{"id":390121,"date":"2026-02-09T11:21:38","date_gmt":"2026-02-09T04:21:38","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=390121"},"modified":"2026-02-09T11:30:10","modified_gmt":"2026-02-09T04:30:10","slug":"13-kosakata-bahasa-madura-yang-menjebak-perlu-diperhatikan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/13-kosakata-bahasa-madura-yang-menjebak-perlu-diperhatikan\/","title":{"rendered":"13 Kosakata Bahasa Madura Paling &#8220;Menjebak\u201d dan Perlu Diperhatikan Pendatang yang Baru Belajar"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Madura bisa dibilang adalah bahasa daerah paling sulit dipelajari. Sama seperti <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tips-belajar-bahasa-inggris-dari-yang-awalnya-bego-banget-sampai-bisa-kuliah-ke-eropa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bahasa Inggris<\/a>, orang yang belajar Bahasa Madura sering kesulitan dalam menirukan bunyi yang tepat. Saking sulitnya, tak banyak orang yang berhasil mengucapkan salah satu tongue twister<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">tersulit dari Bahasa Madura, yakni<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> \u201cbh\u00e2dh\u00e2 bh\u00e2ddh\u00e2na baddh\u00e2\u201d<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gimana kamu bisa tidak?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, selain kalimat di atas, sebetulnya ada banyak kata dalam Bahasa Madura yang hampir memiliki bunyi yang sama. Kadang pula, orang yang baru belajar sering tertukar saat mengucapkan kalimat-kalimat ini. Berikut saya jelaskan beberapa kosakata tersebut dan bagaimana cara mengucapkannya dengan benar!<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Bh\u00e2jeng dan Bh\u00e2j\u00e2ng<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bh\u00e2jeng memiliki arti rajin atau tekun. Huruf \u201ce\u201d pada kata tersebut bunyinya sama saat kita menyebut nama Ajeng. Lalu, Bh\u00e2j\u00e2ng berarti salat atau sembahyang. Huruf \u201ca\u201d pada suku kata akhir berbunyi seperti bunyi \u201ce\u201d dalam kata jeruji.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Bh\u00e2jhi\u2019 dan B\u00e2ji\u2019<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perbedaan dua kata itu hanya pada satu huruf &#8220;h&#8221;, sangat tipis. Walau secara susunan huruf tidak berbeda jauh, huruf \u201cbh\u201d pada bh\u00e2jhi\u2019 dibunyikan secara berbeda, yakni dengan melemaskan bibir dan memperbanyak udara keluar dari mulut. Adapun arti bh\u00e2jhi adalah bayi, sementara b\u00e2ji\u2019 berarti jijik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-stigma-norak-orang-luar-madura-tentang-orang-madura-yang-perlu-diluruskan\/\"><b><i>Baca juga <\/i><\/b><b><i>4 Pandangan Norak Orang Luar Madura tentang Orang Madura yang Perlu Diluruskan.<\/i><\/b><\/a><\/p>\n<h2><b>#3 Rebbh\u00e2 dan Rebb\u00e2<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rebbh\u00e2 dalam Bahasa Madura berarti rumput, sedangkan rebb\u00e2 berarti selametan. Sama dengan sebelumnya, perbedaan kedua ini berada di huruf \u201cb\u201d yang ditambah \u201ch\u201d dan tidak. Di Madura, rebb\u00e2 juga menjadi sebutan untuk <a href=\"https:\/\/www.nu.or.id\/nasional\/makna-bulan-syaban-dan-4-peristiwa-penting-di-dalamnya-4RK3F\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bulan Sya\u2019ban<\/a>.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Bh\u00e2uh dan B\u00e2uh<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagi-lagi, perbedaan dua kata Bahasa Madura ini\u00a0 keduanya berada di penambahan ataupun tanpa \u201ch\u201d setelah huruf \u201cb\u201d. Walau perbedaanya tipis, arti dua kata ini begitu berbeda. Bh\u00e2uh artinya adalah bahu, sementara b\u00e2uh berarti bau.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Bh\u00e2ddh\u00e2 dan B\u00e2ddh\u00e2<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain bh\u00e2dh\u00e2 (ada), bh\u00e2ddh\u00e2na (wadanya), dan baddh\u00e2\u2019 (bedak), Bahasa Madura juga punya b\u00e2ddh\u00e2 yang berarti sobek. Nah, keempat diksi ini sangat sulit dibedakan oleh orang yang baru belajar Bahasa Madura.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kuliner-madura-enak-kecuali-yang-dari-sumenep\/\"><b><i>Baca juga <\/i><\/b><b><i>Di Lidah Orang Jawa, Kuliner Madura Enak Kecuali yang dari Sumenep<\/i><\/b><\/a><\/p>\n<h2><b>#6 Bh\u00e2nyak dan B\u00e2nnyak<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bh\u00e2nyak bermakna hewan angsa, sementara b\u00e2nnyak artinya banyak. Sering saya tes teman saya yang dari luar Madura, mereka selalu kesulitan membedakan pengucapan dua kata dalam Bahasa Madura ini. Padahal perbedaannya hanya di huruf \u201ch\u201d dan dobel \u201cn\u201d.<\/span><\/p>\n<h2><b>#7 Bh\u00e2ri\u2019, B\u00e2ri\u2019, dan B\u00e2rri\u2019\u00a0\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam Bahasa Madura ada kata bh\u00e2ri\u2019 yang berarti masih terlalu pagi\/siang\/sore. Tergantung konteks waktu janjiannya. Sementara b\u00e2ri\u2019 artinya adalah kemarin. Orang dari luar Madura sering tertukar dengan dua kata ini. Lebih parahnya mereka sering menambahkan dobel \u201cr\u201d sehingga menjadi b\u00e2rri\u2019. Kalau\u00a0 b\u00e2rri\u2019 artinya menjadi memberi.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#8 Biddh\u00e2ng dan Beddheng<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Bahasa Madura, biddh\u00e2ng merujuk pada air masak atau air yang sudah direbus. Huruf \u201ca\u201d dalam kata itu dibaca \u201ce\u201d seperti dalam kata jeruji. Sementara kata beddheng merujuk pada hitam pekat atau malam yang sangat gelap. Cara bacanya? Semua \u201ce\u201d pada kata ini dibaca selayaknya e dalam nama Ajeng.<\/span><\/p>\n<h2><b>#9 Gh\u00e2ddh\u00e2ng bik Geddh\u00e2ng<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gh\u00e2ddh\u00e2ng merujuk pada anyaman bambu yang digunakan menampi beras. Gh\u00e2 dalam kata gh\u00e2ddh\u00e2ng dibaca \u201cge\u201d seperti dalam kata \u201cgerilya\u201d. Kemudian, Geddh\u00e2ng artinya adalah buah pisang. Bunyi \u201cGed\u201d sama seperti bunyi \u201cget\u201d dalam Bahasa Jawa \u201csaged\u201d.<\/span><\/p>\n<h2><b>#10 Lambh\u00e2\u2019 dan Lamb\u00e2\u2019<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lambh\u00e2\u2019 artinya adalah zaman dulu, sementara Lamb\u00e2\u2019 artinya dermawan. Perbedaan keduanya hanya pada ada tidaknya huruf \u201ch\u201d, sementara bunyi katanya tidak jauh berbeda.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#11 Rebbhuh dan Rebbhu\u2019<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata ini sebetulnya tidak terlalu sulit, tapi orang yang baru belajar sering tertukar. Kata di atas yang berakhiran \u201ch\u201d artinya adalah Rabu, sementara yang berakhiran koma atas artinya rebut.<\/span><\/p>\n<h2><b>#12 Gh\u00e2ring bik Gerring<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam Bahasa Madura, gh\u00e2ring artinya garing, sementara gerring artinya sakit parah atau mau sakaratul maut. \u201cGh\u00e2\u201d berbunyi \u201cge\u201d seperti dalam kata gerilya. Sementara yang satunya seperti \u201ce\u201d dalam nama Ajeng.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#13 G\u00e2nteng dan Gent\u00e8ng<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gh\u00e2nteng berarti ganteng atau tampan dan gent\u00e8ng berarti genteng. Dua kata Bahasa Madura ini sangat sulit diucapkan secara berbeda oleh orang Madura. Untuk G\u00e2nteng, \u201cg\u00e2\u201d dibaca seperti \u201cge\u201d dalam gerilya. Sementara \u201cteng\u201d huruf \u201ce\u201d nya bunyi pada nama ajeng. Kemudian untuk gent\u00e8ng, \u201cge\u201d menggunakan \u201ce\u201d dalam nama Ajeng. Sementara yang \u201ct\u00e8ng\u201d, \u201ce\u201d nya berbunyi \u201ce\u201d seperti dalam kata enteng.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya, itulah 13 kosakata Bahasa Madura yang paling sulit dibedakan oleh <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-skill-yang-wajib-dimiliki-kalau-ingin-punya-istri-orang-madura\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">orang luar Madura<\/a>. Bagaimana, apakah kalian bisa membedakannya? Akhir kata, selamat mencoba!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Abdur Rohman<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA<\/b> <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/istilah-di-solo-yang-biking-orang-jogja-seperti-saya-plonga-plongo\/\"><b><i>5 Istilah di Solo yang Biking Orang Jogja seperti Saya Plonga-plongo.<\/i><\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bahasa Madura sulit dipelajari, terlebih banyak kosakata yang mirip secara penulisan dan bunyi, tapi artinya jauh beda. <\/p>\n","protected":false},"author":2507,"featured_media":390176,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[761,2519,1164,2499,5020],"class_list":["post-390121","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bahasa","tag-bahasa-daerah","tag-bahasa-indonesia","tag-bahasa-madura","tag-madura"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/390121","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2507"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=390121"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/390121\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":390180,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/390121\/revisions\/390180"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/390176"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=390121"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=390121"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=390121"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}