}