{"id":387123,"date":"2026-01-25T11:52:39","date_gmt":"2026-01-25T04:52:39","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=387123"},"modified":"2026-01-25T12:09:31","modified_gmt":"2026-01-25T05:09:31","slug":"ironi-remaja-kota-jogja-mudah-misuh-tapi-nggak-bisa-ngomong-bahasa-jawa-krama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ironi-remaja-kota-jogja-mudah-misuh-tapi-nggak-bisa-ngomong-bahasa-jawa-krama\/","title":{"rendered":"Ironi Remaja Kota Jogja: Fasih Misuh dengan Bahasa Jawa, tapi Sulit Bicara Pakai Bahasa Jawa Krama"},"content":{"rendered":"<p>Banyak orang memberi gelar &#8220;Jawa Premium\u201d pada Jogja karena Jogja selalu mencitrakan diri sebagai kota budaya yang punya budaya adiluhung. Nggak hanya budaya yang terlihat saja seperti bangunan dan karya seni, tapi juga tata krama, kesopanan, dan keramahan yang sudah masyhur menjadi identitas dari kota ini sejak lama.<\/p>\n<p>Salah satu budaya Jogja yang selalu kami banggakan adalah sopan santun alias unggah-ungguh. Ini tercermin dari penggunaan <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Krama\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bahasa Jawa Krama<\/a> (halus) yang digunakan saat orang yang lebih muda berbicara dengan orang jauh lebih tua tanpa memandang strata sosialnya. Mau itu tukang becak atau bapak ojol, kalau dia lebih tua, maka kami akan berbicara dengan bahasa Krama.<\/p>\n<p>Sangat aneh dan di luar kebiasaan kalau berbicara dengan orang yang lebih tua menggunakan bahasa Jawa Ngoko (kasar). Sebab, orang Jogja benar-benar memegang unggah-ungguh dengan serius. Contohnya, dengan mengajarkannya di rumah, lingkungan, dan sekolah. Hal tersebut membentuk orang Jogja pada umumnya lebih peka dan menghormati orang.<\/p>\n<p>Tapi seiring berjalannya waktu, sayangnya budaya baik tersebut kian memudar di kalangan generasi muda Kota Jogja. Sebagai warga di salah satu kampung di Kota Jogja, saya sering menjumpai degradasi kesopanan ini di kalangan anak muda. Atau lebih spesifik lagi pada anak remaja yang seolah gagap dengan bahasa Jawa Krama.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-katanya-istimewa-padahal-tunawisma-di-mana-mana-dan-menderita\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>BACA JUGA: Jogja Katanya Istimewa, padahal Tunawisma di Mana-mana dan Menderita<\/strong><\/a><\/p>\n<h2><strong>Remaja Jogja kok ngoko ke orang yang lebih tua?<\/strong><\/h2>\n<p>Kini remaja alias ABG di Kota Jogja justru dengan enteng berbicara dengan bahasa Jawa Ngoko kepada orang yang lebih tua. Misalnya, ketika diajak ngobrol dengan orang yang lebih tua, mereka membalasnya dengan \u201cha?\u201d atau \u201copo?\u201d alih-alih menjawabnya dengan \u201cdalem\u201d atau \u201cpripun?\u201d. Telinga dan lisan mereka seperti asing dengan bahasa Jawa Krama.<\/p>\n<p>Mungkin ada sedikit toleransi kalau orang tua tersebut adalah keluarganya sendiri. Tapi kenyataannya kebanyakan mereka juga berbahasa ngoko dengan orang tua yang tidak ada hubungan darah seperti tetangga atau orang yang baru ditemui. Bukankah nggak sopan kalau begitu? Jogja lho ini. Katanya kota budaya?<\/p>\n<p>Membalas percakapan dengan bahasa Indonesia jelas lebih baik ketimbang Ngoko. Ya walau sebenarnya masalah di sini tuh mereka nggak paham bahasa Krama.<\/p>\n<p>Bahkan remaja Jogja sudah langka yang melakukan unggah-ungguh sederhana seperti berjalan membungkuk di depan orang tua dengan mengucapkan \u201cnderek langkung\u201d. Sebegitu jauhnya kah ABG-ABG di Kota Jogja ini meninggalkan budaya berbahasa dan sopan santun di kota yang katanya kota budaya ini?<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-kota-yang-keburukannya-selalu-dimaafkan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>BACA JUGA: Jogja, Kota yang Keburukannya (Entah Kenapa) Selalu Dimaafkan<\/strong><\/a><\/p>\n<h2><strong>Sekolah harusnya mengajarkan hal ini<\/strong><\/h2>\n<p>Nggak mungkin rasanya sekolah-sekolah di Jogja nggak mengajarkan bahasa Jawa Krama kepada anak muridnya sebagai bagian dari kurikulum muatan lokal. Ataukah sekolah hanya sebatas nlai dan kurikulum muatan lokal hanya sebatar syarat yang bikin karakter tidak tertransfer kepada murid. Mungkin di keluarganya sendiri juga nggak membiasakan hal tersebut.<\/p>\n<p>Ironis rasanya mereka dengan mudah dan fasih misuh-misuh dengan Bahasa Jawa tapi untuk berbahasa Jawa Krama dengan orang yang lebih tua seperti sulit dan gagap untuk dilakukan. Seperti lebih mudah ngomong \u201ccak-cok-cak-cok\u201d dan menyebut seisi bonbin dalam Bahasa Jawa daripada berucap \u201cnggih\u201d atau \u201cnuwun sewu\u201d.<\/p>\n<p>Tentu, sebagai orang setengah dewasa yang asli nyel dari Kota Jogja, saya merasa resah, gemes, sekaligus prihatin melihat adik-adik kami yang berusia remaja gagap dengan bahasa Jawa Krama terutama saat berbicara dengan orang yang lebih tua. Memang, mereka nggak harus begitu fasih tapi paling tidak bisa mempraktekkan yang sederhana di kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<p>Kalau yang begini saja sudah mulai pudar dan ditinggalkan, gelar Jogja sebagai kota budaya yang penuh sopan satun dan unggah ungguh akan berpotensi jadi nggak relevan lagi karena generasi mudanya yang harusnya nguri-uri budaya malah meninggalkan budayanya sendiri.<\/p>\n<p>Penulis: Rizqian Syah Ultsani<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hal-aneh-yang-hanya-terjadi-di-perkampungan-padat-penduduk-kota-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Hal Unik yang Hanya Terjadi di Perkampungan Padat Penduduk di Jogja, Pasti Bikin Kalian Geleng-geleng<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Katanya Jogja berbudaya, adiluhung, tapi kenapa remaja Jogja nggak bisa ngomong bahasa Jawa Krama ke orang yang lebih tua?<\/p>\n","protected":false},"author":2509,"featured_media":373310,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[32115,32116,115,13870,32117],"class_list":["post-387123","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bahasa-jawa-krama","tag-bahasa-jawa-ngoko","tag-jogja","tag-kota-jogja","tag-remaja-jogja"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/387123","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2509"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=387123"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/387123\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":387301,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/387123\/revisions\/387301"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/373310"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=387123"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=387123"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=387123"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}