{"id":392787,"date":"2026-02-21T14:13:15","date_gmt":"2026-02-21T07:13:15","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=392787"},"modified":"2026-02-22T13:23:24","modified_gmt":"2026-02-22T06:23:24","slug":"4-alasan-yang-bikin-saya-malas-datang-bukber","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-alasan-yang-bikin-saya-malas-datang-bukber\/","title":{"rendered":"4 Alasan yang Bikin Saya Malas Datang Bukber, Bukan Cuma karena Jadi Ajang Pamer"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buka bersama atau bukber seharusnya jadi momen yang menyenangkan. Ramadan identik dengan silaturahmi, saling memaafkan, dan mempererat hubungan yang mungkin sempat renggang karena kesibukan masing-masing. Tapi entah kenapa, makin ke sini saya justru sering merasa malas setiap kali ada notifikasi undangan bukber di grup WhatsApp.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan karena saya anti kumpul. Bukan juga karena tidak suka teman-teman lama. Hanya saja, ada beberapa hal yang bikin semangat itu tidak lagi sebesar dulu. Dan ini bukan cuma soal ajang pamer \u201csi paling sukses\u201d yang dengan santainya menaruh ID card kantor ternama atau kunci mobil di atas meja seolah itu bagian dari dress code bukber.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada alasan-alasan lain yang lebih sederhana tapi cukup menguras energi.<\/span><\/p>\n<h2><b>Malas OTW bukber, apalagi kalau jauh dan macet<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alasan pertama, tentu saja, perjalanan menuju lokasi. Bukber hampir selalu dijadwalkan menjelang magrib. Artinya, kita harus berangkat sore hari saat jalanan sedang padat-padatnya. Pulang kerja saja sudah melelahkan, ditambah harus menerobos macet demi sampai ke restoran yang katanya \u201cstrategis\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sering kali lokasi yang dipilih memang dianggap tengah-tengah, tapi tetap saja ada yang merasa kejauhan. Saya termasuk yang sering merasa lokasi bukber itu tidak pernah benar-benar dekat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lagi urusan parkir. Sampai di tempat, cari parkir susah. Sudah capek di jalan, tambah stres karena muter-muter cari slot kosong. Rasanya energi sudah terkuras bahkan sebelum duduk dan buka puasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kadang saya berpikir, kenapa harus sejauh ini kalau sebenarnya bisa buka puasa dengan tenang di rumah?<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/alasan-orang-sleman-malas-bukber-ke-bantul\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>BACA JUGA: 3 Alasan Orang Sleman Malas Bukber ke Bantul, Selain Karena Egois dan Jogja Selatan Isinya Gondes<\/strong><\/a><\/p>\n<h2><b>Makanannya mahal dan tidak sesuai selera<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini juga sering terjadi. Tempat bukber biasanya dipilih yang sedang viral atau terlihat estetik di media sosial. Paket Ramadan dibanderol ratusan ribu rupiah per orang. Katanya biar \u201csekalian momen\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi jujur saja, tidak semua orang nyaman dengan konsep seperti itu. Saya pribadi lebih suka makanan sederhana tapi benar-benar sesuai selera. Daripada bayar mahal demi suasana dan foto-foto, saya lebih menghargai rasa dan kenyamanan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sering kali menu yang dipilih terlalu fancy atau terlalu berat. Kita sudah kenyang minum dan makan <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Takjil\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">takjil,<\/a> lalu harus menghabiskan menu utama yang porsinya besar. Akhirnya banyak yang tidak habis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ironisnya, yang paling dinikmati justru obrolannya, bukan makanannya. Jadi apakah perlu semahal itu?<\/span><\/p>\n<p><strong>Baca halaman selanjutnya<\/strong><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-alasan-yang-bikin-saya-malas-datang-bukber\/2\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em>PASTI NGARET!<\/em><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>Tidak tepat waktu, budaya ngaret yang melelahkan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Skenarionya selalu seperti ini: sudah sepakat kumpul jam lima sore. Tapi jam lima lewat lima belas masih banyak yang bilang \u201cOTW ya.\u201d Ada yang datang tepat saat azan berkumandang. Bahkan ada yang muncul setelah semua orang selesai makan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang datang tepat waktu jadi menunggu lama. Buka puasa tidak lagi kompak. Ada yang sudah minum duluan, ada yang masih menunggu teman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal kecil seperti ini sebenarnya sepele, tapi kalau berulang terus setiap tahun, rasanya melelahkan. Ramadan itu waktunya sudah pasti. Kita tahu persis jam berapa magrib. Seharusnya justru lebih mudah untuk disiplin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sering merasa budaya ngaret ini mengurangi esensi kebersamaan yang seharusnya jadi inti bukber.<\/span><\/p>\n<p><strong><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bukber-sebagai-ajang-unjuk-diri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">BACA JUGA: Bukber Sebagai Ajang Unjuk Diri<\/a><\/strong><\/p>\n<h2><b>Diskusi panjang hanya untuk menentukan tempat dan tanggal bukber<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang paling menguras energi justru sebelum acara terjadi. Grup WhatsApp bisa ramai berhari-hari hanya untuk menentukan tanggal dan lokasi. Ada yang hanya bisa awal Ramadan. Lalu ada yang maunya pertengahan. Ada yang tidak bisa akhir pekan. Ada yang minta weekday.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah voting, tetap saja ada yang protes. Sudah sepakat tempat A, tiba-tiba ada yang bilang terlalu mahal. Pindah ke tempat B, dibilang terlalu jauh. Tempat C penuh reservasinya. Diskusi bisa berulang sampai tiga atau empat kali tanpa keputusan final yang benar-benar disepakati semua orang. Rasanya seperti rapat kecil, bukan perencanaan acara santai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lagi saat H-1 masih ada yang bertanya, \u201cJadi fix di mana?\u201d Padahal sudah dibahas panjang lebar. Kadang energi mental sudah habis sebelum bukber itu sendiri terlaksana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukber bukan hal buruk. Bahkan saya akui, ada momen-momen yang menyenangkan ketika suasananya hangat dan obrolannya tulus. Tapi ketika prosesnya terlalu ribet, mahal, penuh drama kecil, dan terasa seperti kewajiban sosial, wajar kalau muncul rasa malas. Ramadan seharusnya tentang kesederhanaan, ketenangan, dan kebersamaan yang apa adanya. Bukan tentang tempat paling mewah, bukan tentang siapa paling berhasil, dan bukan tentang siapa paling sibuk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin saya bukan tidak suka bukber. Saya hanya lebih memilih pertemuan yang sederhana, tidak terlalu banyak debat, tidak terlalu memaksakan semua orang hadir, dan benar-benar nyaman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang membuat momen itu berkesan bukan lokasi atau harga makanannya, tapi rasa tulus untuk bertemu dan menjaga silaturahmi. Kalau memang suasananya hangat dan tanpa beban, saya pasti datang. Tapi kalau sudah terasa melelahkan sejak awal, rasanya lebih baik memilih buka puasa dengan tenang bersama keluarga atau orang-orang terdekat. Dan menurut saya, itu juga tidak salah.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Intan Permata Putri<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/buka-bersama-itu-tak-seburuk-yang-kalian-pikirkan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Buka Bersama Itu Tak Seburuk yang Kalian Pikirkan<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mungkin saya bukan tidak suka bukber. Saya hanya lebih memilih pertemuan yang sederhana, tidak terlalu banyak debat.<\/p>\n","protected":false},"author":3172,"featured_media":269655,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[32518,32520,318,32519,6551],"class_list":["post-392787","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-buka-bersama-ramadan","tag-buka-puasa-bersama","tag-bukber","tag-bulan-buasa","tag-bulan-ramadan"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/392787","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3172"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=392787"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/392787\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":392877,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/392787\/revisions\/392877"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/269655"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=392787"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=392787"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=392787"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}