{"id":386189,"date":"2026-01-22T15:17:00","date_gmt":"2026-01-22T08:17:00","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=386189"},"modified":"2026-01-22T15:17:00","modified_gmt":"2026-01-22T08:17:00","slug":"alasan-orang-orang-kabur-dari-magang-di-jepang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-orang-orang-kabur-dari-magang-di-jepang\/","title":{"rendered":"Mencoba Memahami Alasan Orang-orang Kabur dari Magang di Jepang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lama ini seorang teman menceritakan rekan kerjanya nggak balik kerja ke Jepang, padahal <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-hal-nggak-enaknya-tinggal-di-negara-4-musim-seperti-jepang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">libur musim dingin<\/a> sudah selesai. Teman saya, dan banyak orang lain, menduga dia kabur dari program magang di Jepang. Tentu saja dugaan itu sepaket dengan stigma yang melekat seperti mental tempe, baperan, lemah, payah, dan masih banyak lagi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya saya agak malas menceritakan orang-orang yang mangkir dari program magang di Jepang. Selain banyak terjadi, cerita semacam ini membuka banyak fakta lain dari magang Jepang yang nggak melulu enak. Nanti dikira saya menghalang-halangi orang lain magang di Jepang.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, saya sama sekali tidak bermaksud demikian. Melalui tulisan curhatan ini saya cuma berharap orang-orang untuk mempertimbangkan baik-baik dan hati-hari sebelum ikut ambil keputusan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Usia masih muda, tapi harus menghadapi tekanan sangat besar ketika magang di Jepang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukannya membenarkan tindakan pemagang yang kabur, tapi saya cukup bisa memahami keputusan yang mereka ambil. Begini, sebagian besar peserta magang Jepang berusia sangat mudah, di rentang 18-25 tahun. Usia yang masih menggebu-gebu untuk eksplorasi kehidupan. Tidak sedikit juga yang menghadapi quarter life crisis di usia-usia ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara, di usia-usia itu mereka harus berhadapan dengan dunia kerja Jepang yang keras. Keras di sini bukan hanya karena perbedaan budaya ya. Sistem kerja ketat, bos galak dan senpai (senior) rese jadi tantangan berat bagi mereka yang magang di Jepang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan saja, kalian di usia yang masih muda (dan mungkin di tengah <a href=\"https:\/\/www.halodoc.com\/artikel\/quarter-life-crisis-pengertian-gejala-dan-cara-mengatasinya?srsltid=AfmBOoqjjRJzPkOH9Qntl4_VdDzT54O_HD7_Z1RfTVMmFsBB2clU6pRB\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">quarter life crisis)<\/a> harus menghadapi kondisi tersebut sehari-hari. Sementara, kebanyak yang datang sendirian, tanpa teman atau satupun kenalan. Hidup pasti terasa sangat berat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/7-fakta-menarik-di-jepang-yang-sering-bikin-salah-kaprah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca juga 7 Fakta Menarik di Jepang yang Sering Bikin Salah Kaprah.<\/strong><\/em><\/a><\/p>\n<h2><b>Tidak bisa segera menyesuaikan diri dengan pekerjaan karena tidak ada bimbingan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah secara kultur berat, beberapa dari mereka yang magang di Jepang tidak bisa segera menyesuaikan diri dengan pekerjaannya. Bukan karena malas, tapi mereka tidak mendapat bimbingan yang memadai.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Asal tahu saja, keterampilan pemagang di tempat kerja juga dipengaruhi bimbingan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/maha-benar-senior-dengan-segala-firmannya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pekerja senior<\/a> atau senpai.\u00a0 Sementara, tidak semua senpai itu baik. Mereka kadang semena-mena kepada peserta magang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pernah dengar cerita, ada pemagang yang berusaha menegur seniornya karena alasan tertentu. Si senior tidak terima dan menghasut yang lain buat menjauhi orang itu. Bahkan, ada seorang senior, di tempat kerja saya yang bilang langsung kalau dia sebenarnya sedang cosplay menjadi buchou<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">(kepala departemen). Tujuannya supaya anak baru tidak begitu kaget waktu dimarahi pakai nada tinggi, mata melotot, dan berkuah air liur. Aneh kan?\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Masih harus menjaga sikap<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah menghadapi berbagai tekanan di tempat kerja, peserta magang Jepang juga dituntut tidak impulsif dalam mengambil tindakan. Berpikir seribu kali sebelum melakukan sesuatu, termasuk ketika diperlakukan tidak adil. Sebab,\u00a0 konsekuensi yang akan timbul bersifat kolektif. Orang dari satu LPK, atau daerah asal yang sama bisa terdampak. Biasanya berwujud blacklist dalam kurun waktu tertentu. Kalau\u00a0 persoalan yang ditimbulkan cukup besar, blacklist selama-lamanya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara, soal gaji, sebenarnya tidak semuanya sejahtera. Bahkan, sebagian kecil ada yang sampai mendapat zakat fitrah. Sekitar satu tahun lalu saya bertemu dengan seorang pekerja migran Indonesia di supermarket. Dia mengeluhkan gajinya yang cukup kecil jika dibandingkan dengan saya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jangan-lakukan-6-hal-ini-kalau-mau-hidup-bertetangga-dengan-nyaman-di-jepang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca juga Jangan Lakukan 6 Hal Ini kalau Mau Hidup Bertetangga dengan Nyaman di Jepang.<\/strong><\/em><\/a><\/p>\n<h2><b>Memang tidak semua peserta magang di Jepang mengalaminya, tapi bisa jadi catatan penting<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cerita di atas memang tidak bisa dipukul rata untuk semua orang yang ikut program magang Jepang. Namun, setidaknya itulah yang rasakan dan amati. Dan, berdasar pengalaman itu, saya jadi bisa memahami keputusan orang-orang untuk kabur. Bukan karena mental tempe, lemah, atau apalah, tapi memang situasinya sudah tidak memungkinkan, setidaknya bagi mereka.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekali lagi, ini pendapat saya berdasar pengalaman dan pengamatan ya. Tidak semua orang magang di Jepang merasakannya. Ada juga yang cukup beruntung sehingga tidak perlu merasakan itu semua dan betah bekerja di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/liburan-ke-jepang-bebas-visa-tapi-nggak-cukup-bawa-paspor-aja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Negara Sakura.<\/a><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, cerita di atas tetap perlu saya bagikan agar bisa jadi pertimbangan orang-orang yang hendak magang di Jepang. Tidak semuanya indah jadi perlu persiapan fisik dan mental yang sangat matang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Imam Kukuh Pradana<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/magang-jepang-duitnya-nggak-banyak-jangan-dipalak\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Orang yang Ikut Program Magang Jepang Duitnya Nggak Banyak, Jangan Dipalak!<\/span><\/i><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kaburnya peserta magang di Jepang memang tidak bisa dibenarkan, tapi tidak ada salahnya mengetahui alasannya untuk persiapan ke depan.<\/p>\n","protected":false},"author":2976,"featured_media":386875,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[16864],"tags":[1213,3207,15115,1182,32075,9035],"class_list":["post-386189","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-profesi","tag-jepang","tag-kerja","tag-kerja-di-jepang","tag-magang","tag-magang-di-jepang","tag-wni"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/386189","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2976"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=386189"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/386189\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":386879,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/386189\/revisions\/386879"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/386875"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=386189"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=386189"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=386189"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}