{"id":390449,"date":"2026-02-12T12:12:17","date_gmt":"2026-02-12T05:12:17","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=390449"},"modified":"2026-02-12T11:54:30","modified_gmt":"2026-02-12T04:54:30","slug":"membayangkan-pensiun-di-madiun-yang-nggak-banyak-drama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/membayangkan-pensiun-di-madiun-yang-nggak-banyak-drama\/","title":{"rendered":"Membayangkan Pensiun di Madiun, Kota yang Nggak Banyak Drama dan Cocok untuk Hari Tua"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya Orang Bandar Lampung yang beberapa waktu lalu berkunjung ke beberapa daerah di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/pulau-jawa-lebih-nyaman-ketimbang-sumatera-utara\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pulau Jawa<\/a>. Saya sempat mengunjungi Madiun, sebuah kota kecil di Jawa Timur. Dan, daerah dengan julukan kota pendekar ini berhasil memikat saya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak pertama tiba, suasananya terasa ramah. Memang benar kata banyak orang, orang Jawa terkenal halus dan sopan. Di Madiun, keramahan itu terasa lebih tulus dan tidak buatan. Senyum orang-orangnya ringan, nada bicara mereka lembut, dan ritme hidupnya terasa pelan. Tidak ada kesan terburu-buru. Tidak ada tekanan yang membuat kepala terasa penuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasanya saya seperti kembali ke era 80-an dan 90-an. Terlebih ketika melewati kawasan lama dengan bangunan-bangunan lawas yang berkarakter itu. Tidak semua sudut dipenuhi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/jogja-terbuat-dari-rindu-pulang-angkringan-dan-baliho-reno-maju\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">baliho besar<\/a> atau papan reklame mencolok. Jalanannya pun bersih, tertata rapi, dan terasa lega. Tidak ada kemacetan panjang yang bikin stres. Kendaraan melintas dengan tenang, seolah semua orang sepakat untuk tidak tergesa-gesa.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dana-pensiun-yang-dibutuhkan-biar-bisa-santai-masa-tua\/\"><em>Baca juga Segini Dana Pensiun yang Dibutuhkan Biar Bisa \u201cOngkang-ongkang Kaki\u201d di Masa Tua.<\/em><\/a><\/p>\n<h2><b>Semua seolah melambat di Madiun<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tengah dunia yang semakin cepat, Madiun seperti memilih untuk berjalan pelan. Hal sederhana seperti menyeberang jalan pun terasa berbeda. Tidak perlu adu cepat dengan kendaraan. Tidak perlu waswas. Semua terasa lebih manusiawi. Saya jadi berpikir, mungkin memang beginilah hidup seharusnya dijalani, tidak selalu terburu mengejar sesuatu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soal makanan? Jangan ditanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya datang ke Pasar Kojo untuk membeli jenang campur. Harganya cuma lima ribu rupiah. Lima ribu. Di kota besar, uang segitu mungkin bahkan tidak cukup untuk parkir. Tapi, di sana, saya sudah mendapatkan semangkuk lengkap berisi <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Bubur_sumsum\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bubur sumsum<\/a> lembut, ketan hitam legit, mutiara kenyal, santan gurih, dan gula merah yang manisnya pas. Rasanya sederhana, tapi justru itu yang membuatnya istimewa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pasarnya pun bersih dan tertata. Tidak sumpek, tidak berisik berlebihan. Pedagangnya ramah, tidak memaksa. Semua terasa wajar dan apa adanya. Saya duduk menikmati jenang itu sambil melihat aktivitas sekitar, dan rasanya hati ikut tenang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak ada macet maupun klakson bersahut-sahutan. Tidak ada orang berjalan dengan wajah tegang karena dikejar waktu. Udara pun terasa lebih sejuk. Entah karena memang lebih asri atau karena polusi tidak sepadat kota besar, yang jelas napas terasa lebih ringan.<\/span><\/p>\n<p><em><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/culture-shock-yang-saya-rasakan-sebagai-orang-madiun-menikah-dengan-orang-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Baca juga Culture Shock yang Saya Rasakan sebagai Orang Madiun Ketika Menikah dengan Orang Jogja: Saya Nggak Suka Brongkos, Doi Nggak Suka Rujak Petis, Sad<\/a>.<\/em><\/p>\n<h2><b>Seandainya menghabiskan hari tua di sana<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya jadi membayangkan, bagaimana rasanya menghabiskan hari tua di tempat seperti ini? Bangun pagi tanpa suara bising kendaraan. Jalan santai menyusuri jalan yang bersih. Sarapan sederhana di pasar tradisional dengan harga yang tidak membuat dompet menjerit. Bertemu orang-orang yang menyapa dengan ramah. Hidup yang tidak dikejar tuntutan sosial untuk selalu terlihat sukses, sibuk, atau glamor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di usia muda, mungkin banyak dari kita mengejar kota besar. Mengejar karier, peluang, dan penghasilan. Tapi, semakin dewasa, saya mulai sadar bahwa yang penting tak hanya uang, tapi juga ketenangan. Dan, di Madiun, ketenangan itu ada tanpa harus membayar terlalu mahal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kota kecil seperti ini mengajarkan saya hidup tidak harus selalu kompetitif. Tidak harus selalu cepat maupun dibanding-bandingkan. Ada kebahagiaan dalam kesederhanaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk menetap di usia senja? Rasanya saya lebih memilih kota seperti Madiun. Kota yang tidak terlalu ramai, tapi juga tidak sepi. Fasilitasnya cukup. Makanannya enak dan terjangkau. Orang-orangnya hangat. Ritmenya pelan. Lingkungannya bersih. Tidak banyak drama sosial. Tidak banyak tekanan gaya hidup.<\/span><\/p>\n<h2><b>Masih terasa otentiknya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Madiun mungkin bukan kota yang sering <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/cara-bikin-konten-viral-yang-nggak-bakal-dihujat-netizen\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">viral di media sosial<\/a>. Tidak banyak tempat yang dibuat demi konten. Tapi justru karena itu, suasananya terasa autentik dan tidak berlebihan. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Kadang, kita terlalu sibuk mencari tempat yang \u201cwah\u201d sampai lupa bahwa tempat yang membuat hati tenanglah yang terpenting.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika saya meninggalkan kota itu, ada perasaan ingin kembali. Bukan untuk liburan mewah, bukan untuk belanja besar-besaran, tapi sekadar untuk duduk santai, menikmati jenang Rp5.000, dan merasakan udara sejuk tanpa tekanan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Madiun mungkin kota kecil di peta Indonesia. Tapi bagi saya, ia memberi gambaran tentang masa depan yang sederhana dan damai. Dan jika suatu hari nanti saya harus memilih tempat untuk menikmati hari tua, tempat di mana hidup tidak lagi soal kecepatan, melainkan soal ketenangan. Madiun akan ada dalam daftar teratas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Intan Permata Putri<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-hal-menyebalkan-di-madiun-bikin-wisatawan-pikir-dua-kali\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em>5 Hal Menyebalkan di Madiun yang Bikin Wisatawan Pikir Dua Kali sebelum Berkunjung.<\/em><\/a><\/strong><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menghabiskan masa tua di Madiun, kota yang minim drama, nyaman, dan cocok untuk melambat sepertinya akan menyenangkan. <\/p>\n","protected":false},"author":3172,"featured_media":390658,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[1050,2501,7438,4925],"class_list":["post-390449","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-hari-tua","tag-jawa-timur","tag-madiun","tag-pensiun"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/390449","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3172"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=390449"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/390449\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":390659,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/390449\/revisions\/390659"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/390658"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=390449"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=390449"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=390449"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}