{"id":386188,"date":"2026-01-19T11:15:56","date_gmt":"2026-01-19T04:15:56","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=386188"},"modified":"2026-01-19T11:15:56","modified_gmt":"2026-01-19T04:15:56","slug":"publikasi-jurnal-kadang-jadi-perbudakan-gaya-baru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/publikasi-jurnal-kadang-jadi-perbudakan-gaya-baru\/","title":{"rendered":"Publikasi Jurnal Kadang Jadi Perbudakan Gaya Baru: Mahasiswa yang Nulis, tapi Dosen yang Dapat Nama, Logikanya di Mana?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu lalu, saya sempat menuliskan pengalaman saya ketika masih semester tiga dan sudah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dosen-seenaknya-nyuruh-mahasiswa-untuk-publikasi-jurnal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">diminta dosen<\/a> untuk melakukan publikasi jurnal. Saat itu, alasannya demi nilai. Tidak ada subsidi dana, tidak ada penjelasan mendalam soal proses, yang ada hanya tuntutan. Sebagai mahasiswa awal, saya nurut. Tidak paham betul, tapi takut nilai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kira pengalaman itu berhenti di sana. Ternyata tidak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjelang kelulusan, tepatnya setelah saya menyelesaikan skripsi, sidang, dan nilai sudah diumumkan, saya kembali dihadapkan pada permintaan serupa. Dosen meminta saya membuat artikel jurnal dari skripsi saya. Alasannya terdengar \u201cbaik\u201d untuk keperluan kelulusan dan nilai sudah pasti A kalau tembus publikasi jurnal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya saya bingung. Saya sudah lulus. Sidang sudah selesai. Nilai sudah keluar. Lalu publikasi ini sebenarnya untuk apa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sisi lain, saya berpikir positif. Mempublikasikan skripsi saya itu bagaimanapun juga adalah hal yang bagus.\u00a0 Itu karya saya. Saya menulisnya dari nol, riset sendiri, revisi sendiri, begadang sendiri. Tapi, saya mengiyakan. Saya anggap ini kesempatan baik sekalian belajar dunia <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Publikasi_ilmiah\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">publikasi ilmiah<\/a> dengan lebih serius.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu, saya menyiapkan artikelnya. Saya kirim ke dosen pembimbing. Beberapa hari kemudian, beliau membalas jika artikelnya sudah bagus, hanya perlu sedikit perbaikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya lega. Sampai saya membaca kalimat berikutnya. Beliau meminta saya agar nama beliau dicantumkan sebagai penulis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di situ saya kaget. Bukan kaget kecil. Tapi benar-benar bingung.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kok dosen yang jadi pengarangnya?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artikel itu saya tulis sendiri. Datanya dari skripsi saya. Penelitiannya saya kerjakan sendiri. Saya tidak mempermasalahkan bimbingan itu memang tugas dosen. Tapi kepengarangan adalah hal lain. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Yang membuat saya makin heran, alasannya bukan karena kontribusi ilmiah tambahan, melainkan \u201cKalau nama saya tidak ada, nanti artikelnya tidak bisa diakses.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur, alasan itu terdengar aneh bagi saya. Setahu saya, akses jurnal tidak ditentukan oleh ada atau tidaknya nama dosen tertentu. Apalagi kalau alasannya hanya supaya \u201caman\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang lebih mengganjal lagi kenapa harus nama dosen yang ditaruh di publikasi, dan kenapa bukan di belakang?<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> Kalau memang ingin mencantumkan nama sebagai pembimbing atau kontributor, bukankah etisnya meletakkannya setelah penulis utama yang mengerjakan riset?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa justru mahasiswa yang harus mengalah?<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/publikasi-artikel-saya-yang-begadang-dosen-yang-dapat-nama\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>BACA JUGA: Publikasi Artikel: Saya yang Begadang, Dosen yang Dapat Nama<\/strong><\/a><\/p>\n<h2><b>Ini urusan relasi kuasa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sadar bahwa masalahnya bukan sekadar soal nama. Ini soal relasi kuasa. Mahasiswa berada di posisi lemah. Dosen memegang otoritas nilai, rekomendasi, akses akademik, bahkan kelancaran administrasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mahasiswa jarang benar-benar punya pilihan saat dosen menyampaikan permintaan ini. Menolak terasa berisiko. Bertanya terlalu kritis terasa tidak sopan. Akhirnya banyak yang memilih diam dan mengikuti, meskipun di dalam hati penuh tanda tanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sinilah praktik ini terasa problematik. Publikasi jurnal yang seharusnya menjadi ruang belajar dan pengembangan ilmiah berubah menjadi alat tawar-menawar. Iming-iming nilai A, kelulusan lancar, atau \u201cakses jurnal\u201d digunakan untuk menormalisasi praktik yang secara etika patut dipertanyakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang sering melupakan satu hal, bahwa kepengarangan dalam jurnal ilmiah bukan formalitas. Ada etika internasional yang jelas siapa yang berkontribusi signifikan dalam perumusan ide, metodologi, analisis, dan penulisan, dialah yang berhak atas posisi penulis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bimbingan itu penting, tapi tidak otomatis berarti kepengarangan, apalagi sebagai penulis utama. Kalau semua skripsi mahasiswa otomatis harus mencantumkan nama dosen sebagai penulis pertama, lalu di mana penghargaan terhadap kerja intelektual mahasiswa?<\/span><\/p>\n<h2><b>Publikasi jurnal kehilangan maknanya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya publikasi kehilangan maknanya sebagai proses ilmiah. Ia berubah menjadi administrasi belaka. Target, bukan pembelajaran. Prestasi di atas kertas, tapi rapuh secara etika.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya menulis ini bukan untuk menyerang individu. Saya yakin tidak semua dosen seperti itu. Banyak dosen yang membimbing dengan tulus, adil, dan menjunjung etika. Namun, praktik semacam ini benar-benar terjadi, dan banyak pihak sering menganggapnya biasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, membiarkan hal ini terjadi hanya akan membentuk budaya akademik yang salah. Mahasiswa bekerja, dosen mengambil kredit, mahasiswa membayar, dosen mendapat reputasi, mahasiswa belajar takut, bukan belajar kritis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mahasiswa bukan mesin publikasi. Bukan alat untuk mengejar angka, akreditasi, atau portofolio dosen. Mahasiswa adalah pembelajar yang seharusnya dilindungi, dibimbing, dan diberi ruang untuk tumbuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampai sekarang, saya masih bertanya-tanya kalau skripsi itu karya saya, artikelnya saya tulis sendiri, dan saya sudah lulus, kenapa nama saya tidak cukup berdiri sendiri?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin masalahnya bukan pada satu kasus, tapi pada sistem yang membiarkan praktik seperti ini berjalan tanpa evaluasi. Selama mahasiswa terus memilih diam karena takut, pihak-pihak terkait akan terus menganggap praktik ini wajar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal dunia akademik seharusnya berdiri di atas kejujuran, etika, dan keadilan bukan sekadar siapa yang punya kuasa paling besar.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Intan Permata Putri<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jujur-saya-kaget-lihat-biaya-publikasi-jurnal-bisa-tembus-500-ribu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jujur, Saya sebagai Mahasiswa Kaget Lihat Biaya Publikasi Jurnal Bisa Tembus 500 Ribu, Ditanggung Sendiri Lagi<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menurut saya publikasi jurnal kehilangan maknanya sebagai proses ilmiah. Ia berubah menjadi administrasi belaka.<\/p>\n","protected":false},"author":3172,"featured_media":359818,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[17523,32021,32020,30188,32022],"class_list":["post-386188","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-artikel-ilmiah","tag-dosen-numpang-nama","tag-publikasi-ilmiah","tag-publikasi-jurnal","tag-relasi-kuasa"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/386188","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3172"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=386188"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/386188\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":386395,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/386188\/revisions\/386395"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/359818"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=386188"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=386188"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=386188"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}