{"id":386490,"date":"2026-01-20T17:13:46","date_gmt":"2026-01-20T10:13:46","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=386490"},"modified":"2026-01-20T17:13:46","modified_gmt":"2026-01-20T10:13:46","slug":"di-sragen-nggak-berkembang-merantau-dikira-nggak-sayang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/di-sragen-nggak-berkembang-merantau-dikira-nggak-sayang\/","title":{"rendered":"Dilema Pemuda Sragen: Bertahan Nggak Berkembang, Ditinggal Dikira Nggak Sayang Kampung Halaman\u00a0"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/kumparan.com\/berita-hari-ini\/arti-peribahasa-sudah-jatuh-tertimpa-tangga-dan-contoh-lainnya-247ZtqlN8Vk\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sudah jatuh tertimpa tangga<\/a>. Mungkin peribahasa itu cocok untuk menggambarkan orang Sragen. Terlebih bagi para pemudanya. Lahir di Sragen saja sudah sulit, apalagi hidup dan mencari peluang kerja atau berkembang di sana. Makin sulit.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya yakin tiap anak muda Sragen pasti pernah merasakan kondisi seolah-olah berada di persimpangan ini. Bertahan di Bumi Sukowati atau pergi merantau. Apabila tinggal, mereka perlu bersiap menghadapi segala keterbatasan. Sementara, merantau tidak kalah sulit. Apabila sudah pernah mencicipi tanah perantauan, kembali ke Sragen terasa berat. Sementara keluarga, leluhur, dan banyak lain masih berada di daerah ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Bertahan di Sragen perlu punya privilese<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anak muda yang memilih bertahan di Sragen biasanya punya privilese yang besar. Ya apa sih yang diharapkan dari daerah dengan upah kecil dan peluang terbatas. Kalau ingin benar-benar hidup layak, setidaknya anak muda harus jadi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/asn-rajin-adalah-tempat-sampah-buat-atasan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ASN<\/a> atau punya bisnis yang sudah benar-benar besar. Di luar itu, kebanyakan dari kami, memilih <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sobat-narimo-ing-pandum-perlu-menerima-kritik-soal-upah-jogja-yang-memang-rendah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">narimo ing pandum<\/a> dan sering-sering menarik napas panjang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi ASN pun bukan perkara mudah. Seleksi ketat, kuota terbatas, pengetahuan luas, dan waktu tunggu yang panjang. Belum lagi tidak semua posisi pas dengan profil kita.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kadang muncul di benak anak muda Sragen berbagai narasi optimis, \u201cKalau lapangan kerja sempit ya, coba-coba buka usaha sendiri, ah.\u201d Terdengar heroik, menarik, tapi di Sragen, fakta berbicara lebih rumit. Daya beli masyarakat terbatas, pasar kecil, konsumen loyal, tapi, ya itu-itu saja. Inovasi sering buntu karena modal, peminat, dan sulitnya distribusi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mendirikan usaha di Sragen bukan mustahil, tapi juga bukan jaminan berkembang. Tak sedikit usaha hanya cukup untuk hidup, bukan tumbuh. Sebatas untuk bertahan, bukan untuk naik kelas. Ujungnya, pengusaha muda pun sering berada di posisi yang sama getirnya; bekerja keras tanpa prospek eskalasi.<\/span><\/p>\n<h2><b>Merantau bukan berarti tidak sayang kampung halaman<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbagai tantangan hidup di Sragen tadi mendorong anak mudanya untuk merantau. Daerah lain dengan upah tinggi dan peluang berkembang besar pun menjadi sasaran. Semua itu demi masa depan yang lebih baik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, merantau dan \u201cmenghilang\u201d dari Sragen bukan berarti anak mudanya benci dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/menuntaskan-rindu-di-kampung-yang-ada-halamannya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kampung halaman<\/a> ya. Mereka hanya ingin mengadu nasib yang lebih baik, nasib yang lebih masuk akal daripada cuma di Sragen-Sragen saja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Realita pahitnya, Sragen <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">ujug-ujug<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> bisa kehilangan generasi terbaiknya. Seperti yang saya bahas di awal, bukan karena mereka tidak cinta daerah, tapi karena di sini belum cukup memberi alasan untuk tinggal. Yang bertahan adalah mereka yang tidak punya pilihan lain atau, mereka yang sudah berdamai dengan hidup yang datar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Situasi ini menciptakan lingkaran setan. Saat pemuda potensial pergi, inovasi melemah. Ketika inovasi melemah, peluang semakin sempit. Dan, ketika peluang semakin sempit, generasi berikutnya kembali dihadapkan pada pilihan yang sama, yaitu bertahan tanpa berkembang atau, pergi tanpa pulang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang paling menyedihkan, sadar atau tidak, dilema ini dianggap biasa-biasa saja. Seolah sudah takdir bahwa kota-kabupaten seperti Sragen hanya berfungsi sebagai tempat lahir, bukan tempat tumbuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teman-teman muda Sragen bukan kurang kompeten. Mereka hanya hidup di wilayah yang tidak diprioritaskan. Infrastruktur boleh ada, tapi ekosistem sosial-ekonomi tidak benar-benar dibangun. Pendidikan menghasilkan lulusan, tapi pasar kerja lokal tak mampu menampung.<\/span><\/p>\n<h2><b>Perlu berbenah demi masa depan daerahnya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sragen tidak kekurangan pemuda ideal-potensial. Yang kurang adalah keberpihakan struktural, agar mereka bisa berkembang tanpa harus menghilang. Selama <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/perantau-asal-jawa-tengah-menyesal-merantau-ke-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">UMK tetap rendah<\/a>, peluang tetap sempit, dan akar usaha sulit naik kelas, dilema ini akan terus diwariskan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan, mungkin, pertanyaan pahit dan paling jujur bukan lagi, mengapa generasi muda di Sragen memilih pergi? Melainkan, apa yang membuat mereka layak untuk pulang? Hmmm \u2026.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Asrori Satria Aji Pamungkas<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sragen-kota-yang-hidup-cuma-sampai-maghrib\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sragen, Kota yang Hidup Cuma Sampai Maghrib, Setelah Itu, Seakan Jadi Kota Mati<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini <\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Anak muda Sragen memilih merantau demi kesempatan dan nasib lebih baik, sedihnya dikira nggak sayang kampung halaman.<\/p>\n","protected":false},"author":3192,"featured_media":386604,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[588,1418,806,14450],"class_list":["post-386490","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-kampung-halaman","tag-merantau","tag-pemuda","tag-sragen"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/386490","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3192"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=386490"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/386490\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":386606,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/386490\/revisions\/386606"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/386604"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=386490"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=386490"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=386490"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}