{"id":388138,"date":"2026-01-29T14:53:50","date_gmt":"2026-01-29T07:53:50","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=388138"},"modified":"2026-01-30T19:19:37","modified_gmt":"2026-01-30T12:19:37","slug":"4-stigma-norak-orang-luar-madura-tentang-orang-madura-yang-perlu-diluruskan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-stigma-norak-orang-luar-madura-tentang-orang-madura-yang-perlu-diluruskan\/","title":{"rendered":"4 Pandangan Norak Orang Luar Madura tentang Orang Madura yang Perlu Diluruskan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Topik soal daerah asal biasanya jadi menu paling menarik kalau lagi ngobrol bareng teman lintas daerah. Dari situ biasanya obrolan melebar ke mana-mana, mulai dari flexing pariwisata, bandingin budaya, sampai adu nasib masalah sosial. Dari sekian banyak obrolan begini, saya menemukan pola yang cukup seragam, yaitu ketidaktahuan orang luar Madura tentang Madura ternyata sudah keterlaluan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak yang akhirnya ngaku kalau selama ini bayangan mereka tentang Madura tertutup kabut tebal stigma. Untungnya, sebagian bisa tercerahkan setelah diajak ngobrol.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, nggak semua orang mau update isi kepala. Ada juga yang tetap \u201cbatu\u201d mempertahankan pandangan norak dan stigmatik. Di tengah dunia yang makin terhubung secara global, ternyata banyak yang cara mikirnya masih kolot, terutama kalau urusan melihat Madura.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berikut beberapa pandangan norak orang luar terhadap orang Madura yang sering saya temui.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Nggak tahu kalau Madura itu punya empat kabupaten<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Madura ada empat kabupaten. Ini bukan pengetahuan yang disembunyikan oleh elit global, bukan juga konspirasi yang dihapus dari buku sejarah Indonesia, tapi masih saja banyak orang luar yang nggak tahu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sering dapat pertanyaan konyol dari teman non-Madura soal kejadian tertentu di Madura. Misalnya, ada kejadian di Kabupaten Bangkalan, tapi yang ditanya detail peristiwanya malah saya yang orang <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kabupaten_Sumenep\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sumenep.<\/a> Ini jelas nggak nyambung. Jarak Sumenep ke Bangkalan itu setara jarak Surabaya-Lumajang. Sekarang pertanyaannya, apakah orang Surabaya tahu detail peristiwa yang terjadi di Lumajang? Ya belum tentu, kan!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lagi kalau ngobrolin soal budaya. Memang ada beberapa budaya yang sama, tapi nggak semuanya seragam. Perubahan-perubahan sosial bikin tiap daerah berkembang dengan caranya masing-masing. Dalam cara bertutur, misalnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, saya dan beberapa teman-teman yang kuliah di Jawa sering diragukan kemaduraannya cuma karena tutur bahasa yang\u2014menurut pikiran norak mereka\u2014nggak menggambarkan Madura. Katanya \u201cKok bahasanya halus? Bukannya orang Madura bicaranya kasar, ya?\u201d Di titik ini kelihatan banget mereka mainnya kurang jauh.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/saya-tidak-pernah-memilih-lahir-di-madura-tapi-kenapa-saya-dihina\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>BACA JUGA: Saya Tidak Pernah Memilih Lahir di Madura, tapi Kenapa Saya Terus-terusan Dihina? Apakah Salah Jadi Orang Madura?<\/strong><\/a><\/p>\n<h2><b>#2 Menganggap orang Madura SDM rendah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini sering banget saya temui di media sosial. Sentimen soal orang Madura sebagai SDM rendah banyak tersebar di konten-konten, kolom komentar, dan mungkin juga menetap di alam bawah sadar orang luar. Meski memang, kalau bicara data, tingkat pendidikan di Madura itu konsisten jadi yang terendah di Jawa Timur, tapi itu nggak bisa dijadikan acuan mutlak buat menggeneralisasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba tengok realitas sedikit. Berapa banyak akademi berdarah Madura yang lagi berkarir di kampus-kampus besar? Kayaknya hampir nggak ada kampus di pulau Jawa yang nggak punya dosen asal Madura.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lagi fakta kalau banyak penerbit buku independen kayak Diva Press, Basabasi, Cantrik Pustaka, dan Antinomi itu didirikan oleh pemuda asli Madura. Selain itu, komunitas-komunitas progresif juga tumbuh subur, mulai dari komunitas literasi, sastra, kesenian, sampai hobi, tinggal pilih aja sesuai selera!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang, kalangan akademisi, budayawan, dan aktivis ini masih minoritas, tapi seenggaknya ini membuktikan kalau anggapan SDM Madura itu rendah perlu ditinjau ulang.<br \/>\n<\/span><\/p>\n<p><strong>Baca halaman selanjutnya<\/strong><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-stigma-norak-orang-luar-madura-tentang-orang-madura-yang-perlu-diluruskan\/2\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em>Rayap besi<\/em><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>#3 Anak mudanya jamet<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini juga pandangan yang bikin mereka makin kelihatan norak. Bermodal stigma lama dikombo sentimen yang tersebar di media sosial, kehidupan kaum muda Madura cuma direduksi jadi satu label, jamet!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, jamet itu fenomena umum, terutama di dataran Jawa. Lagian, apa salahnya jadi jamet? Selama nggak merugikan orang lain, toh itu cara mereka menegosiasikan identitas. Ini juga dilakukan oleh anak muda di mana-mana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anyway, kembali ke persoalan kehidupan anak muda. Identitas anak muda Madura itu seberagam anak muda daerah lain, mulai dari abang-abangan aktivis, anak band, sampai anak skena, semuanya ada! Buat yang masih underestimate ke gaya hidup pemuda pulau ini, coba deh sekali-kali mampir ke kafe-kafe fancy yang mulai banyak menjamur. Dijamin culture shock.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya ada cerita soal ini. Beberapa bulan lalu, teman dari Jogja sedang berkunjung ke Sumenep. Dia minta dicarikan tempat nongkrong yang menunya menarik dan kondusif buat ngobrol. Singkat cerita, saya bawa ke salah satu kafe favorit muda-mudi lokal. Di sana, dia mengakui culture shock melihat gaya hidup anak muda Sumenep yang nggak sesuai dengan isi kepalanya.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jembatan-suramadu-bikin-wisatawan-enggan-balik-ke-madura\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>BACA JUGA: 3 Sisi Gelap Jembatan Suramadu yang Bikin Wisatawan Enggan Balik Lagi ke Madura<\/strong><\/a><\/p>\n<h2><b>#4 Identik dengan besi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soal ini, saya sendiri baru tahu beberapa tahun belakangan, semenjak konten-konten tentang Madura mulai ramai di media sosial. Saya nggak tahu dari mana asal muasalnya, tiba-tiba orang Madura jadi identik dengan besi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tempat saya lahir dan dibesarkan, isu tentang perbesian duniawi hampir nggak relevan. Setelah tanya ke teman sesama Madura, barulah saya paham kalau memang ada satu daerah tertentu yang mayoritas warganya bergelut di industri besi, dan skalanya memang besar. Dari situ stigma ini menyebar, lalu digeneralisasi secara ugal-ugalan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keresahan soal ini juga sering muncul dalam cerita teman-teman di perantauan. Jadi, izin\u2026 saya menegaskan kalau nggak semua orang ber-KTP Madura punya hubungan romantis dengan besi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, tolong, jangan tiap ketemu orang Madura langsung nanya harga besi. Norak tau nggak!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Madura itu beragam, jangan jadikan pikiran norak dan malas belajar kalian itu sebagai modal buat menstigma secara ugal-ugalan. Kalau memang masih males, saya coba sederhanakan biar nggak butuh mikir panjang. Wajah kami beragam dan berlapis-lapis. Ada yang keras, ada yang halus. Ada yang jamet, ada juga yang skena. Dan ada yang jual besi, juga ada yang jadi akademisi. Jadi sebelum sibuk menilai dari jarak jauh, mungkin ada baiknya sesekali mendekat, ngobrol, dan dengerin cerita kita.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Puzairi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-hal-yang-dibenci-dan-melukai-hati-orang-madura\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">4 Hal yang Dibenci dan Melukai Hati Orang Madura, tapi Sering Dianggap Biasa Saja oleh Banyak Orang<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Madura itu beragam, jangan jadikan pikiran norak dan malas belajar kalian itu sebagai modal buat menstigma secara ugal-ugalan.<\/p>\n","protected":false},"author":3071,"featured_media":383687,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[32205,5020,32204,32203,16880],"class_list":["post-388138","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-kabupaten-di-madura","tag-madura","tag-madura-besi","tag-stigma-orang-madura","tag-sumenep"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/388138","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3071"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=388138"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/388138\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":388354,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/388138\/revisions\/388354"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/383687"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=388138"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=388138"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=388138"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}