{"id":390826,"date":"2026-02-14T13:41:44","date_gmt":"2026-02-14T06:41:44","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=390826"},"modified":"2026-02-14T13:45:56","modified_gmt":"2026-02-14T06:45:56","slug":"adem-sampai-sembribit-7-istilah-dingin-dalam-bahasa-jawa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/adem-sampai-sembribit-7-istilah-dingin-dalam-bahasa-jawa\/","title":{"rendered":"7 Istilah Dingin dalam Bahasa Jawa, Mulai dari Adem sampai Sembribit"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhir-akhir ini <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/cctv-jogja-menyelamatkan-saya-di-cuaca-anomali-ini\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">cuaca<\/a> sedang ekstrem di daerah tempat tinggal saya dan mungkin juga daerah lain. Satu hari bisa sangat panas, hari lain bisa sangat dingin. Soal hawa dingin yang terjadi di daerah saya, benar-benar kondisinya di level lain. Lebih dingin daripada musim dingin biasanya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gara-gara fenomena alam ini saya jadi menyadari ada beberapa kata atau istilah dalam Bahasa Jawa untuk menggambarkan hawa dingin. Nah, berikut ini ragam istilah dingin dalam Bahasa Jawa yang sering digunakan.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Adem, kata dalam Bahasa Jawa yang paling umum digunakan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata paling umum untuk mengungkapkan rasa dingin adalah adem. Adem masuk dalam bahasa ngoko yang biasanya dipakai dalam obrolan dengan teman sebaya atau seumuran, bukan yang lebih tua. Contoh kalimatnya seperti ini, \u201cHawane kok adem banget yo\u201d yang berarti udaranya kok dingin sekali ya. Istilah dingin dalam Bahasa Jawa yang paling umum dan sering digunakan.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Atis, anyep, atau anyes istilah lainnya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain kata adem, ada istilah lain untuk menggambarkan dingin dalam Bahasa Jawa yaitu atis, anyep, atau anyes. Penggunaannya biasanya seperti ini, \u201cBanyune atis nemen,\u201d yang artinya airnya dingin banget.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata anyep juga bisa digunakan untuk mengungkapkan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/alasan-makanan-study-tour-hambar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">rasa hambar<\/a> pada makanan. Jika dalam makanan kata anyep sering diartikan untuk rasa yang hambar atau kurang bumbu.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Kathuken, istilah dalam Bahasa Jawa untuk hawa dingin yang ekstrem<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika kedinginan biasanya tubuh akan menggigil. Dalam Bahasa Jawa, kathuken biasa digunakan untuk menggambarkan hal itu. Kondisi di mana tubuh kedinginan sangat ekstrem hingga menggigil. Contoh penggunaannya, \u201cAku kathuken mergo ra gawa mantol,\u201d yang artinya aku menggingil karena tidak membawa mantel.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Methotolen istilah untuk kedinginan yang sangat parah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di dalam Bahasa Jawa ada istilah untuk menggambarkan menggigil yang sangat parah, yakni methotolen. Orang yang methotolen mengigil seluruh tubuh hingga mulut ikut bergetar. Contoh penggunaan kalimat ini sebagai berikut, \u201cAdem pol, awakku ngasi metotolen\u201d. Artinya, dingin sekali sampai badan menggigil dan betol-bentol seperti orang <a href=\"https:\/\/www.alodokter.com\/biduran\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">biduran<\/a>.<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Kancilen Bahasa Jawa untuk kedinginan yang disertai meriang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedinginan disertai sedikit<a href=\"https:\/\/mojok.co\/penjaskes\/cara-menyembuhkan-pilek-dalam-sehari\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> batuk atau flu<\/a> disebut kancilen. Penggunaannya seperti ini, \u201cAku kancilen amarga mubengi nonton bal tekan jam 3\u201d yang artinya kurang lebih aku kedinginan sampai meriang gara-gara nonton bola sampai jam 3<\/span><\/p>\n<h2><b>#6 Dengkelen, istilah untuk kedinginan setelah terguyur air<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Istilah Bahasa Jawa methotolen bisa digunakan untuk kedinginan dengan sebab apa saja. Sementara, kata dengkelen untuk mengekspresikan kedinginan setelah terguyur air atau setelah kelamaan berendam di air. Contohnya kurang lebih seperti ini, \u201cAku dengkelen soale kesuwen sing renang\u201d yang artinya aku kedinginan sampai bergetar karena kelamaan berenenag. Dengkelen ini bukan hanya dingin biasa tapi juga disertai dengan menggigil.<\/span><\/p>\n<h2><b>#7. Semridik atau semribit, istilah dalam Bahasa Jawa untuk hawa dingin karena hembusan angin<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahasa Jawa itu kaya. Untuk hawa dingin yang disebabkan oleh hembusan angin, ada istilahnya sendiri yakni semridik atau semribit. Dikatakan semribit jika angin tersebut bisa menerbangkan helaian rambut atau daun-daun di sekitar. Orang-orang menggunakannya seperti ini, \u201cAngine semribit banget yo\u201d yang berarti anginnya dingin sekali ya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah beberapa istilah dalam untuk menggambarkan hawa dingin. Banyak sekali kan pilihannya? Begitulah Bahasa Jawa, setiap konteks dan kondisi ada istilahnya sendiri. Adakah istilah dingin lainnya dalam Bahasa Jawa yang kalian tahu?\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Wulan Maulina<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/8-istilah-bahasa-jawa-yang-orang-jawa-sendiri-salah-paham\/\"><b><i>8 Istilah Bahasa Jawa yang Masih Bikin Sesama Orang Jawa Salah Paham<\/i><\/b><\/a><b><i>.<\/i><\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bahasa Jawa itu kaya. Bahasa ini punya setidaknya 7 istilah untuk menggambarkan hawa dingin sesuai dengan konteksnya. <\/p>\n","protected":false},"author":2312,"featured_media":390884,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[761,763,32423,7824,13142,623],"class_list":["post-390826","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bahasa","tag-bahasa-jawa","tag-bahasa-ngoko","tag-dingin","tag-istilah","tag-jawa"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/390826","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2312"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=390826"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/390826\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":390887,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/390826\/revisions\/390887"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/390884"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=390826"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=390826"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=390826"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}