{"id":387764,"date":"2026-01-27T12:06:43","date_gmt":"2026-01-27T05:06:43","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=387764"},"modified":"2026-01-27T12:06:43","modified_gmt":"2026-01-27T05:06:43","slug":"6-kebiasaan-warga-solo-yang-awalnya-saya-kira-aneh-tapi-lama-lama-saya-ikuti-juga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/6-kebiasaan-warga-solo-yang-awalnya-saya-kira-aneh-tapi-lama-lama-saya-ikuti-juga\/","title":{"rendered":"6 Kebiasaan Warga Solo yang Awalnya Saya Kira Aneh, tapi Lama-lama Saya Ikuti Juga"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waktu pertama kali tinggal di Solo, saya sempat merasa kota ini seperti berjalan di tempo yang berbeda dari hidup saya. Kalau di kota lain orang-orang kelihatan sibuk ke mana-mana, di sini banyak yang seperti nggak terlalu tergesa, tapi juga nggak benar-benar santai. Awalnya saya kira ini cuma perasaan perantau yang belum adaptasi. Ternyata, ini memang soal kebiasaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semakin lama tinggal di Solo, saya mulai sadar ada banyak hal yang dulu saya anggap aneh, tapi pelan-pelan malah saya tiru. Bukan karena ikut-ikutan, tapi karena kebiasaan itu ternyata bikin hidup lebih ringan. Ini lima di antaranya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Orang Solo suka ngobrol lama, padahal intinya cuma mau nanya sedikit<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Solo, nanya alamat atau pesan makanan bisa jadi pembuka obrolan panjang. Yang saya mau cuma tahu arah ke warung makan, tapi malah dapat cerita soal pemilik warungnya, anaknya sekolah di mana, sampai harga cabai yang naik turun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya saya bingung, ini kenapa jadi panjang banget. Dalam kepala saya, interaksi ideal itu singkat, jelas, selesai. Tapi di Solo, ngobrol itu bukan sekadar alat tukar informasi, tapi bagian dari relasi sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lama-lama saya ikut kebawa. Kalau ketemu bapak-bapak di warung, saya nggak lagi buru-buru cabut setelah bayar. Duduk sebentar, dengar cerita, meski sering nggak tahu harus merespons apa selain, \u201cnggih, nggih.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan anehnya, setelah itu hari terasa sedikit lebih manusiawi.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jalan santai, padahal nggak sedang libur<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pernah heran kenapa banyak orang di Solo jalan seperti nggak punya deadline. Nyebrang santai, naik motor juga nggak terlalu ngebut, bahkan kalau telat pun ekspresinya tetap kalem. Sebagai orang yang terbiasa hidup pakai jam dan alarm, ini terasa aneh. Saya selalu mikir bukannya kita semua sama-sama dikejar waktu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi lama-lama, ritme kota ini memaksa saya menurunkan kecepatan. Bukan jadi malas, tapi jadi lebih sadar kalau nggak semua hal harus diselesaikan dengan panik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang, kalau jalan ke minimarket atau kampus, saya nggak lagi merasa harus terburu-buru. Toh, Solo juga nggak sejauh itu ke mana-mana. Capek iya, tapi capek yang nggak ditambah cemas.<\/span><\/p>\n<h2><b>Makan manis tanpa banyak protes<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soal makanan, ini mungkin yang paling sering jadi bahan debat kenapa hampir semua makanan di Solo rasanya manis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waktu awal datang, saya termasuk tim yang sering protes dalam hati. Soto kok manis, <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Nasi_liwet\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">nasi liwet<\/a> manis, bahkan sambal pun kadang terasa ada manis-manisnya. Rasanya seperti lidah saya sedang diuji kesabarannya. Tapi entah bagaimana, setelah beberapa bulan, saya berhenti komplain. Bukan karena rasanya berubah, tapi karena lidah saya yang menyesuaikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang malah aneh kalau makan makanan yang rasanya terlalu asin atau pedas ekstrem. Ada bagian dari diri saya yang mulai merasa, \u201ckok nggak ada manis-manisnya, ya?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di titik ini, saya sadar bahwa saya sudah resmi kena infiltrasi budaya rasa.<\/span><\/p>\n<p><strong><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panduan-mengenal-solo-raya-solo-coret-kota-solo-surakarta\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">BACA JUGA: Panduan Mengenal Kota Solo, Solo Raya, Solo Coret, dan Surakarta untuk Perantau yang Sering Bingung<\/a><\/strong><\/p>\n<h2><b>Bilang \u201cnggih\u201d untuk hampir semua situasi di Solo<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Solo, kata \u201cnggih\u201d itu multifungsi. Bisa berarti setuju, bisa berarti paham, bisa juga berarti, \u201csaya dengar, tapi belum tentu sepakat.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya saya bingung, ini orang sebenarnya setuju atau cuma sopan? Karena terbiasa bicara langsung dan tegas, saya sering merasa komunikasi di Solo terlalu muter-muter. Tapi lama-lama saya paham ini bukan soal menghindari kejujuran, tapi soal menjaga suasana tetap adem.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang, tanpa sadar, saya juga sering pakai \u201cnggih\u201d buat meredam konflik kecil. Bukan karena takut beda pendapat, tapi karena nggak semua perbedaan harus langsung dibenturkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ternyata, hidup lebih tenang kalau nggak semua hal diperdebatkan sampai tuntas.<\/span><\/p>\n<h2><b>Nyebut semua orang dengan &#8220;Mas&#8221; dan &#8220;Mbak&#8221;, termasuk pada yang lebih muda<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Solo, semua orang adalah &#8220;Mas&#8221; dan &#8220;Mbak&#8221;. Nggak peduli dia lebih muda, lebih tua, atau sebaya. Bahkan bocah SD pun bisa dipanggil &#8220;Mas&#8221; kalau dia lagi jual gorengan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama kali denger temen saya manggil anak kuliahan dengan &#8220;Mbak&#8221;, padahal temen saya jelas lebih tua, saya langsung protes.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Lho, dia kan lebih muda dari kamu!&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Ya gak papa, lebih sopan aja.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya mikir ini aneh banget. Tapi ternyata kebiasaan ini tuh bikin komunikasi jadi lebih akrab dan menghormati siapa pun, tanpa harus ribet mikir siapa yang lebih senior. Semua orang merasa dihargai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang? Saya sudah otomatis manggil tukang ojek yang masih ABG dengan &#8220;Mas&#8221;. Bahkan waktu pulang kampung, saya sempat manggil adik sepupu saya dengan &#8220;Dek Mas&#8221;, yang langsung bikin keluarga besar saya ngakak.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/8-aturan-tak-tertulis-di-solo-yang-wajib-kalian-tahu-sebelum-datang-ke-sana\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>BACA JUGA: 8 Aturan Tak Tertulis di Solo yang Wajib Kalian Tahu Sebelum Datang ke Sana<\/strong><\/a><\/p>\n<h2><b>Nongkrong tanpa tujuan yang jelas<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di banyak kota, nongkrong sering punya tujuan, seperti diskusi, kerja, meeting, atau minimal foto buat story. Di Solo, nongkrong bisa sesederhana duduk, pesan teh, lalu bengong. Awalnya saya ngerasa ini buang waktu. Duduk lama tapi nggak ngapa-ngapain, terus buat apa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampai suatu titik, saya ikut duduk di angkringan, dengar motor lewat, dengar orang ngobrol, dan menyadari ternyata ini bentuk istirahat yang jarang kita beri ke diri sendiri. Bukan istirahat fisik, tapi istirahat dari keharusan untuk selalu produktif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang saya paham, kenapa banyak orang betah lama-lama di sini. Karena kota ini memberi ruang buat nggak selalu jadi siapa-siapa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tinggal di Solo pelan-pelan mengubah cara saya hidup. Bukan lewat nasihat besar atau slogan motivasi, tapi lewat kebiasaan kecil yang awalnya terasa aneh, lalu terasa masuk akal, dan akhirnya jadi bagian dari keseharian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin memang begitu cara kota ini bekerja. Nggak memaksa kita berubah cepat, tapi mengajak pelan-pelan menurunkan nada hidup. Sampai suatu hari, saya sadar bahwa saya sudah bukan orang yang sama seperti waktu pertama datang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan anehnya, saya nggak keberatan sama sekali.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/solo-cuma-ramah-ke-wisatawan-tapi-tidak-ke-warga-lokal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Solo, Kota yang Hanya Ramah ke Wisatawan, tapi Tidak ke Warga Lokal\u00a0<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tinggal di Solo pelan-pelan mengubah cara saya hidup. Bukan lewat nasihat besar atau motivasi, tapi lewat kebiasaan kecil yang awalnya aneh.<\/p>\n","protected":false},"author":2984,"featured_media":384426,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[32149,24868,2284],"class_list":["post-387764","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-kebiasaan-warga-solo","tag-kuliner-solo","tag-solo"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/387764","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2984"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=387764"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/387764\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":387820,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/387764\/revisions\/387820"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/384426"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=387764"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=387764"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=387764"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}