{"id":38960,"date":"2020-05-22T01:51:46","date_gmt":"2020-05-21T18:51:46","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=38960"},"modified":"2020-05-21T01:01:38","modified_gmt":"2020-05-20T18:01:38","slug":"berlutut-dan-pakai-bahasa-jawa-kromo-adalah-the-real-sungkeman-saat-lebaran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/berlutut-dan-pakai-bahasa-jawa-kromo-adalah-the-real-sungkeman-saat-lebaran\/","title":{"rendered":"Berlutut dan Pakai Bahasa Jawa Kromo Adalah The Real Sungkeman saat Lebaran"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri merupakan salah dua dari banyak momen-momen yang ramai dirayakan orang-orang Indonesia. Tradisi dan lagu-lagu tak pernah lepas dari perayaan ketika hari besar tiba. Misalnya saja lagu,<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Selamat hari lebaran, Minal Aidzin wal Faidzin.<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mari bersalam-salaman, mari bermaaf-maafan.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang menandakan bahwa Hari Raya Idul Fitri sudah sangat dekat. Sedangkan bersalam-salaman dan bermaaf-maafan juga menjadi salah satu tradisi ketika lebaran. Sejatinya, adanya Idul Fitri menghendaki orang-orang muslim untuk senantiasa kembali ke fitrah, bersih, dan suci. Salah satunya melalui maaf yang diberikan dan didapatkan dari orang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka dari itu kita sering mendengar istilah di hari raya, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKita kosong-kosong, ya!\u201d<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Yang maksudnya bahwa semua salah dan khilaf sudah dimaafkan antara satu sama lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, di Indonesia, terutama di tanah Jawa, prosesi bermaaf-maafan dikemas dalam tradisi yang bernama sungkeman. Makna dari sungkeman sendiri adalah sebagai ritual penyadaran diri. Anak-anak muda diajak dan diingatkan kembali tentang bagaimana seharusnya memperlakukan orang tua, terutama kepada ayah dan ibu. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Fyi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> aja nih, sungkeman tidak hanya dilakukan ketika acara pernikahan, tetapi juga ketika perayaan hari besar seperti lebaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biasanya, sungkem dilakukan selepas salat Idul Fitri. Selain itu, dilakukan ketika seseorang meminta restu kepada orang yang lebih tua dan dihormati. Dalam ajaran Islam, sesungguhnya saling memaafkan itu tidak ditetapkan waktunya. Minta maaf harus segera dilakukan kapan saja setelah seseorang merasa berbuat salah kepada orang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sungkeman menjadi teramat spesial apabila dalam rangka memenuhinya benar-benar membutuhkan usaha yang panjang. Bagi mereka yang merantau dan jauh dari orang tua, sungkeman menjadi momen yang paling ditunggu. Apalagi jika sudah satu tahun bahkan lebih tidak bertemu dan menahan rindu kepada orang tua. Ditambah lagi dengan datangnya Hari Raya Idul Fitri yang membuat dorongan untuk pulang dan bertemu dengan orang tua di rumah semakin tak terbendung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika menilik dari sejarah, tidak diketahui pasti kapan dan di mana tradisi sungkeman ketika lebaran ini bermula. Namun, seorang budayawan senior dari Universitas Gadjah Mada (UGM), <\/span><a href=\"https:\/\/www.liputan6.com\/lifestyle\/read\/3980997\/cerita-akhir-pekan-mengenal-tradisi-sungkeman-lebaran-di-indonesia\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dr. Umar Khayam (alm.)<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> pernah berteori perihal awal mula prosesi yang lekat di masyarakat Jawa ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ia menyebutkan bahwa tradisi lebaran merupakan akulturasi budaya Jawa dan Islam. Kearifan para ulama di Jawa mampu memadukan kedua budaya tersebut demi kerukunan dan kesejahteraan masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada suatu adab tersendiri saat sedang sungkem, misalnya mengapit tangan seseorang dengan kedua tangan kita lalu merendah dengan jongkok di depan orang yang lebih tua sambil menundukkan kepala dengan pengucapan maaf yang penuh memelas. Ini semua demi terwujudnya rasa hikmat yang mengena.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika lebaran, beberapa keluarga mungkin sudah meninggalkan cara seperti ini dan melakukan prosesi saling memaafkan dengan bersalaman seperti biasa ketika kita hendak pergi ke sekolah dulu. Mereka tidak membungkuk bahkan tidak jongkok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, memang terasa canggung melakukan hal yang tak biasa dilakukan dengan orang tua seperti sungkem. Dan begitulah kita, yang kata orang-orang sebagai anak muda zaman sekarang, cenderung malu mengakui kesalahan dan menyatakan perasaan sebenarnya di hadapan orang tua. Mau bilang sayang, malu. Mau mengakui kesalahan atau minta maaf dengan sopan, juga malu. Bahkan mau bilang terima kasih pun terkadang juga malu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi kalau ke gebetan, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">wes<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> nggak perlu ditanya lagi itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedangkan keluarga saya sendiri masih menerapkan tradisi semacam ini ketika lebaran tiba. Tak peduli zaman telah berubah, atau banyak yang mengatakan bahwa itu kuno sekalipun. Pokoknya ketika lebaran, harus tetap sungkeman. Kami harus membungkuk atau berlutut ketika sungkem di hadapan orang tua dan keluarga yang telah sepuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada dasarnya, saya sendiri juga tidak mempermasalahkan. Akan tetapi, kewajiban menggunakan bahasa Jawa kromo inggil, sering kali bikin kami agak kesusahan. Seperti ini,<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKlo ngaturaken sugeng riyadi lan nyuwun pangapunten dumatheng sedoyo kelepatinipun lan klenta klentinipun kulo\u201d. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Yang artinya: saya ucapkan selamat hari raya dan minta maaf dari semua kesalahan dan kekeliruan saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahasa Jawa kromo inggil memang lebih terlihat sopan jika digunakan untuk hal-hal sakral Selain itu, penggunaan bahasa tersebut juga dianggap sarat akan makna. Dan jika saya lupa, maka ibu saya akan dengan baik hati mendikte kalimat tersebut kemudian akan saya ulangi lagi. Yah beginilah risiko anak muda yang jarang sekali menggunakan bahasa kromo dengan orang tua.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA Esai-esai\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/terminal-ramadan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Terminal Ramadan<\/a>\u00a0Mojok lainnya.<\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Makna dari sungkeman adalah ritual penyadaran diri. Anak-anak muda diajak dan diingatkan kembali tentang bagaimana seharusnya memperlakukan orang tua,<\/p>\n","protected":false},"author":358,"featured_media":38927,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[6830,342,6829,6305],"class_list":["post-38960","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-krama-inggil","tag-lebaran","tag-sungkeman","tag-terminal-ramadan"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38960","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/358"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=38960"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38960\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/38927"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=38960"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=38960"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=38960"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}