{"id":389974,"date":"2026-02-07T11:45:59","date_gmt":"2026-02-07T04:45:59","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=389974"},"modified":"2026-02-07T11:45:59","modified_gmt":"2026-02-07T04:45:59","slug":"piyungan-isinya-ceo-pakai-sandal-jepit-bawa-karung-rongsokan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/piyungan-isinya-ceo-pakai-sandal-jepit-bawa-karung-rongsokan\/","title":{"rendered":"Saya Belajar Tentang Kebahagiaan di Piyungan, Tempat Para CEO Pakai Sandal Jepit dan Pegang Karung Rongsokan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya bisa nyasar ke Piyungan bukan karena tiba-tiba mendapat pencerahan atau niat mulia pribadi. Adalah MPM PP Muhammadiyah menyelenggarakan kegiatan <a href=\"https:\/\/www.suaramuhammadiyah.id\/read\/siapkan-kader-penggerak-mpm-pwm-yogyakarta-gelar-sekam\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sekolah Kader Pemberdayaan Masyarakat<\/a> dan saya ikut serta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Niat awal saya itu sederhana. Saya ingin belajar memberdayakan masyarakat. Namun, pada akhirnya, justru masyarakat yang memberdayakan saya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Hari pertama yang berkesan di Piyungan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hari pertama, saya dan Mas Farhan bertugas di rumah Pak RT. Namanya Pak Sukiman. Tugasnya, menjelang Magrib, kami mengikuti pengajian rutin warga.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baru duduk lima menit, saya sudah merasa berada di tempat yang tidak biasa. Di sekeliling saya beredar rokok dengan kasta yang kalau dibuat grafik, bisa jadi studi ekonomi mikro.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada Sampoerna Mild, LA Lights, Surya Garpit, Marlboro Merah Filter. Sementara di tangan saya, rokok kretek Aroma Slim Fit kuning yang mendadak terasa seperti peserta beasiswa jalur afirmasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selepas pengajian, sesi berubah menjadi ngopi santai. Di sinilah percakapan yang membelekokkan perspektif dimulai. Pak Sutarto, di samping saya, bertanya soal asal daerah saya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya menjawab Bandung, Pangalengan, daerah pertanian dan perkebunan. Beliau mengangguk, lalu bertanya lagi, \u201cBerarti keluarga Mas juga bertani? Lagi panen apa di sana?\u201d Saya menjawab sayur-sayuran, cabai, kol. Lalu saya balik bertanya, \u201cKalau di sini lagi panen apa, Pak?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beliau menyeringai, menatap mata saya, lalu berkata lantang, \u201c<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tpst-piyungan-ditutup-kapan-masalah-sampah-jogja-berakhir\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">PANEN SAMPAH<\/a>!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seisi ruangan meledak tawa. Saya ikut tertawa, meski sepersekian detik sebelumnya otak saya masih menyesuaikan definisi \u201cpanen\u201d yang baru saja direvisi secara kolektif.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tawa belum reda ketika beliau menambahkan, \u201cDi sini pada nggak punya lahan, Mas,\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Mengunjungi \u201ckantor\u201d Pak RT<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hari kedua di Piyungan, Pak RT mengajak saya ke \u201ckantor operasional\u201d. Kantor itu bukan kantor pada umumnya, melainkan pusat pengepulan, penyimpanan, pemilahan, sekaligus pengiriman rongsokan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah itu, pukul 10 pagi kami berangkat menembus jalan sempit di tengah hutan untuk menolong truk pengangkut rongsokan yang nyaris terjungkal ke jurang. Kami memindahkan barang-barang ke mobil kolbak, lalu membawanya kembali ke \u201ckantor\u201d. Prosesnya melelahkan, tapi entah kenapa saya tidak mengeluh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hari itu Jumat. Setelah memindahkan rongsokan, Pak RT berkata, \u201cMas, kalau mau pulang nggak apa-apa. Jumatan dulu.\u201d Saya sempat bimbang antara membantu truk atau ke masjid.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di kepala terlindas ucapan Gus Bah saat menyampaikan materi sebelum kami menuju lapangan:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, salah satu di antara banyaknya jalan menuju Allah adalah justru lewat para pekerja pengepul rongsokan Mardika yang kita temui sehari-hari nanti. Bukan ketemu sama presiden, wakil presiden, atau pejabat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tanpa kalkulasi teologis yang panjang, saya menjawab, \u201cSaya ikut Bapak aja bantu truk. Jumatan nanti bisa diganti Dzuhur.\u201d Keputusan yang mungkin tidak akan lulus ujian fiqih. Truk itu akhirnya bisa berjalan lagi setelah hampir empat jam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Malamnya kami ngopi lagi di depan rumah. Obrolan mengalir ke tema keluarga. Pak RT berkata dengan santai, \u201cAlhamdulillah, saya bisa menguliahkan tiga anak saya sampai selesai. Sekarang sudah merdeka.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baru belakangan saya menyadari bahwa usaha rongsokan bukan usaha kecil. Pak RT memiliki tiga truk operasional, di garasi rumahnya terparkir satu <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/toyota-innova-bukan-mobil-tapi-ormas-tak-tertandingi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Toyota Innova<\/a>, dan dua motor. Di titik itu saya berhenti menyebutnya \u201ctukang rongsok\u201d. Lebih tepat kalau disebut CEO perusahaan berbasis limbah di Piyungan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Hari terakhir di Piyungan yang datang terlalu cepat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hujan menemani aktivitas kami mengambil rosokan dari mitra-mitra di jalur hutan di sekitar Piyungan. Setelah semua selesai, tibalah momen berpamitan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pak RT berkata, \u201cMakasih ya, Mas, sudah bantu dengan rajin. Semoga sukses selalu dalam berbagai hal.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya menjawab jujur, \u201cBagi saya tiga hari nggak cukup, Pak. Harusnya tiga bulan. Ini panitia pelit, cuman ngasih tiga hari buat live-in.\u201d Kami tertawa bersama, tawa yang berfungsi menutup rasa berat meninggalkan Piyungan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat kami hendak naik mobil jemputan, Ibu RT menghampiri dan menyelipkan amplop ke tangan kami. \u201cTolong diterima ya, Mas. Bapak itu nyiapin ini sambil sedih.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami hanya bisa menjawab, \u201cMatur nuwun sanget.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami datang untuk belajar, mereka justru memberi lebih dari yang kami minta. Fasilitas, makan cukup, bahkan lebih dari cukup.<\/span><\/p>\n<h2><b>Masyarakat berdaya untuk masyarakat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada satu hal yang baru saya sadari kemudian. Di Piyungan berdiri satu PTSP besar milik pemerintah setempat yang menandai hadirnya negara secara formal. Namun, dalam praktik sehari-hari, justru warga yang terlihat lebih dominan mengelola ekonomi wilayahnya sendiri. Ini memperlihatkan masyarakat punya kendali kemandirian secara ekonomi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masing-masing seperti CEO di lingkupnya sendiri. Ada yang menguasai jalur pengumpulan, spesialis pemilahan, hingga lihai distribusi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di titik ini saya merasa, ukuran kemerdekaan ternyata tidak selalu identik dengan menjadi pegawai start-up di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kerja-di-scbd-keren-tapi-bikin-stres\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">SCBD<\/a>. Di Piyungan, kemerdekaan terasa lebih sederhana dengan bisa menyekolahkan anak, bisa makan cukup, bisa bercanda setelah kerja seharian, dan bisa tidur tanpa dihantui target esok pagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan segala kerendahan hati, saya berani bilang kebahagiaan di Piyungan terasa lebih jujur nan tulus dibanding hiruk-pikuk Jakarta yang sering terlihat gemerlap tapi sangat paradoks.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Muhammad Nabil Alfarizi<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/piyungan-kecamatan-paling-menyedihkan-di-kabupaten-bantul\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Piyungan, Kecamatan Paling Menyedihkan di Kabupaten Bantul<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini\u00a0<\/i><\/a><i>ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di Piyungan, mereka seperti CEO di lingkupnya sendiri. Ada yang menguasai jalur pengumpulan, spesialis pemilahan, hingga lihai distribusi.\u00a0<\/p>\n","protected":false},"author":3203,"featured_media":390007,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[5766,16137,32331,24255,26786,32332],"class_list":["post-389974","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bantul","tag-limbah","tag-pengolahan-sampah","tag-piyungan","tag-piyungan-bantul","tag-rongsokan"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/389974","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3203"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=389974"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/389974\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":390008,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/389974\/revisions\/390008"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/390007"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=389974"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=389974"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=389974"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}