{"id":390012,"date":"2026-02-07T17:44:05","date_gmt":"2026-02-07T10:44:05","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=390012"},"modified":"2026-02-07T17:44:05","modified_gmt":"2026-02-07T10:44:05","slug":"pemuda-pati-takut-menikah-karena-mahar-nggak-masuk-akal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pemuda-pati-takut-menikah-karena-mahar-nggak-masuk-akal\/","title":{"rendered":"Pemuda Pati Takut Menikah karena Standar Mahar Nggak Masuk Akal seperti Duit Ratusan Juta, Motor, bahkan Mobil"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepupu saya seorang pemuda yang sudah cukup umur, matang, dan punya niat baik untuk menikah. Namun, seperti kebanyakan pemuda dari Pati, dia punya ketakutan yang begitu besar terhadap <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/menikah-untuk-saling-melengkapi-indah-tapi-bullshit\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pernikahan<\/a>. Bukan ketakutan akan membangun biduk rumah tangga, dia takut akan tekanan sosial terhadap pernikahan di Pati.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi kalian yang belum tahu, pernikahan di Pati memang agak menantang secara ekonomi bagi calon mempelai laki-laki. Begini, di pernikahan ada yang namanya mahar dan seserahan. Mahar adalah simbol tanggung jawab dan kesungguhan. Sementara seserahan adalah bentuk penghormatan. Nah, di Pati mahar itu dijadikan ajang gengsi. Itu mengapa, barang-barang yang diberikan laki-laki ke perempuan Pati kebanyakan begitu fantastis secara nominal.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Asal tahu saja, di Pati, mahar puluhan juta rupiah adalah angka yang biasa. Emas belasan gram dianggap standar. Belum lagi motor, mobil, bahkan rumah. Semuanya hal yang wajar di Pati.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika mahar tidak memenuhi ekspektasi sosial, bukan tidak mungkin pemuda Pati jadi omongan keluarga dan tetangga. Nggak tanggung-tanggung, mereka bahkan bisa dicap nggak niat, nggak mampu, bahkan kurang menghargai perempuan.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Pemuda Pati semakin terhimpit, apalagi di tengah ekonomi yang semakin sulit<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saja mahar dengan nilai yang fantastis itu tidak jadi persoalan apabila calon mempelai laki-lakinya memang mampu. Bagi beberapa orang, mungkin tuntutan sosial mahar yang fantastis juga bisa jadi motivasi untuk bekerja lebih keras.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, kebanyakan pemuda Pati itu seperti sepupu saya, nilai yang fantastis\u00a0 jelas hanya memberatkan dan penghalang mewujudkan pernikahan. Apalagi di tengah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/tips-mengelola-keuangan-di-tahun-2026\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kondisi ekonomi<\/a> yang sedang gonjang-ganjing seperti sekarang ini, tentu saja hanya segelintir pemuda yang benar-benar berprivilese yang mampu mewujudkan hal itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak heran kalau pernikahan menjadi momok yang ditakuti pemuda Pati. Bukan biduk rumah tangganya, tapi tekanan sosial akan mahar pernikahannya.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Ketakutan menikah dengan orang daerah sendiri<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa yang sepupu saya, dan mungkin banyak pemuda Pati lain rasakan itu berat. Dan, berkali-kali lipat tambah berat di tengah kondisi seperti sekarang ini. Namun, sedihnya, hal itu jarang jadi pertimbangan. Orang-orang tetap saja menuntut dengan nggak kira-kira, seperti tidak ada pemakluman atau alternatif lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tuntutan sosial pernikahan semacam itu bisa berbuntut panjang. Pemuda Pati jadi takut mempersunting pemudi Pati. Sebab, tuntutan mahar itu biasanya berlaku untuk muda-mudi yang asli berasal dari Pati. Apabila calon mempelai perempuan dari daerah lain, biasanya pernikahan tidak akan mengalami tuntutan sosial setinggi itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akibatnya akan lebih panjang lagi kalau sudah menyangkut utang, apalagi <a href=\"https:\/\/www.bfi.co.id\/id\/blog\/apa-itu-pinjol-definisi-jenis-cara-membedakan-pinjol-legal-dan-ilegal\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pinjol<\/a>. Bukan tidak mungkin, untuk memenuhi tuntutan sosial itu orang-orang jadi mengambil utang, bahkan pinjol, untuk memenuhinya. Niat pernikahan yang awalnya baik, jadi rumit gara-gara tuntutan sosial tidak masuk akal tadi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin sudah saatnya muda-mudi Pati lebih memahami kondisi ekonomi calon pasangan. Termasuk berdialog tanpa paksaan dan menurunkan standar yang tidak realistis. Itu bukan berarti menurunkan nilai pernikahan ya, justru sebaliknya, itu cara menyelamatkan maknanya. Sebab, tidak ada faedahnya juga kalau terus menerus mengikuti tuntutan sosial yang nggak masuk akal itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Intan Permata Putri<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/duka-nikah-kua-dikira-hamil-duluan-padahal-cuma-ingin-hemat\/\"><b><i>Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat<\/i><\/b><\/a><b><i>.<\/i><\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mahar ke pasangan jadi ajang gengsi sehingga standarnya jadi nggak masuk akal, ini membuat pemuda Pati takut menikah.<\/p>\n","protected":false},"author":3172,"featured_media":390059,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[4680,32337,1245,32335,365,32336,4681],"class_list":["post-390012","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-mahar","tag-mahar-pati","tag-pati","tag-pemuda-pati","tag-pernikahan","tag-pernikahan-pati","tag-seserahan"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/390012","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3172"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=390012"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/390012\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":390060,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/390012\/revisions\/390060"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/390059"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=390012"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=390012"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=390012"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}