{"id":390980,"date":"2026-02-15T15:17:24","date_gmt":"2026-02-15T08:17:24","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=390980"},"modified":"2026-02-15T15:17:24","modified_gmt":"2026-02-15T08:17:24","slug":"kuliner-bangkalan-madura-bisa-jadi-pilihan-selain-sumenep","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kuliner-bangkalan-madura-bisa-jadi-pilihan-selain-sumenep\/","title":{"rendered":"Kalau Nggak Doyan Kuliner Sumenep, Cobalah Kuliner Bangkalan Madura yang Rasanya Nggak Kaleng-kaleng"},"content":{"rendered":"<p><em>Ada banyak kuliner Bangkalan Madura selain bebek yang layak dikenal lebih banyak orang.\u00a0<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Membaca tulisan <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kuliner-madura-enak-kecuali-yang-dari-sumenep\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Di Lidah Orang Jawa, Kuliner Madura Enak Kecuali yang dari Sumenep<\/span><\/i><\/a> <span style=\"font-weight: 400;\">di Terminal Mojok membuat saya mengerutkan jidat. Tulisan itu mengungkapkan, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">dari sekian banyak kuliner di Madura, katanya kuliner Sumenep tidak cocok untuk lidah orang luar Pulau Madura, khususnya orang Pulau Jawa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pribadi belum berani membenarkan pendapat tersebut. Saya memang orang Madura, tapi belum <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">sejauh itu ngulik kuliner Madura sisi timur seperti Sumenep dan sekitarnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, kalau pendapat Mas Akbar Mawlana, penulis artikel tersebut benar adanya, saya jadi senang. Sebab, artinya, inilah waktunya kuliner Bangkalan Madura bersinar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak yang mengira bahwa kuliner di Bangkalan itu cuma olahan bebek saja. <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bebek-sinjay-bangkalan-madura-overrated\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bebek Sinjay<\/a>, Seroja, Suramadu, Bebek Singapore, dan berbagai olahan bebek lainnya. Padahal, kuliner Bangkalan Madura bukan cuma itu saja. Banyak kuliner hidden gem yang masih sedikit orang tahu, padahal rasanya nggak kaleng-kaleng.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Nasi serpang, nasi campur gaya baru<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa yang kalian ketahui tentang nasi campur? Pasti makanan nasi yang disandingkan dengan bermacam lauk-pauk, mulai dari telur, daging ayam atau sapi, mie, sayur, hingga serundeng. Nah, jika kalian bosan dengan lauk-pauk yang isinya itu-itu saja, cobalah <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Nasi_Serpang\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Nasi Serpang<\/a>, nasi campur dengan gaya baru dari Bangkalan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya, Nasi Serpang adalah nasi campur yang sebenar-benarnya campur. Sebab, lauk-pauknya merupakan perpaduan antara olahan laut dan darat. Jadi rasanya benar-benar beragam. Pada Nasi Serpang, di samping telur dan sayuran, lauk-pauknya juga dilengkapi olahan udang dan kerang. Daging ayamnya juga diganti olahan daging tongkol yang dipepes. Hmmm, nikmat kan!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu tidak lupa terdapat serundeng, kripik peyek, dan sambal terasi yang bikin perpaduannya semakin lengkap.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan mencoba nasi serpang, kalian akan mendapat sensasi baru lebih dari nasi campur pada umumnya. Ya masak nggak bosen dimana-mana ketemu olahan ayam, eh di nasi campur juga ketemu ayam lagi. Hadeh!<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Soto Tongkol jadi kuliner baru di Bangkalan Madura<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain Nasi Serpang, olahan ikan laut kini juga mulai meramaikan keberagaman kuliner di Madura. Aroma laut banyak ditemukan pada masakan orang Bangkalan pada khususnya. Misalnya, pada masakan soto, kalian kan tahunya cuma soto sapi atau nggak ya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/soto-jogja-culture-shock-yang-hingga-kini-sulit-saya-terima\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">soto ayam<\/a>. Nah, di Bangkalan, sekarang sedang viral Soto Tongkol.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jenis soto ini bagi saya adalah kreativitas baru. Soto yang biasanya terlalu berminyak dengan lemak daging yang kurang sehat sekarang tergantikan oleh soto tongkol. Tentu, minyaknya lebih rendah dan daging tongkolnya lebih lembut dan nikmat. Apalagi kalau kuahnya ditambah sambal terasi. Ah, jadi laper!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kalian ingin mencicipi kuliner ini, cobalah berkunjung ke Tanjung Bumi Bangkalan. Ya, kecamatan jenis makanan ini berasal.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Rujak ontal dan siwil, cemilan kekinian anak muda\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selanjutnya, jika kalian ingin mencoba yang tidak berat, cobalah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rujak-tal-ontal-kuliner-dari-madura-tapi-nggak-semua-orang-madura-tahu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">rujak ontal<\/a> di Kecamatan Sepulu Bangkalan. Rujak ini berbeda seperti rujak pada umumnya yang kalian tahu. Selain petis, rujak ini didampingi kuah ikan sebagai rasa utama penyajiannya. Rujaknya pun lebih beragam, nggak buah saja, tapi ada juga pentol ikan, telur puyuh, pempek dari ikan, juga krupuk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kuliner ini dapat kalian temukan di pesisir utara Kabupaten Bangkalan, khususnya di wilayah Kecamatan Sepulu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terakhir, ada pula cemilan khas Bangkalan yang kini makin digandrungi, yakni siwil. Cemilan ini berasal dari Kecamatan Socah yang dibuat dari tepung tapioka dan dipadukan dengan ikan atau udang yang dicingcang. Jadi, sama seperti sebelumnya, siwil juga punya aroma laut. Petis umumnya juga menjadi sambal untuk menyantap siwil ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, dua kuliner ini kini jadi cemilan pilihan anak muda Bangkalan. Kadang, mereka rela jauh-jauh ke pesisir Bangkalan cuma buat nongki sambil ngemil makanan ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya itulah gaes. Jadi, kuliner Madura itu nggak cuma olahan bebek dan ayam saja ya. Sebaliknya, kita aslinya banyak juga kuliner masakan laut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">FYI, masyarakat Madura sebetulnya memang dekat dengan yang namanya laut. Kata BPS saja, Sumenep dan Bangkalan itu pada 2025 jadi nomor dua dan tiga tertinggi nilai produksi ikannya di Jawa Timur. Kalau digabung, Sumenep dan Bangkalan itu setahun bisa mencapai 2 triliun rupiah. Tinggi kan! Makanya, asumsi saya sih ya, orang Madura yang nggak kuat bau amis olahan ikan artinya orangnya belum Madura banget, hehehe.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Abdur Rohman<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-stigma-norak-orang-luar-madura-tentang-orang-madura-yang-perlu-diluruskan\/\"><b><i>4 Pandangan Norak Orang Luar Madura tentang Orang Madura yang Perlu Diluruskan.<\/i><\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kuliner Madura ada beragam, kalau kurang cocok dengan kuliner Sumenep, kalian bisa mencicipi kuliner Bangakalan Madura yang beragam. <\/p>\n","protected":false},"author":2507,"featured_media":390984,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[16112,22434,32440,32441,5020],"class_list":["post-390980","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bangkalan","tag-bangkalan-madura","tag-kuliner-bangaklan","tag-kuliner-sumenep-sumenep","tag-madura"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/390980","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2507"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=390980"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/390980\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":390990,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/390980\/revisions\/390990"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/390984"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=390980"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=390980"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=390980"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}