{"id":387671,"date":"2026-01-27T13:48:16","date_gmt":"2026-01-27T06:48:16","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=387671"},"modified":"2026-01-27T13:48:16","modified_gmt":"2026-01-27T06:48:16","slug":"generasi-sandwich-bukan-pahlawan-tapi-tumbal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/generasi-sandwich-bukan-pahlawan-tapi-tumbal\/","title":{"rendered":"Generasi Sandwich Bukan Pahlawan, Kami Adalah Tumbal Romantisasi \u201cBakti Anak\u201d yang Terpaksa Menjadi Dana Pensiun Berjalan Bagi Orang Tua yang Gagal Menabung"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada satu istilah yang paling saya benci di dunia ini melebihi istilah &#8220;revisi minor&#8221; dari klien. Istilah itu adalah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/apa-yang-harus-dilakukan-jika-kita-termasuk-generasi-sandwich\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pahlawan Keluarga<\/a> untuk menyebut Generasi Sandwich.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sering sekali saya mendengar motivator, ustaz di televisi, atau tetangga yang julid, memuji anak-anak muda yang menanggung beban hidup orang tua dan adik-adiknya sebagai sosok pahlawan. &#8220;Wah, hebat ya Mbak Fauzia, sudah bisa biayain orang tua. Berkah lho, Mba. Pintu rezeki terbuka lebar.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mendengar itu, bibir saya tersenyum sopan. Tapi di dalam hati, batin saya menjerit: &#8220;Berkah gundulmu!&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maaf kalau saya terdengar kasar. Tapi mari kita bicara jujur, dari hati ke hati, sesama Generasi Sandwich yang tulang punggungnya sudah mau patah ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami bukan pahlawan. Pahlawan itu orang yang berkorban secara sukarela untuk kepentingan orang banyak dan biasanya punya kekuatan super. Kami? Kami tidak punya kekuatan super. Dompet kami tipis. Mental kami rapuh. Dan yang paling penting: Kami tidak melakukan ini secara sukarela.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/perencanaan-keuangan-nggak-semudah-kata-raditya-dika\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Baca juga Bagi Generasi Sandwich, Perencanaan Keuangan Nggak Semudah Kata Raditya Dika<\/a><\/p>\n<h2><b>(Kebanyakan) Generasi Sandwich itu terpaksa, bukan sukarela<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami, Generasi Sandwich, melakukan ini karena terpaksa dan tidak ada pilihan lain. Bayangkan saja. Jika kami berhenti mentransfer uang barang satu bulan saja, maka dapur di rumah orang tua akan berhenti mengepul, PLN memutus listrik, dan sekolah mengusir adik saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami bukan pahlawan, tapi korban, bahkan kadang tumbal. Generasi Sandwich adalah korban dari kegagalan perencanaan finansial orang tua di masa lalu. Kini, banyak orang membungkusnya dengan kertas kado bertuliskan &#8220;Bakti Anak&#8221;.<\/span><\/p>\n<h2><b>Anak adalah investasi sebagai mitos paling toksik<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akar dari semua penderitaan ini adalah pola pikir jadul. Banyak yang masih menganutnya. Yang saya maksud adalah sebutan: \u201c<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/investasi-bodong-thr-anak-adalah-guyonan-yang-paling-memuakkan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Anak adalah investasi masa tua<\/a>.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba ingat-ingat, pernahkah orang tua kalian bercanda (tapi serius) gini: &#8220;Nanti kalau kamu sudah sukses, Bapak mau minta dibeliin mobil ya,&#8221; atau &#8220;Ibu nanti kalau tua mau ikut kamu aja, biar kamu yang urus.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalimat itu terdengar manis, tapi sebenarnya mengerikan. Itu artinya, mereka melahirkan dan membesarkan kita dengan harapan &#8220;balik modal&#8221; (Return on Investment). Mereka menganggap anak sebagai aset bergerak. Banyak dari Generasi Sandwich yang menjadi \u201cdana pensiun\u201d mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka gagal menabung saat muda, tidak punya aset, dan kebanyakan tidak melek asuransi. Alasannya klasik: &#8220;Habis buat nyekolahin kamu.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lho, tunggu dulu. Menyekolahkan anak itu kewajiban orang tua, bukan utang piutang beserta bunganya yang menjadi beban kita semata. Ketika narasi &#8220;balas budi&#8221; ini didengungkan terus-menerus, itu namanya Financial Gaslighting.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Situasi ini membuat banyak Generasi Sandwich merasa bersalah seumur hidup ketika menikmati hasil keringat sendiri. Mau beli kopi mahal dikit, ingat ibu di kampung belum beli beras. Kita mau traveling ke Bali, ingat bapak belum bayar iuran BPJS. Menabung buat nikah? Eh adik minta laptop baru buat kuliah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya? Gaji kita cuma numpang lewat. Generasi Sandwich kerja keras bagai kuda, tapi yang menikmati hasilnya bukan kita. Kita menjadi sapi perah atas nama &#8220;Dharma Bakti&#8221;.<\/span><\/p>\n<h2><b>Romantisasi penderitaan Generasi Sandwich di media sosial<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang bikin makin muak adalah bagaimana <a href=\"http:\/\/Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">media sosial meromantisasi penderitaan ini<\/a>. Banyak konten kreator bikin video sedih-sedih, &#8220;Pov: Gaji UMR tapi nanggung 5 nyawa. Semangat ya tulang punggung!&#8221; Lalu kolom komentarnya penuh dengan, &#8220;Semangat Kak, pasti diganti Tuhan berlipat ganda.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hei, sadarlah. Romantisasi ini berbahaya. Ini membuat kita menerima nasib buruk ini sebagai sesuatu yang &#8220;mulia&#8221;. Padahal, ini adalah masalah struktural yang membebani kehidupan dan kesehatan mental.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan memuji Generasi Sandwich sebagai pahlawan, masyarakat seolah membenarkan ketidakbecusan orang tua dalam mengatur keuangan. &#8220;Nggak apa-apa nggak punya tabungan pensiun, kan nanti ada anak yang nanggung.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pola pikir ini akan terus berulang. Nanti, saat kita tua, karena uang kita habis buat ngurus orang tua sekarang, kita jadi nggak punya tabungan juga. Akhirnya? Kita akan membebani anak kita kelak. Lingkaran setan kemiskinan tidak akan pernah putus.<\/span><\/p>\n<h2><b>Matematika yang tidak masuk akal<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mari kita berhitung memakai logika, bukan perasaan. Gaji fresh graduate atau pekerja muda di Jakarta rata-rata Rp5 sampai Rp7 juta. Biaya hidup sendiri (kos, makan, transportasi, menabung, dan kebutuhan lainnya) di Jakarta minimal Rp3 sampai Rp4 juta. Sisa Rp1 sampai Rp3 juta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau orang tua tidak punya penghasilan sama sekali, kita harus kirim minimal Rp1,5 sampai Rp2 juta ke kampung. Sisa berapa? Nol. Atau ada saja Generasi Sandwich yang keuangannya minus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu kapan kita nabung buat beli rumah, menikah, dan investasi? Jawabannya: tidak akan pernah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kehidupan memaksa Generasi Sandwich hidup dalam mode survival selamanya. Sakit adalah aib. Nggak boleh resign meskipun lingkungan kerja toksik, karena ada mulut-mulut di rumah yang harus disuapi. Posisi tawar kita lemah. Kita menjadi budak korporat yang patuh karena kita butuh uangnya desperately.<\/span><\/p>\n<h2><b>Agama sebagai senjata<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seringkali, ketika kita mencoba menetapkan batasan (boundaries) finansial kepada orang tua, dalil agama langsung muncul. &#8220;Ridho Allah ada pada ridho orang tua.&#8221; &#8220;Ibu sudah mengandungmu 9 bulan, masa minta uang segini aja kamu hitung-hitungan?&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini adalah kartu As yang mematikan bagi Generasi Sandwich. Kita langsung kicep dan merasa jadi anak durhaka penghuni neraka jahanam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, setahu saya (koreksi jika salah), dalam agama mana saja, mengajarkan bahwa orang tua tidak boleh membebani anak di luar kesanggupannya. Tapi jarang yang membahas ayat itu. Mereka cuma membahas ayat tentang kewajiban anak.<\/span><\/p>\n<h2><b>Generasi Sandwich, generasi paling &#8220;sial&#8221; tapi paling mulia<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sering bilang ke teman-teman saya. Generasi Milenial dan Gen Z adalah generasi yang paling &#8220;sial&#8221;. Kenapa? Karena kita menanggung beban dua Generasi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita mengurus orang tua kita (Generasi Boomers\/Gen X) yang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dana-pensiun-yang-dibutuhkan-biar-bisa-santai-masa-tua\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tidak siap pensiun<\/a>. Dan di saat yang sama, kita harus membiayai anak-anak kita (Gen Alpha) yang biaya pendidikannya makin gila-gilaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita terjepit di tengah. Atas butuh duit, bawah butuh duit. Tengah-tengahnya (kita) remuk redam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, mungkin ada sisi mulianya. Kita punya kesempatan untuk menjadi Chain Breaker. Kitalah generasi yang harus berdarah-darah menghentikan kutukan ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Caranya? Dengan sadar diri. Kita harus menanggung orang tua kita (karena ya nggak mungkin menelantarkan orang tua). TAPI, kita harus bersumpah. Kita tidak akan menyusahkan anak kita nanti.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun sekarang berat, usahakan tetap sisihkan sedikit buat dana pensiun sendiri. Jangan biarkan anak kita nanti mengalami apa yang kita alami. Jangan biarkan anak kita nanti menulis esai marah-marah seperti saya ini di masa depan. Cukup kita, Generasi Sandwich, yang jadi tumbal dan menderita.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/usia-baru-20-tapi-sudah-jadi-generasi-sandwich\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Baca juga Usia Baru 20 Tahun Tapi Sudah Jadi Generasi Sandwich<\/a><\/p>\n<h2><b>Stop menyebut Generasi Sandwich itu pahlawan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, tolong. Berhentilah menyebut Generasi Sandwich pahlawan. Sebutan itu tidak bisa untuk membayar tagihan listrik atau menyembuhkan sakit punggung kami.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alih-alih memuji, cobalah mengedukasi. Edukasi para orang tua bahwa pensiun adalah tanggung jawab pribadi. Edukasi masyarakat bahwa punya banyak anak bukan jaminan masa tua sejahtera.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan untuk sesama Generasi Sandwich yang sedang membaca tulisan ini sambil menghitung sisa gaji yang tinggal recehan. Menangislah kalau mau menangis. Marahlah kalau mau marah. Kalian berhak merasa lelah dan diperlakukan tidak adil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi setelah itu, hapus air mata dan kembali kerja. Bukan karena kita ingin jadi pahlawan. Tapi karena kalau kita nggak kerja, kita nggak makan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sesederhana dan se-tragis itu realitanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Fauzia Sholicha<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/generasi-sandwich-nggak-butuh-dukungan-kami-butuh-uang-uang-yang-banyak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Generasi Sandwich Nggak Butuh Dukungan, Kami Butuh Uang, Uang yang Banyak<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini\u00a0<\/i><\/a><i>ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kita terjepit di tengah. Atas butuh duit, bawah butuh duit. Tengah-tengahnya, Generasi Sandwich, remuk redam jadi tumbal.<\/p>\n","protected":false},"author":3190,"featured_media":387849,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[32154,5630,14848,4448,1981,32155,32156],"class_list":["post-387671","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-apa-itu-generasi-sandwich","tag-boomer","tag-dana-pensiun","tag-gen-z","tag-generasi-sandwich","tag-generasi-sandwich-adalah","tag-generasi-sandwich-artinya"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/387671","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3190"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=387671"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/387671\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":387856,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/387671\/revisions\/387856"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/387849"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=387671"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=387671"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=387671"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}