{"id":389120,"date":"2026-02-02T12:34:34","date_gmt":"2026-02-02T05:34:34","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=389120"},"modified":"2026-02-02T12:34:34","modified_gmt":"2026-02-02T05:34:34","slug":"jogja-memang-santai-tapi-warganya-hampir-gila","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-memang-santai-tapi-warganya-hampir-gila\/","title":{"rendered":"Jogja Memang Santai, tapi Diam-diam Banyak Warganya yang Capek karena Dipaksa Santai meski Hampir Gila"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja sering disebut kota santai. Kalimat itu biasanya keluar dari mulut orang yang datang sebentar, lalu pulang dengan kenangan angkringan, senja, dan harga makanan yang katanya murah. Mereka melihat Jogja seperti kartu pos: tenang, ramah, dan tidak tergesa-gesa. Tapi bagi orang yang tinggal lama, hidup di sini, dan menggantungkan penghidupan di sini, kata santai itu jelas bukan sesuatu yang akan mereka amini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja memang jauh dari kata ribut. Klakson jarang terdengar, orang bicara dengan nada santai, marah pun mereka memutar kata. Tapi itulah masalah sebenarnya: hal-hal tersebut disalahartikan sebagai ketenangan, padahal bisa jadi mereka tak tahu lagi cara mengekspresikan kelelahan yang ada.<\/span><\/p>\n<h2><b>Diam yang bergejolak<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Jogja, santai sudah berubah menjadi semacam label sosial. Orang Jogja seolah diwajibkan tenang, kalem, tidak reaktif. Kalau terlihat stres, nanti dibilang kurang menikmati hidup. Kalau mengeluh, dianggap tidak bersyukur. Bila marah, dicap tidak njawani. Akhirnya, banyak orang memilih satu jalan aman: diam, meski dada rasanya ingin terbelah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesantaian ala Jogja ini akhirnya berakhir jadi topeng. Terlihat adem dari luar, tapi tekanan hidup menggerogoti dari dalam. Dan cobaan hidup dari luar macam harga kos yang naik, <a href=\"https:\/\/money.kompas.com\/read\/2025\/12\/30\/163047426\/gaji-umr-sleman-2026-ump-jogja-2026-dan-umk-di-5-kabupaten-kota\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">gaji kecil<\/a>, tapi terbebani tuntutan sosial tetap mendera. Akhirnya, predikat santai justru jadi masalah utama orang-orang yang hidup di Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Harusnya, kata santai ini jadi kualitas, tapi nyatanya, justru bikin hati makin mengeras.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-itu-aslinya-murah-tapi-jadi-mahal-gara-gara-pendatang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>BACA JUGA: Jogja Itu Aslinya Murah, tapi Jadi Mahal Gara-gara (Gaya Hidup) Pendatang<\/strong><\/a><\/p>\n<h2><b>Menekan emosi karena ora penakan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Budaya ora penakan ikut memperparah keadaan. Tidak enakan membuat orang Jogja piawai menunda kepentingan sendiri. Menolak ajakan kumpul dianggap tidak sopan. Mengungkapkan keberatan terasa seperti dosa sosial. Akhirnya, banyak orang hadir di mana-mana secara fisik, tapi absen secara batin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang menarik, kesantaian ini justru sering dipuji dari luar. Jogja dianggap dewasa secara emosional, padahal bisa jadi hanya terbiasa menekan emosi. Tenang bukan karena selesai dengan masalah, tapi karena sudah capek membicarakannya. Tidak ribut bukan karena tidak marah, tapi karena tidak tahu bagaimana caranya marah tanpa merusak citra diri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ironisnya, ruang aman untuk mengeluh di Jogja justru terasa sempit. Ketika seseorang mulai bercerita tentang lelahnya hidup, respons yang muncul sering klise: \u201cdinikmati saja\u201d, \u201cJogja kan santai\u201d, atau \u201cyang penting sehat\u201d. Niatnya baik, tapi dampaknya mematikan percakapan. Seolah-olah capek tidak punya legitimasi di kota yang sudah telanjur diberi label nyaman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di kota besar lain, orang boleh terlihat stres tanpa banyak penjelasan. Di Jogja, stres harus dibungkus senyum. Marah harus diubah jadi candaan. Kecewa harus ditelan sendiri. Semua demi menjaga suasana tetap adem. Padahal, tidak semua orang butuh suasana adem. Kadang, yang dibutuhkan hanya didengarkan tanpa dihakimi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seolah-olah, yang boleh stres hanya orang di kota lain. Jogja, hah, jangan harap.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/orang-masih-bertahan-di-jogja-karena-nggak-punya-pilihan-lagi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>BACA JUGA: Orang Masih Bertahan di Jogja Tak Melulu karena Nyaman, tapi Bisa Jadi karena Nggak Punya Pilihan Lagi<\/strong><\/a><\/p>\n<h2><b>Pengorbanan orang Jogja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja memang santai dalam banyak hal. Tapi kesantaian itu sering menuntut pengorbanan emosional dari warganya. Ia meminta orang-orangnya untuk selalu terlihat baik-baik saja, meski kenyataannya tidak. Ia ramah pada wisatawan, tapi agak pelit pada warganya sendiri dalam urusan ruang emosional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini yang saya lihat tentang jogja, tentu saja bukan ajakan untuk membenci. Justru sebaliknya. Jogja tetap kota yang penuh kelebihan. Tapi mungkin sudah waktunya kita berhenti mengglorifikasi kesantaian tanpa bertanya: Santai versi siapa? Untuk siapa? Dan dengan harga apa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena di balik kota yang katanya tenang, ada banyak orang yang belajar bertahan hidup sambil tersenyum. Bukan karena bahagia, tapi karena tidak ada pilihan lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja memang santai. Tapi jangan-jangan, ia hanya santai di permukaan. Di bawahnya, banyak yang sedang capek secara diam-diam.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Supriyadi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/catatan\/kebohongan-jogja-yang-menyimpan-keburukan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kesialan Bertubi yang Bikin Saya Merenung dan Nyaris Menyesal Pindah ke Jogja yang Penuh dengan Kebohongan<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jogja memang santai. Tapi jangan-jangan, ia hanya santai di permukaan. Di bawahnya, banyak yang sedang capek secara diam-diam.<\/p>\n","protected":false},"author":3187,"featured_media":381867,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[32262,115,32263,32264],"class_list":["post-389120","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-gaya-hidup-orang-jogja","tag-jogja","tag-jogja-kota-santai","tag-masalah-mental-orang-jogja"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/389120","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3187"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=389120"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/389120\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":389191,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/389120\/revisions\/389191"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/381867"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=389120"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=389120"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=389120"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}