{"id":393250,"date":"2026-02-24T10:18:47","date_gmt":"2026-02-24T03:18:47","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=393250"},"modified":"2026-02-26T06:55:58","modified_gmt":"2026-02-25T23:55:58","slug":"mudik-ke-jogja-itu-bukan-liburan-tapi-kunjungan-kerja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mudik-ke-jogja-itu-bukan-liburan-tapi-kunjungan-kerja\/","title":{"rendered":"Mudik ke Jogja Itu Bukan Liburan tapi Kunjungan Kerja karena Semua Menjadi Budak Validasi, Bikin Saya Rindu Mudik ke Lamongan"},"content":{"rendered":"<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Menikahi perempuan Jogja adalah privilege tertinggi bagi saya, lelaki pesisir Lamongan yang tumbuh dengan debu Pantura dan aroma ikan asin. Saya bisa mudik ke kota healing.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam bayangan naif saya dulu, memiliki kampung halaman istri di Jogja yang terkenal serunya berarti memiliki &#8220;jaring pengaman kewarasan&#8221;. Sebuah tempat pelarian sakral di mana saya bisa mudik sambil berwisata semaunya, menggelar tikar di teras rumah mertua, mendengarkan suara jangkrik, dan menikmati waktu yang berjalan lambat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, liburan kemarin menyadarkan saya bahwa definisi &#8220;mudik&#8221; ke Jogja sudah bergeser jauh. Bagi saya, mudik itu seharusnya kembali ke masa lalu. Kembali ke kesunyian desa dan jalanan lengang di mana hambatan terbesar hanyalah rombongan kambing yang menyeberang atau jemuran gabah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi Jogja? Ah, Jogja hari ini bukan lagi sebuah &#8220;kampung halaman&#8221;. Ia telah berubah menjadi Kota Tujuan Wisata yang terlalu glowing, terlalu estetik, dan jujur saja <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menikmati-kemacetan-jogja-dengan-elegan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">terlalu bising<\/a> untuk disebut tempat istirahat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mudik ke Jogja rasanya bukan seperti pulang ke rumah nenek. Ini malah mirip ikut rombongan study tour anak SMA yang tak kunjung usai.<\/span><\/p>\n<p>Baca juga: <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sandwich-generation-duitnya-ludes-tiap-mudik\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sandwich Generation Merantau demi Perbaiki Ekonomi, Eh Duit Malah Ludes Tiap Mudik<\/a><\/p>\n<h2><b>Macet di Jogja, yang katanya kampung halaman<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kegalauan pertama terjadi di atas aspal. Kalau mudik ke Lamongan, macet itu terjadi di perjalanan (proses), bukan di tujuan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Macet di Pantura wajar karena volume kendaraan atau perbaikan jalan. Tapi begitu menuju, atau bahkan jauh sebelum gapura \u201cSelamat Datang di Kabupaten Lamongan\u201d jalanan kosong melompong. Kita bisa napas lega.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mudik ke Jogja adalah tentang anomali. Perjalanan dari Bekasi lancar jaya via Tol Trans Jawa. Tapi begitu keluar pintu tol dan masuk area provinsi ini, neraka justru baru dimulai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya terjebak macet parah bukan di jalan raya antar-provinsi, melainkan di jalan-jalan dekat rumah mertua saya. Jalanan yang lebarnya pas-pasan untuk dua mobil itu kini dipadati oleh kendaraan plat B, F, D, dan bus-bus pariwisata berukuran raksasa yang manuvernya bikin jantungan. Ini membingungkan mental saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Lho, saya ini sudah sampai kampung, kok masih macet?&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya mudik untuk menghindari macet Bekasi. Tapi ternyata, saya membawa kemacetan itu bersama saya ke sini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Lamongan, saya hanya berhenti kalau ada kambing atau kereta melintas. Di sini, saya berhenti karena ada rombongan jeep wisata Merapi atau bus yang mau parkir ke pusat oleh-oleh. Rasanya saya tidak sedang mudik, tapi sedang terjebak di area parkir Dufan yang meluber satu provinsi.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mudik-ke-jogja-itu-bukan-liburan-tapi-kunjungan-kerja\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: Rasanya bukan mudik, tapi kunjungan kerja.<\/strong><\/em><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>Mudik artinya antre demi sebuah nostalgia bernama Gudeg Sagan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Malam harinya di Jogja, istri mengajak makan malam nostalgia. &#8220;Ke <a href=\"https:\/\/jogja.idntimes.com\/food\/dining-guide\/harga-dan-menu-gudeg-sagan-jogja-terbaru-mulai-rp12-ribuan-c1c2-01-5fz5v-h7kwvz\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Gudeg Sagan<\/a> yuk, Mas. Kangen nih,&#8221; ajaknya dengan mata berbinar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai suami yang baik, saya mengangguk. Ekspektasi saya tentang makan malam di kampung halaman adalah: Masuk warung sederhana, ibu-ibu penjual menyambut dengan ramah, duduk santai, makan dengan tenang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Realitanya? Kami harus mengambil nomor antrean. Ya, makan gudeg pakai nomor antrean, persis seperti mau mengurus paspor di kantor imigrasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Resto itu penuh sesak. Orang-orang berdiri gelisah menunggu meja kosong. Suara riuh rendah percakapan bercampur dengan denting sendok garpu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika akhirnya makanan datang, saya melihat istri saya makan dengan bahagia. Tapi bagi saya, kenikmatan itu berkurang drastis. Gudegnya memang enak (meski manisnya masih bikin lidah Lamongan saya culture shock), tapi suasananya? Nol besar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak ada keintiman. Tidak ada obrolan santai karena kami sadar ada orang lain yang berdiri di samping meja dengan tatapan, &#8220;Cepat selesaikan makanmu, giliran kami duduk&#8221;.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Lamongan, makan di warung pecel lele adalah momen sakral. Penjualnya kenal nama bapak kita. Kita bisa ngobrol ngalor-ngidul soal harga pupuk kandang atau gosip pilkada. Di Jogja, makan adalah transaksi cepat di tengah hiruk-pikuk industri pariwisata.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jebakan \u201chealing\u201d di HeHa Mountain View<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Puncak dari &#8220;hilangnya rasa mudik&#8221; ini terjadi besoknya, ketika kami pergi ke Heha Mountain View, yang terkenal akan keindahannya. Kami menempuh perjalanan menanjak ke arah Patuk yang padat merayap.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sesampainya di sana, definisi &#8220;healing&#8221; saya hancur lebur. HeHa bukanlah tempat menikmati alam. Ia adalah sebuah Studio Foto Outdoor Raksasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur saja, pemandangannya memang indah sekali. Lampu kota Jogja kelap-kelip di kejauhan. Tapi bisakah kita menikmatinya? Tidak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mata pengunjung tidak tertuju ke horizon, tapi ke layar hape. Di setiap sudut ada antrean manusia yang ingin berfoto di spot-spot buatan: Balon udara palsu, teras kaca, atau bingkai-bingkai neon.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya mengamati sekeliling. Tidak ada yang duduk diam meresapi angin gunung. Semua sibuk dengan pose, angle, dan pencahayaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya melihat fenomena ini bukan sebagai liburan, tapi sebagai Kerja Rodi Digital. Kita bayar tiket masuk, bayar parkir, macet-macetan, hanya untuk bekerja menjadi model dan fotografer bagi akun media sosial kita sendiri.<\/span><\/p>\n<h2><b>Mudik ke Jogja adalah soal kebahagiaan istri<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMas, sini foto aku udah pasang tripod,\u201d kata istri saya memanggil dari salah satu spot. \u201cOke gass, Dik!\u201d jawab saya semangat. (Dalam hati saya mengakui: Pemandangannya bagus juga, kan sayang kalau nggak foto).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya, saya yang niatnya mau mudik dan istirahat dari pekerjaan di Bekasi, malah beralih profesi menjadi tukang foto dadakan. Satu jepretan, 10 jepretan, 50 jepretan, keringat bercucuran. Tapi, melihat dia tersenyum puas saat melihat hasil fotonya, ya sudahlah. Itulah healing versi saya hari itu: melihatnya bahagia (dan tidak ngomel).&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Lamongan, kalau mau lihat pemandangan, saya tinggal jalan ke pematang sawah atau duduk di tanggul Bengawan Solo, gratis, sepi. Hanya ada saya, angin, dan mungkin seekor kerbau. Itu baru namanya healing.<\/span><\/p>\n<p>Baca juga: <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/begini-rasanya-nggak-pernah-mudik-lebaran-sejak-lahir\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Begini Rasanya Nggak Pernah Mudik Lebaran Sejak Lahir<\/a><\/p>\n<h2><b>Jogja: Kampung halaman milik semua orang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam perjalanan pulang dari HeHa, sambil menyetir menembus kemacetan Jalan Wonosari, saya merenung. Mungkin masalahnya bukan pada Jogja. Kota ini terlalu terkenal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akibatnya, Jogja bukan lagi milik warganya atau para pemudik seperti saya. Jogja sudah menjadi milik Indonesia. Milik semua orang yang butuh validasi liburan. Ketika sebuah kota menjadi &#8220;Kota Wisata&#8221;, ada harga mahal yang harus dibayar: Hilangnya privasi dan keheningan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi yang lain, ini mungkin tetap menyenangkan. Tapi bagi saya, pria Lamongan yang mendambakan definisi mudik yang purba, pulang ke sunyi, pulang ke lambat, Jogja terasa melelahkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya jadi sadar, mudik ke Jogja itu bukan liburan. Itu adalah kunjungan kerja. Kerja menahan emosi di jalan, kerja mengantre makanan, dan kerja menjadi fotografer dadakan.Mungkin tahun depan, kalau mau benar-benar merasakan &#8220;mudik&#8221; yang tenang, saya tidak akan mengajak istri pulang ke Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya akan ajak dia ke Lamongan saja. Kita duduk di pinggir tambak, makan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/di-mana-ada-lahan-di-situ-ada-warung-pecel-lele-lamongan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pecel lele<\/a> yang asin pedas, makan rujak petis, dan menikmati kemewahan hakiki: Jalanan yang sepi dan tidak ada bus pariwisata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Akhmad Yunus Vixroni<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hal-normal-di-lamongan-tapi-susah-ditemukan-di-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">5 Hal Normal di Lamongan tapi Susah Ditemukan di Jogja, Bikin Culture Shock Perantau<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini\u00a0<\/i><\/a><i>ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Niatnya mudik ke Jogja untuk lari dari kesibukan. Namun, nyatanya, mudik ke Jogja bukan liburan, tapi sama kayak kunjungan kerja. <\/p>\n","protected":false},"author":3197,"featured_media":393303,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2840,30635,32552,115,2250,32553,343,355],"class_list":["post-393250","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bekasi","tag-gudeg-sagan","tag-heha-mountain-view","tag-jogja","tag-lamongan","tag-libur-lebaran","tag-mudik","tag-pulang-kampung"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/393250","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3197"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=393250"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/393250\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":393527,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/393250\/revisions\/393527"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/393303"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=393250"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=393250"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=393250"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}