{"id":386736,"date":"2026-01-22T12:00:13","date_gmt":"2026-01-22T05:00:13","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=386736"},"modified":"2026-01-22T12:00:13","modified_gmt":"2026-01-22T05:00:13","slug":"lamongan-nggak-paham-prioritas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lamongan-nggak-paham-prioritas\/","title":{"rendered":"Konten Review Tanaman Bupati Lamongan Adalah Konten Pejabat Paling Membingungkan yang Pernah Saya Tonton, Nggak Paham Prioritas!"},"content":{"rendered":"<p><em>Konten review tanaman bukti Pemkab Lamongan nggak paham prioritas&#8230;<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di era medos, kita tentu paham kalau pejabat memang perlu melakukan branding dengan membuat konten. Ragamnya pun banyak, mulai dari <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sidak-blusukan-dan-gimik-insignifikan-pejabat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">blusukan pejabat<\/a>, pemberian sembako, romantisasi hubungan suami-istri, sampai hal-hal receh seperti mengunjungi kebun durian, dll.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, dari sekian banyak konten pejabat yang membingungkan, saya kira top tier-nya adalah konten review tanaman dari Bupati Lamongan. Setidaknya ini menurut keyakinan saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi yang belum tahu, beliau punya semacam program penanaman pohon di Lapangan Gajah Mada. Secara konsep, idenya terdengar mulia. Lapangan itu memang direncanakan jadi ruang terbuka hijau. Masalahnya, kondisi di lapangan saat ini masih jauh dari kata hijau. Lebih mirip lahan urug luas yang panas, gersang, dan kalau siang hari rasanya seperti simulasi padang mahsyar versi lite.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam program ini, tiap kecamatan diminta menyumbang satu pohon. Lalu, tiap sumbangan pohon itu dibuatkan video khusus bersama Bupati Lamongan. Formatnya kurang lebih sama: ini pohon apa, asalnya dari kecamatan mana, filosofinya apa, harapannya apa. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mirip tugas presentasi mahasiswa baru yang sedang ospek. Bedanya, ini dilakukan oleh pejabat publik dengan kamera, diedit dengan backsound jedag-jedug, lalu diunggah ke media sosial humas pemda.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lamongan-adalah-daerah-dengan-pusat-kota-terburuk-yang-pernah-saya-tahu\/#google_vignette\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Baca juga: Lamongan Adalah Daerah dengan Pusat Kota Terburuk yang Pernah Saya Tahu.<\/a><\/p>\n<h2><b>Bupati Lamongan dan filosofi pohon yang terlalu dipaksakan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada banyak sekali video yang diunggah. Setiap kecamatan satu video. Alhasil jumlahnya memang bergelimang. Dan ada banyak yang membuat bingung. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya nih ada video dari Kecamatan Lamongan yang menyumbang pohon mulwo. Dengan penuh percaya diri, Pak Bupati menjelaskan, \u201cMulwo itu Mulyo, artinya kemuliaan.\u201d Saya langsung mbatin, \u201cHah? Kok iso mulwo dadi mulyo?\u201d Ini beliau nggak dikasih script apa gimana, ya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada juga pohon kelor, yang kata Pak Bupati berfungsi untuk mengusir santet. Iya, serius. Beliau mengatakan itu dengan keadaan sadar. Maksud saya, ini konten pemerintah daerah lho, bukan obrolan lelaki tengah malam?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, ada konten yang isinya cuma Pak Carik dan Pak Bupati berdiri di belakang pohon sumbangan Kecamatan Mantup Lamongan, kemudian dikasih backsound jedag-jeduk. Sudah. Begitu saja. Nggak kedengeran ngomong apa. Cuma berdiri kemudian backsound. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur saja, kesannya kayak jamaah Facebook Pro yang pokok posting saja tanpa ada strategi dan konsep yang jelas. Ngapunten.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak sedang mengarang, kalau penasaran, silakan cari sendiri di TikTok dengan username <\/span><a href=\"https:\/\/www.tiktok.com\/@lamonganyes\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">lamonganyes<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Di situ lengkap. tonton saja saat luang dan butuh video untuk buang-buang waktu.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kolom komentar yang lebih jujur dari videonya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu hal yang selalu menarik ketika scroll konten Pemda Lamongan adalah isi komentarnya. Iya, di konten tersebut, alih-alih membahas pohon dan filosofinya, isinya penuh keluhan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDaerah saya masih banjir.\u201d <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJalan di desa kami rusak.\u201d <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPak, ini banjir belum ada penanganan.\u201d <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan keluhan-keluhan lainnya. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Btw, di\u00a0 banyak wilayah Lamongan memang sedang banjir, bahkan ada yang sampai <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kalitengah-lamongan-ikhlas-kebanjiran-dua-bulan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">dua bulan belum surut<\/a>. Iya, persoalan banjir dan infrastruktur masih jadi masalah tahunan. Dan belum terlihat ada penanganan jangka panjang.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lamongan-tidak-ramah-bagi-anak-muda\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Baca j<span style=\"font-weight: 400;\">uga: Lamongan, Kota yang Tak Pernah Lahir untuk Menjadi Rumah bagi Anak Mudanya.<\/span><\/a><\/p>\n<h2><b>Lamongan masih banyak pekerjaan rumah, kenapa malah review tanaman?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kira banyak warga Lamongan yang berpikir bahwa Lamongan itu punya banyak pekerjaan rumah. Maka wajar kalau publik bertanya-tanya, kok bisa seorang bupati meluangkan begitu banyak energi untuk konten review tanaman?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, andai mau, konten itu bisa diarahkan ke hal yang jauh lebih substantif. Misalnya, update penanganan banjir di Lamongan. Sudah sampai mana, wilayah mana yang prioritas, kendalanya apa. Atau bikin peta masalah, lalu mengajak masyarakat terlibat. Itu konten yang informatif, relevan, dan benar-benar dibutuhkan warga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan berarti menanam pohon itu salah. Bukan. Tapi ketika dibuat jadi belasan video terpisah dengan format yang itu-itu saja, kesannya malah seperti nambah stok konten saja, tanpa benar-benar terasa manfaatnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Antara simbol dan substansi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekali lagi, yang saya permasalahkan dari konten ini bukan pada pohonnya, tapi pada prioritas. Ketika simbol lebih ditonjolkan daripada substansi, publik wajar bingung. Apalagi ini konteksnya pemerintah daerah, bukan konten personal seorang influencer.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pribadi baru kali ini melihat pejabat daerah bikin konten review tanaman sampai buanyak itu. Dan jujur, saya masih belum paham urgensinya. Lamongan butuh kerja nyata yang terasa di kehidupan sehari-hari warga, bukan sekadar video simbolik yang filosofinya dipaksakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau tujuannya ingin terlihat dekat dengan rakyat, mungkin ada cara yang lebih relevan. Sebab di mata warga yang kebanjiran dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jalan-rusak-di-lamongan-itu-branding-makanya-dibiarkan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">jalannya rusak<\/a>, pohon dengan filosofi setinggi langit tetap kalah penting dibanding solusi yang benar-benar membumi.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: M. Afiqul Adib<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/saya-orang-madura-yang-segan-belanja-di-warung-madura\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sebagai Orang Madura, Saya Sebenarnya Agak Segan Belanja di Warung Madura.<\/a><\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">cara\u00a0ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Adanya konten review tanaman oleh Bupati Lamongan bukti kalau daerah ini nggak paham prioritas. Masih banyak PR yang harus dikerjakan, lho.<\/p>\n","protected":false},"author":580,"featured_media":386833,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[27378,20552,1452,4662,2250],"class_list":["post-386736","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bupati-lamongan","tag-kabupaten-lamongan","tag-konten","tag-konten-kreator","tag-lamongan"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/386736","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/580"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=386736"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/386736\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":386835,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/386736\/revisions\/386835"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/386833"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=386736"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=386736"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=386736"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}