{"id":388154,"date":"2026-01-30T10:40:50","date_gmt":"2026-01-30T03:40:50","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=388154"},"modified":"2026-01-31T20:13:19","modified_gmt":"2026-01-31T13:13:19","slug":"kuliner-madura-enak-kecuali-yang-dari-sumenep","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kuliner-madura-enak-kecuali-yang-dari-sumenep\/","title":{"rendered":"Di Lidah Orang Jawa, Kuliner Madura Enak Kecuali yang dari Sumenep"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitu mudah menemukan kuliner Madura di berbagai daerah di Indonesia. Sebut saja, sate dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-tanda-warung-bebek-madura-enak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bebek Madura<\/a>. Hampir di tiap daerah ada karena memang banyak penggemarnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, kehadiran makanan-makanan itu jadi representasi yang baik Madura di daerah lain. Namun, dua makanan itu ternyata belum bisa menggambarkan kuliner Madura secara keseluruhan. Sebab, ternyata ada makanan lain yang nggak cocok di lidah banyak orang Jawa. Terutama makanan dari Sumenep Madura. Setidaknya inilah yang terjadi di orang-orang sekitar saya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekali lagi, tulisan ini tidak bermaksud menggeneralisasi selera orang Jawa ya. Ini hanya pengalaman saya dan orang-orang sekitar. Kebetulan, saya punya banyak keluarga di Jawa. Pacar saya, juga dari Jawa. Dan, kok ya kebetulan mereka nggak cocok dengan kuliner Sumenep Madura.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/saya-tidak-pernah-memilih-lahir-di-madura-tapi-kenapa-saya-dihina\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em>Baca juga Saya Tidak Pernah Memilih Lahir di Madura, tapi Kenapa Saya Terus-terusan Dihina? Apakah Salah Jadi Orang Madura?<\/em><\/a><\/p>\n<h2><b>Kaldu dan campor<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kakak ipar dari Mojokerto tidak cocok dengan kuliner Sumenep bernama Kaldu. Katanya, rasa kaldu aneh banget saat dikunyah. Asal tahu saja, kaldu berbahan dasar kacang hijau dengan kuah gurih. Kuahnya bisa gurih karena di dalamnya ada bawang merah, bawang putih, jahe, daun salam, dan lain-lain. Selain bercita rasa gurih, kaldu juga ada aroma daging sapi karena biasanya dicampur daging atau kikil.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gimana rasanya? Banyak orang Sumenep yang suka. Tapi, bagi orang luar, dianggap aneh. Sebagaimana tulisan Wulan Maulina yang merupakan orang luar,<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">menceritakan<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> kekagetannya mencicipi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/culture-shock-makan-kaldu-kokot-di-sumenep-madura\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kaldu<\/a> saat berkunjung ke Sumenep. Menurutnya, yang bikin aneh adalah bahan bakunya dari kacang hijau.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, pacar saya tidak cocok dengan campor, makanan paling ikonik di Sumenep Madura. Campor mirip dengan soto, tapi kuahnya merah kental. Kuahnya terbuat dari campuran santai, cabai, dan bumbu-bumbu lainnya.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kuliner-madura-enak-kecuali-yang-dari-sumenep\/2\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: Wajar saja &#8230;<\/strong><\/em><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>Wajar saja orang Jawa nggak cocok kuliner Sumenep Madura<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah saya pikir-pikir, bukan fenomena mengagetkan kalau lidah orang Jawa\u00a0 menolak beberapa makanan Sumenep Madura. Soalnya, kalau saya renungkan lagi, makanan Sumenep memang terbilang antimainstream. Bahkan, saya mengatakan kalau makanan Sumenep, ada yang melawan logika umum.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu kuliner yang paling aneh adalah palotan pendeng. Palotan pendeng adalah makanan ketan dan diberi lauk ikan pindang. Terlihat aneh, bukan? Soalnya, kuliner ketan umumnya disajikan dengan cita rasa manis. Saat saya di Surabaya, Malang, dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lumajang-bikin-sinting-slow-living-malah-tambah-pusing\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Lumajang<\/a>, tidak pernah sekalipun menemukan ketan yang dicampur ikan laut. Umumnya, ketan pasti variannya manis.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara, cita rasa palotan pendeng, jauh dari kata manis. Cita rasanya, hampir mirip nasi sama ikan pindang, jadi aroma dan rasa amisnya kuat. Keluarga saya yang dari Lumajang pernah mencicipi sekali, itupun sedikit. Lalu, ditawari lagi, dia menolaknya. Jangankan keluarga saya yang dari Lumajang, saya saja juga tidak suka dengan palotan pendeng. Bagi saya, rasanya aneh.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/plesir-ke-madura-jangan-asal-supaya-tidak-menyesal\/\"><em>Baca juga 3 Persiapan Penting Sebelum Plesir ke Madura, Jangan Asal supaya Tidak Menyesal.<\/em><\/a><\/p>\n<h2><b>Perpaduan yang kompleks<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang Sumenep Madura yang pernah mencicipi kehidupan di luar Madura. Bisa saya bilang, kuliner tempat tinggal saya itu kompleks. Setidaknya lebih kompleks daripada kuliner di Jawa. Begini, kalau saya pulang ke kampung Lumajang misal, makanan di sana cenderung tidak neko-neko. Sajian soto, ya soto aja. Sajian penyetan, ya penyetan aja. Begitu pula dengan rawon, rujak, dan banyak makanan lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu jelas jauh berbeda dengan cara penyajian kuliner Sumenep Madura. <a href=\"https:\/\/timesindonesia.co.id\/kuliner\/347319\/campor-lorjuk-kuliner-khas-pamekasan-yang-wajib-anda-coba\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Campor<\/a> misal. Penyajiannya tidak hanya campor, tapi lebih kompleks. Ada kuah bersantan, ulekan kacang, hingga petis Madura. Pantas aja pacar saja nggak doyan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh lain, adalah soto selingkuh. Seperti namanya, soto selingkuh disajikan dari dua unsur, yakni kuah soto yang dicampur sama bumbu rujak kacang. Gimana rasanya? Ketika saya menyantap pertama kali, rasanya membingungkan karena ada rasa sotonya, terus ada rasa rujaknya.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di atas beberapa kuliner Madura yang nggak cocok di lidah teman-teman Jawa saya. Sekali lagi, tulisan ini tidak bermaksud mengeneralisir lidah orang Jawa. Bukan juga untuk merendahkan kuliner Sumenep Madura. Tulisan ini cuma ingin menceritakan pengalaman saya. Dan, berdasar itu, saya jadi menyadari betapa kata kuliner di Indonesia, begitu pula dengan seleranya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Akbar Mawlana<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><em><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/saya-tidak-pernah-memilih-lahir-di-madura-tapi-kenapa-saya-dihina\/\">Saya Tidak Pernah Memilih Lahir di Madura, tapi Kenapa Saya Terus-terusan Dihina? Apakah Salah Jadi Orang Madura?<\/a><\/strong><\/em><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini <\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kuliner Madura terkenal enak seperti bebek dan sate Madura, tapi selain itu banyak kuliner lain yang kurang cocok di lidah orang Jawa.  <\/p>\n","protected":false},"author":891,"featured_media":388274,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[438,16843,5020,462,32212,16880,24728],"class_list":["post-388154","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-kuliner","tag-kuliner-madura","tag-madura","tag-makanan","tag-makanan-madura","tag-sumenep","tag-sumenep-madura"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/388154","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/891"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=388154"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/388154\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":388450,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/388154\/revisions\/388450"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/388274"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=388154"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=388154"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=388154"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}