{"id":389022,"date":"2026-02-01T17:30:03","date_gmt":"2026-02-01T10:30:03","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=389022"},"modified":"2026-02-01T17:19:16","modified_gmt":"2026-02-01T10:19:16","slug":"menganggap-irt-adalah-aib-itu-cara-berpikir-yang-dangkal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menganggap-irt-adalah-aib-itu-cara-berpikir-yang-dangkal\/","title":{"rendered":"Betapa Dangkal Cara Berpikir Mereka yang Menganggap Jadi IRT Adalah Aib"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhir-akhir ini istri saya sedang ketagihan mencoba hal baru. Salah satunya, membuat konten masak di media sosial. Dia seorang guru, tapi memang butuh ruang lain untuk menyalurkan passion dan bakat yang dimilikinya. Maka seperti kebanyakan manusia pemula yang mau belajar, dia rajin mengamati konten kreator lain yang lebih dulu sukses.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya datang semalam. Istri saya tiba-tiba kesal setelah melihat salah satu <\/span><a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/artiyanangeliza_\/p\/DUHpMrgCV3v\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">konten kreator<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> yang dia ikuti mendapat pesan dari seorang akademisi. Pesannya singkat tapi menohok. Orang itu menilai bahwa lulusan PTN yang jadi IRT tidak pantas membuat konten dan disebar di ruang publik. Lebih baik kontennya di-take down saja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pesan tersebut mencerminkan cara berpikir yang sempit cum dangkal. Gelar pendidikan diperlakukan seperti titel kehormatan yang harus dijaga citranya, bukan sebagai alat untuk hidup dan menghidupi. Seolah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/derita-lulus-kuliah-usia-25-tahun\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">lulusan PTN<\/a> hanya boleh bekerja di ruang-ruang yang dianggap terhormat. Sementara dapur dan rumah tangga dianggap turun derajat. Padahal yang menentukan mulia atau tidaknya hidup bukan tempat kita bekerja, melainkan bagaimana kita bertanggung jawab atas pilihan kita sendiri.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kampus bukan penjamin hidup, paling jauh cuma penunjuk jalan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perlu kita sepakati bahwa kampus tidak pernah menandatangani kontrak untuk menjamin kehidupan alumninya. Ia hanya menyediakan ruang belajar, ijazah, dan sedikit kenangan manis maupun pahit semasa perkuliahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah wisuda, hidup sepenuhnya ya urusan masing-masing. Mau jadi pegawai, petani, pedagang, guru, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/content-creator-cari-uang-dari-mengajar-orang-menghasilkan-uang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">konten kreator<\/a>, atau ibu rumah tangga sekalipun kampus tidak lagi ikut menanggung konsekuensi yang dijalani oleh alumninya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena itu agak aneh ketika ada pihak yang merasa punya otoritas moral atas pilihan hidup salah seorang alumni. Seolah-olah setelah lulus, alumni wajib menjaga citra institusi, bahkan sampai ke urusan dapur dan dunia konten. Padahal kampus tidak ikut urun membayar listrik, kuota internet, apalagi belanja bulanan. Kalau hidup alumni saja tidak dijamin, kenapa ekspresi hidupnya masih ingin ikut diatur?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hasil pendidikan yang sudah dipelajari di kampus seharusnya membuat seseorang lebih lentur menghadapi kenyataan, bukan justru kaku dalam menilai hidup yang dijalani orang lain. Jika pendidikan tinggi malah melahirkan sikap merasa paling tinggi, barangkali yang salah bukan alumninya yang jadi IRT, tapi cara kita memahami makna sebuah pendidikan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Marwah kampus tidak akan buyar hanya karena konten dari IRT<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Permintaan untuk menurunkan konten demi menjaga marwah kampus sebenarnya terlalu berlebihan. Marwah institusi pendidikan tidak akan runtuh karena alumninya\u00a0 mengurus rumah lalu membagikannya di media sosial. Kalau reputasi kampus bisa goyah oleh kegiatan domestik ibu rumah tangga, berarti sejak awal almamater tersebut memang dibangun dengan asumsi yang rapuh. Sekaligus menunjukkan bahwa kerja-kerja perawatan masih dipandang sebelah mata dan tidak produktif di kampus.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, dalam beberapa konten yang sering dibagikan oleh konten kreator tersebut, menurut keyakinan saya tidak ada hinaan terhadap almamater. Tidak ada pelecehan terhadap ilmu pengetahuan. Yang ada hanya aktivitas hidup yang wajar: memasak, berbagi pengalaman, guyonan menghadapi realitas kehidupan dan tentu saja niatan untuk mendapat penghasilan tambahan. Menariknya, yang merasa tersinggung justru bukan kampus sebagai institusi, melainkan individu yang tampaknya terlalu mengikat harga dirinya pada label berpendidikan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Banyak lulusan kampus menganggur, nggak salah jika memanfaatkan ruang digital untuk mendapat penghasilan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu kita jangan menutup mata dengan data <\/span><a href=\"https:\/\/www.cnbcindonesia.com\/research\/20250501113031-128-630195\/banyak-sarjana-menganggur-gelar-ijazah-tak-bisa-lagi-jadi-senjata\"><span style=\"font-weight: 400;\">Februari 2025<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, jumlah lulusan perguruan tinggi (sarjana\/S1) yang menganggur di Indonesia mencapai lebih dari 1,01 juta orang. Sarjana menyumbang sekitar 6,5 persen dari total pengangguran nasional, bahkan menjadi angka tertinggi dalam empat tahun terakhir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sehingga di tengah kondisi ini, memanfaatkan ruang digital untuk mendapatkan penghasilan bukan sekadar wajar, tapi logis. Jika lapangan pekerjaan konvensional belum membuka pintu, mengapa tidak membuka pintu lain? Membuat konten, jualan online, hingga berbagi keahlian melalui media sosial adalah cara adaptif untuk bertahan hidup. Justru hal ini menunjukkan kreativitas dan keberanian, bukan aib yang mesti disembunyikan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jadi IRT juga pekerjaan mulia<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi seorang IRT, dengan atau tanpa embel-embel alumni PTN, bukan suatu indikator kemunduran. Itu pilihan hidup. Yang justru perlu dikoreksi adalah cara berpikir yang masih gemar mengurutkan martabat manusia berdasarkan profesi atau pekerjaannya. Seolah ada urutan pekerjaan yang pantas tampil di ruang publik, dan menjadi IRT masuk di kategori yang perlu disembunyikan, begitu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mbok ya sebagai alumni atau bahkan akademisi kampus semestinya bisa melatih <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-mengapa-orang-bisa-tidak-memiliki-empati-sampai-meminta-orang-miskin-jangan-punya-anak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">empati<\/a>, bukan justru merasa berhak mengukur derajat hidup orang lain. Kalau seseorang merasa terganggu oleh pilihan hidup alumni, barangkali yang terusik bukan marwah kampus, melainkan egonya sendiri. Ego yang belum siap menerima bahwa dunia sudah berubah, dan keberhasilan tidak lagi satu jalur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya yang perlu mawas diri bukanlah alumni PTN yang memilih menjadi IRT dan berkonten dengan jujur. Yang perlu bercermin justru mereka yang masih sibuk menjaga simbol, tapi lupa bahwa tujuan ilmu adalah memanusiakan manusia, bukan sekadar menghakiminya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Dimas Junian Fadillah<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-ide-usaha-yang-cocok-untuk-ibu-rumah-tangga\/\"><b><i>5 Ide Usaha yang Cocok untuk Ibu Rumah Tangga, Bisa Dikerjakan dari Rumah dan Cuan Menjanjikan.<\/i><\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menganggap IRT adalah aib itu cara berpkir yang dangkal dan tidak adil karena aslinya, IRT itu perkejaan yang mulia dan produktif. <\/p>\n","protected":false},"author":2710,"featured_media":389054,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[584,4133,25872,72],"class_list":["post-389022","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-content-creator","tag-ibu-rumah-tangga","tag-irt","tag-pekerjaan"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/389022","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2710"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=389022"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/389022\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":389144,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/389022\/revisions\/389144"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/389054"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=389022"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=389022"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=389022"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}