{"id":387628,"date":"2026-01-26T11:54:05","date_gmt":"2026-01-26T04:54:05","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=387628"},"modified":"2026-01-26T15:52:04","modified_gmt":"2026-01-26T08:52:04","slug":"waktu-dan-cara-yang-tepat-membunyikan-klakson-di-jogja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/waktu-dan-cara-yang-tepat-membunyikan-klakson-di-jogja\/","title":{"rendered":"6 Waktu dan Cara yang Tepat Membunyikan Klakson di Jogja, Sebuah Panduan untuk Pengendara Luar"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di mata orang luar Jogja, pengendara Jogja itu lebih beradab di jalanan. Di jalan raya besar jarang ada yang menyerobot sembarangan. Sementara, di jalanan kampung yang kecil, pengendara melaju dengan pelan-pelan sambil memberi gesture \u201cnderek langkung\u201d atau permisi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu hal lain yang paling berkesan bagi pendatang adalah pengendara yang jarang membunyikan klakson. <\/span><a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/reel\/DS3ZSqakzIU\/?igsh=MXUxcnN4Z2Q0NzBmbw==\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pandangan Jogja<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> pernah melakukan wawancara kepada sopir bus dan wisatawan asal luar kota. Narasumber yang terlibat menyebut bahwa nggak ada fenomena tan-tin-tan-tin di Jogja, tidak seperti di daerah lain.\u00a0 Bahkan, fitur klakson di kendaraan itu hampir nggak terpakai kalau sudah masuk Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai warga asli Jogja, saya turut mengamini anggapan tersebut. Saat mengamati perilaku pengendara sekaligus menjadi pengguna jalan, saya menyaksikan bahwa orang Jogja termasuk slow dan kalem di jalanan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, itu bukan berarti orang Jogja sama sekali nggak menggunakan fitur klakson lho. Pengendara tetap membunyikan fitur satu ini kok, hanya saja kesempatan atau caranya agak berbeda dengan pengendara dari daerah lain.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Pengendara Jogja membunyikan klakson untuk menyapa kenalan atau kerabat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fungsi utama klakson di Jogja adalah untuk menyapa orang yang kami kenal. Bisa dibilang inilah hal yang paling universal alias semua orang Jogja tahu, akrab, dan paham fungsi klakson yang satu ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika orang Jogja sedang melaju di jalan dan mendapati teman, tetangga, bahkan orang tua sendiri berada di jalan yang sama, kami akan langsung membunyikan klakson. Biasanya aktivitas ini diiringi juga dengan dadah-dadah atau basa-basi sedikit, sekelebatan motor. Ini berlaku baik untuk sesama pengendara maupun pejalan kaki.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cara membunyikan klakson untuk fungsi pertama ini adalah dengan memencetnya pendek saja. Biasanya satu atau dua kali \u201ctin\u201d sudah cukup. Saya sendiri biasanya cuma satu kali, lalu saya lanjut dengan memanggil nama orang yang saya kenal tersebut.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/kilas\/singkatan-nama-jalan-jogja-panduan-bagi-para-perantau\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca juga Daftar Singkatan Nama Jalan Jogja, Sebuah Panduan bagi Perantau dan Wisatawan.<\/strong><\/em><\/a><\/p>\n<h2><b>#2 Klakson untuk memperingatkan orang yang kurang fokus di jalan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa orang menganggap klakson di Jogja nggak digunakan sebagaimana mestinya. Tujuan utama penciptaan klakson kan memang untuk<\/span><a href=\"https:\/\/auto2000.co.id\/berita-dan-tips\/ini-fungsi-klakson-dan-cara-benar-menggunakannya\"> <span style=\"font-weight: 400;\">meminimalisir potensi risiko berkendara<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Dan, potensi risiko berkendara itu bisa datang dari pengendara lain. Oleh karena itu, klakson dipakai untuk memperingatkan pengendara yang sekiranya berpotensi membahayakan kita.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Klakson dibunyikan untuk memperingatkan pengendara lain yang kurang fokus di jalan juga. Target umumnya adalah pengendara yang kelihatan melamun sehingga laju kendaraannya melenceng, menatap HP sehingga nggak fokus dengan kondisi lalu lintas dan jalan,\u00a0 lupa mematikan lampu sein, hingga lupa mengembalikan standar ke posisi semula (khusus motor).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk fungsi yang satu ini, cukup bunyikan klakson satu kali dengan durasi pendek. Kemudian percepat laju kendaraan kita agar bisa menyamakan posisi atau bersebelahan dengan pengendara yang ingin kita tegur. Lalu peringatkan aja, deh.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Memperingatkan orang yang nggak mematuhi aturan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Serupa dengan nomor dua, fungsi klakson yang satu ini juga untuk meminimalisasi risiko kecelakaan. Orang Jogja juga tetap menggunakan klakson sebagaimana fungsi aslinya, yaitu memperingatkan orang yang ugal-ugalan atau nggak teliti melihat rambu-rambu lalu lintas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh yang paling sering terjadi adalah kendaraan dari luar kota yang belum terbiasa dengan jalanan di Jogja berhenti saat lampu merah menyala. Masalahnya, di situ tertera tulisan \u201cbelok kiri jalan terus\u201d atau \u201cbelok kiri ikuti lampu <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-lampu-apill-di-jogja-yang-sebaiknya-dihindari\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">APILL<\/a>\u201d. Kalau dibiarkan tentu akan mengganggu sirkulasi kendaraan. Maka boleh kok ditegur dengan membunyikan klakson.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cara membunyikan klakson untuk fungsi ini tergantung pada situasi, ya. Kalau kesalahannya sepele, cukup klakson satu kali lalu peringatkan. Tapi kalau kesalahannya sangat membahayakan pengendara lain, misalnya tiba-tiba berbelok tanpa melihat situasi lalu lintas atau main potong jalan, biasanya klakson panjang pasti mengudara~<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jalan-solo-jogja-jalan-paling-monoton-dan-bikin-ngantuk\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca juga Jalan Solo-Jogja, Jalan Paling Monoton dan Bikin Ngantuk.<\/strong><\/em><\/a><\/p>\n<h2><b>#4 Memberi tanda kepada kendaraan lain saat melintasi perempatan tanpa lampu APILL<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fungsi yang satu ini juga untuk meminimalisir risiko kecelakaan. Di beberapa tempat di Jogja, masih ada pertigaan atau perempatan yang belum ada lampu APILL-nya. Kalau di titik tersebut kendaraan cukup ramai lalu lalang sementara pengendara nggak bisa memperkirakan ada atau nggaknya pengendara lain yang mau melintas, maka membunyikan klakson adalah solusinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Umumnya klakson hanya dibunyikan satu-dua kali dengan durasi pendek. Dulu saya sering menggunakan metode ini ketika melintasi perempatan dekat Lapangan Ringinharjo, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kretek-bantul-terlupakan-terhalang-nama-besar-parangtritis\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bantul<\/a> ketika belum ada APILL. Kalau saya melaju dari selatan, kendaraan dari barat dan timur nggak terlihat. Makanya saya membunyikan klakson untuk memberi tanda pada kendaraan lain.<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Orang Jogja membunyikan klakson untuk memperlihatkan kesopanan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang Jogja pun menggunakan klakson untuk memperlihatkan kesopanan. Biasanya fungsi ini terpakai ketika kita sedang menunggu untuk menyeberang, lalu ada kendaraan lain yang mengalah dan memberi kita jalan. Sebagai ganti dari mengucapkan \u201cterima kasih\u201d yang mungkin nggak kedengaran, maka diakali dengan membunyikan klakson.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk mengaktifkan mode ini, cukup pencet klakson sekali dalam durasi pendek. Pose mengangkat tangan atau menganggukan kepala satu kali ke pengendara yang memberi jalan sifatnya opsional tapi recommended untuk dilakukan setelahnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>#6 \u201cIzin\u201d saat melewati tempat gelap<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siapa sangka klakson di Jogja bukan cuma untuk manusia, melainkan juga makhluk halus. Banyak orang Jogja yang membunyikan klakson ketika melintasi jembatan tanpa penerangan, samping kuburan, atau segala tempat yang dinilai gelap dan mistis. Fungsi membunyikan klakson yang satu ini mirip seperti \u201cnderek langkung\u201d atau \u201cpermisi\u201d, tapi bukan kepada manusia, melainkan \u201cmbah\u201d penunggu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bunyikan klakson sekali saja, ya. Jangan berkali-kali. Takutnya malah yang dimintai permisi malah nggak terima karena terusik ketenangannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada dasarnya klakson di Jogja bukan diperuntukkan saat macet agar pengendara di depan jadi buru-buru biar kita mendapatkan jalan. Klakson dengan peruntukan seperti ini hanya menyebabkan polusi suara. Jadi, kalau kamu main ke Jogja, gunakan klakson dengan fungsi-fungsi di atas ya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Noor Annisa Falachul Firdausi<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><em><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/toyota-fortuner-mobil-yang-saya-harap-lenyap-dari-jalanan-jogja\/\">3 Hal yang Orang-orang Jarang Katakan Soal Berkendara di Jogja<\/a>.<\/strong><\/em><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini <\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengendara Jogja punya waktu dan cara tersendiri untuk membunyikan klakson yang berbeda dengan pengendara-pengendara daerah lain. <\/p>\n","protected":false},"author":1077,"featured_media":387647,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[14354,115,4887,32125,28568],"class_list":["post-387628","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jalanan","tag-jogja","tag-klakson","tag-klakson-jogja","tag-pengendara-jogja"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/387628","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1077"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=387628"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/387628\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":387706,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/387628\/revisions\/387706"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/387647"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=387628"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=387628"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=387628"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}