{"id":38953,"date":"2020-05-09T01:54:36","date_gmt":"2020-05-08T18:54:36","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=38953"},"modified":"2020-05-08T15:41:18","modified_gmt":"2020-05-08T08:41:18","slug":"sejak-kapan-sih-istilah-ngabuburit-jadi-tren-ketika-ramadan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sejak-kapan-sih-istilah-ngabuburit-jadi-tren-ketika-ramadan\/","title":{"rendered":"Sejak Kapan sih Istilah Ngabuburit Jadi Tren Ketika Ramadan?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ingat sekali, dulu ketika zaman saya masih duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Yang hampir selalu menjadi topik perbincangan ketika Ramadan tiba adalah, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cEh, ngabuburit di mana nih?\u201d<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Ya, pernah ada di suatu masa, ngabuburit jadi kegiatan yang begitu keren di kalangan anak-anak dan remaja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, sebagai seorang anak yang sudah mondok sejak lulus sekolah dasar dan baru pindah rumah, membuat saya tidak memiliki kenalan dengan teman-teman satu kampung pada saat itu. Membuat saya juga tidak punya kawan sebaya untuk bisa diajak ngabuburit di daerah sekitar rumah. Alhasil, saya merasa tidak bisa menjadi anak yang \u2018keren\u2019 di kalangan teman-teman yang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun dalam hal ini, ngabuburit yang dianggap keren seperti nongkrong dengan teman-teman dari sehabis Asar hingga menjelang Magrib. Lalu berswafoto dan dibagikan di media sosial paling nge-hits pada masanya yakni Facebook dan BBM. Atau paling tidak, sekadar menjawab pertanyaan teman dari SMS dengan tanggapan, \u201dAku lagi ngabuburit, nih\u201d dengan jalan-jalan di luar rumah. Sehingga, dulu saya pikir-pikir, ngabuburit nggak jauh beda sama JJS alias Jalan-jalan Sore. Jadi, kenapa istilah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ngabuburit<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> nggak dipakai juga ketika di luar bulan Ramadan, sih?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantaran saking banyaknya orang mengucapkan kata <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ngabuburit,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sehingga jika ada survey tentang pengucapan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ngabuburit<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> di setiap harinya, mungkin akan ditemukan jutaan bahkan lebih. Jelas, karena saking eksisnya istilah ini di bulan Ramadan. Sehingga istilah ini menjadi kata yang sudah tidak asing bagi masyarakat Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika dicek di Kamus Besar Bahasa Indonesia, ngabuburit<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">memiliki arti, menunggu azan Magrib menjelang berbuka puasa pada waktu bulan Ramadan. Sementara itu, menurut Kamus Bahasa Sunda yang diterbitkan oleh Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda (LBSS), kata ini merupakan<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0lakuran bahasa Sunda dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ngalantung ngadagoan burit<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, artinya bersantai-santai sambil menunggu waktu sore. Kata dasarnya<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">, burit<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, yang berarti sore hari. Waktu ini biasanya antara usia salat Asar hingga sebelum matahari terbenam. Ada juga yang mengatakan bahwa ngabuburit berasal dari kata <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">burit<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> saja (bukan merupakan lakuran) yang mendapatkan imbuhan dan pengulangan suku kata pertama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bisa jadi memang dulunya, kata ini tidak identik dengan bulan Ramadan. Alias ya, nggak jauh beda dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">jagongan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sambil nunggu waktu magrib. Namun jika diberi pertanyaan: Sejak kapan kata <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ngabuburit<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)? Jawabannya: Saya pun masih tidak tahu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hanya saja, setelah saya ingat-ingat, istilah ini ngetren ketika saya duduk di Sekolah Menengah Pertama. Ini bersamaan dengan adanya sebuah acara televisi yang berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ngabuburit <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang ditayangkan di TransTV. Sebuah acara <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">variety show<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> komedi dan diisi oleh Soimah, Ruben Onsu, Baim cilik yang menampilkan berbagai macam hiburan dan dikemas secara komedi, serta ada games interaktif yang berhadiah jutaan rupiah <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">ya, konsep lama yang selalu bisa menjual rating<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. Selain itu, dalam acaranya juga menyajikan ceramah keagamaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, seingat saya, sejak saat itu istilah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ngabuburit<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sangat intens digunakan media televisi. Di mana setiap bulan Ramadan, semua <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">channel<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> televisi akan menayangkan acara-acara dengan menggunakan topik dari istilah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ngabuburit.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kata Wikipedia sih, acara TV itu juga diulang lagi pada tahun 2014. Dan pada tahun 2018, TransTV menyiarkan acara serupa dengan judul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ngabuburit Happy <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(iyaaa, nambah satu kata doang). Hingga kemudian menyusul acara-acara yang lain seperti konser musik pada bulan Ramadan, yang diselenggarakan pada sore hari dan umumnya dibubuhi istilah dengan istilah ini<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya jadi memiliki kesimpulan sendiri bahwa media, televisi salah satunya, masih memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan masyarakat. Bahkan hingga ke ranah kata-kata yang sering diucapkan. Istilah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ngabuburit<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> contohnya, menjadi lebih identik, eksis, dan mendapatkan tempat tersendiri di lingkungan kita karena seringnya ia dimunculkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walaupun pada akhirnya saya juga menjadi paham bahwa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ngabuburit<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tidak sekadar seperti jalan-jalan sore atau nongkrong sembari menunggu azan Magrib. Namun, juga bagaimana mengisi waktu tersebut dengan kegiatan-kegiatan positif lainnya.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA Esai-esai\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/terminal-ramadan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Terminal Ramadan<\/a>\u00a0Mojok lainnya.<\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jika dicek di Kamus Besar Bahasa Indonesia, ngabuburit memiliki arti, menunggu azan Magrib menjelang berbuka puasa pada waktu bulan Ramadan.<\/p>\n","protected":false},"author":358,"featured_media":38927,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[392,6305],"class_list":["post-38953","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-ngabuburit","tag-terminal-ramadan"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38953","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/358"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=38953"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38953\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/38927"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=38953"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=38953"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=38953"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}