{"id":393158,"date":"2026-02-23T13:26:27","date_gmt":"2026-02-23T06:26:27","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=393158"},"modified":"2026-02-23T13:26:27","modified_gmt":"2026-02-23T06:26:27","slug":"dosa-penjual-oseng-mercon-makanan-khas-jogja-paling-seksi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dosa-penjual-oseng-mercon-makanan-khas-jogja-paling-seksi\/","title":{"rendered":"Dosa Penjual Oseng Mercon Menghilangkan Statusnya Sebagai Kuliner Unik, padahal Ia Adalah Makanan Khas Jogja Paling Seksi"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau bukan karena apa yang terjadi di <a href=\"https:\/\/jogja.idntimes.com\/food\/dining-guide\/oseng-mercon-bu-narti-kuliner-malam-jogja-yang-bikin-melek-mata-00-5fz5v-ttns14\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Warung Bu Narti<\/a> pada tahun 90-an, mungkin kita nggak akan mengenal oseng mercon sebagai makanan khas Jogja. Atau bisa jadi kita nggak akan mengenal apa itu makanan yang bernama oseng mercon.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, di Warung Bu Narti inilah oseng mercon lahir. Ia lalu tumbuh, menyebar, hingga sampai sekarang menjadi salah satu identitas kuliner Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mercon, yang berarti \u2018petasan\u2019, merujuk pada sensasi rasa pedas yang panas dan meledak-ledak di dalam mulut. Lalu, apa yang mereka masak? Umumnya, oseng mercon ini isinya tetelan daging, lemak (koyor), bahkan kikil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai makanan khas Jogja, pamor oseng mercon memang nggak sebesar gudeg atau bakmi jawa. Tapi ya nggak apa-apa, memang segitu saja sudah cukup.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebetulnya, kita masih bisa menikmati kuliner satu ini. Iya, memang pedas, tapi pedasnya Jogja masih kalah jauh dengan pedasnya Jawa Timur. Kita jadi nggak bisa menikmati makanan khas Jogja satu ini karena beberapa hal yang akan saya jelaskan.<\/span><\/p>\n<p>Baca juga: <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/kuliner\/oseng-mercon-bu-narti-kuliner-super-pedas-yang-masuk-istana\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Oseng Mercon Bu Narti: Kuliner Super Pedas yang Masuk Istana<\/a><\/p>\n<h2><b>#1 Rasa pedas oseng mercon yang terlalu dominan, terlalu overpowering, dan nggak balance<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namanya saja oseng mercon. Sudah jelas pasti pedas. Dan setiap warung punya karakter yang berbeda. Sebagai orang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-makanan-khas-jawa-timur-paling-red-flag\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jawa Timur<\/a>, level pedas mereka masih enak. Beda dengan lidah Jogja, di mana rasa pedasnya terlalu tinggi sampai menghilangkan berbagai rasa yang seharusnya ada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang Jawa Timur, saya suka pedas. Tapi, ketika menjumpai makanan dengan rasa pedas terlalu dominan, ada beberapa kecurigaan yang muncul di kepala saja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama, mereka mau menyembunyikan apa kok sampai harus sepedas itu? Apakah kualitas tetelan daging dan koyor yang jelek, kualitas bumbunya rendah, atau gimana?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, kalau mau bikin makanan yang dominan rasa pedas, mengapa rasa lain kok nggak kelihatan? Mengapa rasa asin, manis, dan ngurih sampai hilang?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini yang jadi masalah dari beberapa warung oseng mercon. Rasa pedasnya itu kadang overpowering, menutupi seluruh elemen rasa. Saya paham. Kalau makanan cuma pedas saja, pasti jadinya nggak nikmat. Inilah salah satu dosa makanan khas Jogja itu.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Terlalu mahal untuk menjadi makanan khas Jogja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Harga oseng mercon itu beragam. Saya pernah mencoba beberapa warung yang membanderol harga di antara Rp20 sampai Rp30 ribu. Ada yang lebih dari Rp30 ribu dan jujur saja, agak aneh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Isinya, ya sama, seporsi olahan oseng dan nasi putih. Sekilas semuanya normal, tapi ada yang \u201cnggak beres\u201d di salah satu makanan khas Jogja ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk seporsi oseng mercon dengan harga di atas Rp30 ribu itu sudah kemahalan. Mengapa? Karena ada saja warung yang bikin harga di atas Rp30 ribu jadi nggak sebanding.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maksudnya begini. Oseng mercon itu kan tetelan daging dan lemak (koyor) yang. Namanya tetelan daging, pasti ada dagingnya, kan? Nah, terkadang kita sudah membayar lebih dari Rp30 ribu, tapi kita cuma dapat daging satu-dua potong. Sisanya lemak (koyor) semua. Bahkan nggak jarang ada yang dapat lemak, tok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasanya kayak \u201ctertipu\u201d aja. Apalagi kadang porsinya juga nggak banyak untuk harga segitu. Uang lebih dari Rp30 ribu itu sudah dapat 2 porsi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-soto-di-jogja-yang-enak-dan-cocok-bagi-lidah-orang-malang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">soto paling enak<\/a> di Jogja. Eh, udah porsinya dikit, dagingnya langka, yang dominan cuma pedas. Dosa banget.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Identitas dan jati diri yang nggak jelas<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau misal ada yang tanya dari mana asal oseng mercon? Saya berani jamin sebagian besar, nggak akan bilang Jogja. Situasinya mirip ayam geprek. Ia asli Jogja, tapi kadang orang nggak percaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi ya memang begitu kenyataannya. Sebagai salah satu makanan khas Jogja, oseng mercon nggak punya identitas yang kuat. Oseng mercon ini nggak punya sesuatu yang Jogja banget gitu, lho. Nggak kayak gudeg atau bakmi Jawa. Atau mungkin karena usia kuliner ini jauh lebih muda dari gudeg dan bakmi Jawa saja? Entah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, satu hal yang pasti, Jogja punya kuliner pedas itu kabar baik. Memang, identitasnya jadi rada kabur dan banyak orang nggak percaya. Tapi, ketika ada kuliner yang menambah kekayaan khazanah sebuah daerah, itu tetap kabar baik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Situasi jadi sedikit runyam ketika ada warung yang nggak \u201csesuai dengan pakem\u201d. Seperti yang saya jelaskan di atas, antara pedasnya terlalu dominan sampai menghilangkan rasa lain, sampai mematok harga terlalu tinggi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ingat, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hindari-gudeg-jogja-yang-sudah-terkenal-karena-pasti-mahal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">gudeg<\/a> dengan harga di atas Rp30 ribu saja sudah kita anggap terlalu mahal. Gimana dengan oseng mercon, yang isinya cuma koyor, pedasnya dominan sampai cuma terasa pahit? Omong kosong, lah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yah, pada akhirnya, menyandang status sebagai makanan khas Jogja memang berat. Meski pada intinya, di mata saya, oseng mercon adalah makanan khas Jogja paling seksi. Ia berbeda dan (sebetulnya) nikmat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Iqbal AR<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/makanan-khas-jogja-yang-menyimpan-bahaya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">3 Makanan Khas Jogja yang Menyimpan Bahaya apalagi jika Kamu Punya Riwayat Penyakit Tertentu<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini\u00a0<\/i><\/a><i>ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oseng mercon seharusnya menjadi makanan khas Jogja yang menyenangkan. Namun, ada saja &#8220;dosa&#8221; yang diperbuat oleh penjualnya.<\/p>\n","protected":false},"author":75,"featured_media":393160,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[13476,2374,32548,4418,32546,1582,21739,32545,32547],"class_list":["post-393158","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-bakmi-jawa","tag-gudeg","tag-koyor","tag-kuliner-jogja","tag-kuliner-pedas","tag-makanan-khas-jogja","tag-oseng-mercon","tag-oseng-mercon-bu-narti","tag-rekomendasi-kuliner-pedas"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/393158","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/75"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=393158"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/393158\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":393162,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/393158\/revisions\/393162"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/393160"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=393158"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=393158"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=393158"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}