{"id":393450,"date":"2026-02-25T15:33:38","date_gmt":"2026-02-25T08:33:38","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=393450"},"modified":"2026-02-25T15:33:38","modified_gmt":"2026-02-25T08:33:38","slug":"ironi-lumajang-dekat-dengan-laut-tapi-sulit-menemukan-seafood","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ironi-lumajang-dekat-dengan-laut-tapi-sulit-menemukan-seafood\/","title":{"rendered":"Ironi Lumajang: Dekat dengan Laut, tapi Sulit Menemukan Seafood"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada paradoks yang terjadi di Lumajang, ia dekat dengan akses laut, tapi sulit menemukan makanan seafood. Padahal, Lumajang secara geografis memiliki garis pantai<\/span><a href=\"https:\/\/diskan.lumajangkab.go.id\/profil\/index\/1\"><span style=\"font-weight: 400;\"> seluas 75 km<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Namun, untuk menemukan makanan seafood di tempat kuliner, susahnya bukan main.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari lima tempat makan di area kota Lumajang yang sudah saya singgahi, hanya satu tempat yang punya sajian menu makanan seafood. Itu pun pilihannya hanya cumi dan udang. Ketika saya menyusuri area sentra kulinernya yang berjejer PKL makanan, mata saya tidak menemukan pedagang yang menjual makanan seafood. Kebanyakan tempat kuliner di Lumajang, menawarkan ikan tawar, seperti lele, mujair, nila, dan gurami.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sulitnya menemukan makanan seafood di Lumajang, menjadi semacam kerikil bagi wisatawan ketika berlibur. Sebab, mereka berekspektasi ingin makan seafood karena Lumajang dekat dengan laut, tapi ternyata pas sampai di sana, sulit menemukannya. Seperti kakak kelas saya yang curhat, bingung nyari makanan seafood di Lumajang.<\/span><\/p>\n<h2><b>Faktanya, memang konsumsi ikan di Lumajang begitu rendah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, ini bukan salah penjual makanan. Apa yang dilakukan oleh penjual makanan di Lumajang bertujuan untuk menghindar dari kerugian. Soalnya, makan ikan laut bagi masyarakat Lumajang, masih belum menjadi kebiasaan. Berbeda dengan masyarakat Madura, ikan laut seperti menjadi makanan wajib di meja makan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini terbukti dari data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, jumlah konsumsi ikan masyarakat Lumajang di tahun 2017<\/span><a href=\"https:\/\/www.medcom.id\/ekonomi\/mikro\/GNGBgELK-kkp-genjot-konsumsi-ikan-masyarakat-lumajang#google_vignette\"><span style=\"font-weight: 400;\"> hanya 18 kg<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> per kapita. Angka itu naik menjadi<\/span><a href=\"https:\/\/radarjember.jawapos.com\/lumajang\/791099198\/ratarata-konsumsi-ikan-rendah\"> <span style=\"font-weight: 400;\">23 kilogram per orang<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> di tahun 2020. Meski naik, angka tersebut masih berada di bawah rata-rata konsumsi ikan di Jawa Timur sebesar 45 kg per orang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penyebab minimnya masyarakat Lumajang mengonsumsi ikan laut dibentuk oleh budaya yang menilai sebagai sajian kurang enak. Masyarakat Lumajang menilai kalau ikan laut punya bau amis dan banyak tulangnya. Jadinya pas dikonsumsi kurang menikmati.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa keluarga saya di Lumajang, merasa enggan untuk makan ikan laut. Tapi tidak semua masyarakat Lumajang menganggap ikan laut sebagai sajian kurang enak. Ada juga keluarga saya yang masih mau untuk mengonsumsi ikan laut, tapi tetap saja, mereka lebih memilih untuk makan ikan tawar.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lumajang-bikin-sinting-slow-living-malah-tambah-pusing\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>BACA JUGA: Lumajang Sangat Tidak Cocok Jadi Tempat Slow Living: Niat Ngilangin Pusing dapatnya Malah Sinting<\/strong><\/a><\/p>\n<h2><b>Akses ke ikan laut terbilang sulit<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan hanya masalah budaya, dari segi ekonomi, akses masyarakat Lumajang untuk membeli ikan laut terbilang sulit. Ini terjadi karena di pasar dan warung kecil, jarang yang menjajakan ikan laut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebetulan rumah saya yang di Lumajang, selalu melewati pasar. Setiap lewat pasar, sejauh mata saya memandang hanya melihat ayam dan ikan tawar yang dijual pedagang. Terus ketika mengantarkan mama ke warung kecil untuk membeli lauk, ikan laut yang dijual mentok hanya ikan tongkol. Ada juga yang menjual cumi dan udang, tapi sudah tidak fresh dan jumlahnya sedikit.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sangat jauh berbeda dengan Sumenep, di pasarnya banyak sekali jenis-jenis ikan laut yang dijual oleh pedagang. Selain banyak, kondisi ikannya masih fresh.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sulitnya ketersediaan ikan laut di pasaran, terjadi karena suplai yang masih terbilang minim. Sebab, nelayan-nelayan di Lumajang mencari ikan hanya menggunakan perahu kecil sehingga kuantitas tangkapannya juga minim. Perahu kecil hanya bisa berlayar sejauh 4 mil. Berbeda dengan kapal yang bisa berlayar puluhan mil. Ditambah lagi, ombak di laut Lumajang besar karena berada di laut selatan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyaknya nelayan Lumajang menggunakan perahu kecil saat menangkap ikan disebabkan oleh tidak adanya dermaga. Pemerintah Lumajang mengakui, ketiadaan dermaga membuat hasil tangkapan ikan menjadi tidak maksimal. Menurut data dari Dinas Perikanan dan Kelautan, hasil tangkap ikan di Lumajang pada tahun<\/span><a href=\"https:\/\/lumajangsatu.com\/baca-16801-tak-miliki-dermaga-potensi-ikan-tangkap-laut-lumajang-tak-maksimal\"> <span style=\"font-weight: 400;\">2022 hanya 6.600 ton<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Masih jauh dari angka prima yang harusnya 38 ribu ton.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/cara-menjelaskan-letak-kabupaten-lumajang-biar-mudah-dipahami\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>BACA JUGA: Cara Saya Jelaskan Letak Kabupaten Lumajang biar Mudah Dipahami<\/strong><\/a><\/p>\n<h2><b>Jangan berharap banyak pada Lumajang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka, bagi wisatawan pencinta seafood yang berlibur ke Lumajang, harus ekstra sabar dan telaten untuk mencarinya. Bukan berarti Lumajang benar-benar tidak menjadi \u201csurga\u201d bagi para pencinta seafood. Kalau ingin mencicipi seafood yang komplit dan rasanya enak, harus datang dulu ke daerah pantainya, misalnya saja di Pantai Watu Pecak.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Watu Pecak, banyak penjual seafood dengan berbagai aneka pilihan, mulai dari cumi, udang, kepiting, dan berbagai jenis ikan laut lainnya. Secara rasa, bagi lidah saya, makanan seafood di Watu Pecak punya rasa yang nampol karena bumbunya meresap, punya banyak varian sambal, dan masih fresh. Cuman buat datang ke Watu Pecak, harus menempuh jarak yang lama, sekitar satu jam.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah ikan laut, menjadi PR besar bagi pemerintah Lumajang, selain perihal begal. Pemerintah daerah harus memikirkan jalan kebudayaan yang tepat untuk mengubah cara pandang masyarakat tentang ikan laut. Sehingga kemelut sulitnya menemukan makanan seafood bisa segera diatasi. Apalagi dengan potensi laut yang dimiliki, sangat disayangkan jika pemerintah acuh terhadap infrastruktur nelayan dalam mencari mata pencaharian.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oh iya, saya ingat kalau bupati dan wakil bupati sekarang punya janji kampanye untuk memberi modal buat pedagang pasar. Kata saya, ini waktu yang tepat untuk mencari solusi perihal stok ikan laut. Karena pemerintah bisa memberi bantuan modal berupa stok ikan laut kepada pedagang pasar.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Akbar Mawlana<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kabupaten-lumajang-belum-pantas-jadi-kota-tujuan-wisata-banyak-begal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Meski Dianugerahi dengan Keindahan Alam yang Tiada Banding, Kabupaten Lumajang Belum Pantas Jadi Kota Tujuan Wisata, Banyak Begal!<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada paradoks yang terjadi di Lumajang, ia dekat dengan akses laut, tapi sulit menemukan makanan seafood. Kok bisa?<\/p>\n","protected":false},"author":891,"featured_media":393469,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[27132,13873,32586,11903],"class_list":["post-393450","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-ikan-laut","tag-lumajang","tag-makanan-khas-lumajang","tag-seafood"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/393450","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/891"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=393450"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/393450\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":393473,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/393450\/revisions\/393473"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/393469"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=393450"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=393450"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=393450"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}