{"id":386137,"date":"2026-01-18T09:24:13","date_gmt":"2026-01-18T02:24:13","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=386137"},"modified":"2026-01-19T07:43:58","modified_gmt":"2026-01-19T00:43:58","slug":"8-istilah-bahasa-jawa-yang-orang-jawa-sendiri-salah-paham","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/8-istilah-bahasa-jawa-yang-orang-jawa-sendiri-salah-paham\/","title":{"rendered":"8 Istilah Bahasa Jawa yang Masih Bikin Sesama Orang Jawa Salah Paham"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi perantau, apalagi yang masih tergolong \u201chijau\u201d, harus beradaptasi dengan banyak hal. Mulai dari tempat tinggal, pola komunikasi, hingga bahasa. Dan, sebagai orang yang sejak kecil menggunakan Bahasa Jawa, saya masih bingung.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang Banyuwangi, tentu saya memakai Bahasa Jawa bukan <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Bahasa_Osing\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">osing<\/a>. Makanya, saya sempat mengira bahwa berkomunikasi dengan sesama wong Jawa akan selalu mulus. Toh, bahasanya sama. Logat boleh beda dan intonasi bisa menyesuaikan. Selesai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ternyata saya keliru. Justru setelah merantau, saya baru sadar kalau Bahasa Jawa itu satu nama, tapi isinya ratusan versi. Bahkan di dalam Jawa Timur sendiri, maknanya bisa belok ke mana-mana.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak jarang, satu kata yang bagi saya biasa saja, justru bikin teman dari kota lain melongo. Atau sebaliknya. Saya yang bengong, merasa sedang diajak ngobrol, tapi otak saya masih loading.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin memang sudah waktunya kita serius mempertimbangkan untuk menerbitkan semacam \u201cBuku Pedoman Bahasa Jawa Antar Daerah\u201d. Nanti isinya lengkap dengan catatan kaki: \u201cHati-hati, istilah ini bisa memicu salah paham.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berikut beberapa kosakata yang, berdasarkan pengalaman pribadi, masih sering bikin sesama wong Jawa salah tafsir.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Tanduk, pindah kota berbeda makna<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini kosakata dalam Bahasa Jawa yang bikin saya benar-benar berhenti makan. Suatu kali, teman dari Semarang berkata dengan santai saat kami makan bersama, \u201cGak usah isin-isin, tanduk, neh.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Refleks saya langsung melongo. Tanduk? Di kepala saya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buat saya, tanduk itu identik dengan \u201csaduk\u201d, \u201cmenendang\u201d. Seperti kalimat, \u201cTanduken bal ae,\u201d yang artinya jelas: \u201cTendang saja bolanya.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, ketika kata itu keluar di meja makan, logika saya langsung loncat ke dunia lain. Kita lagi makan, bukan main bola. Setelah teman saya menyadari kebingungan saya, baru dia memberi penjelasan. Di wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya, tanduk berarti nambah makan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oh. Di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nasib-buruh-banyuwangi-tak-semanis-bacotan-netizen\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Banyuwangi<\/a>, konsep \u201cnambah\u201d itu ya imbuh. Ternyata di tempat lain, tanduk bisa bermakna ramah dan persuasif, bukan agresif dan atletis. Dari sini saya belajar satu hal penting bahwa Bahasa Jawa bisa berubah makna hanya karena pindah kota.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Ngelih yang ternyata nggak ilmiah banget<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kosakata kedua datang dari orang yang sama, dan efeknya hampir serupa. \u201cAku ngelih banget iki.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya diam. Bukan karena empati, tapi karena kebingungan. Dalam kamus batin saya, ngelih dengan kata dasar telih itu adalah tembolok ayam. Bagian tubuh pitik tempat makanan mampir sebelum dicerna. Jadi ketika kata itu diberi imbuhan ng-, otak saya menolak untuk memproses.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ngelih? Ini ayam apa manusia? Dan setelahnya, barulah saya tahu bahwa ngelih dalam konteks Bahasa Jawa bagian Jawa Tengah berarti luwe atau lapar. Biasa saja. Masuk akal. Tidak melibatkan unggas.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara bagi saya, kata itu terlalu anatomis untuk dipakai manusia. Tapi ya begitulah Bahasa Jawa. Kadang terasa ilmiah, kadang sangat keseharian, tergantung kita tumbuh di mana.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Ijen, di Bahasa Jawa, bukan hanya bermakna gunung<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang Jawa Timur <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bahasa-walikan-jogja-sulit-dipahami-warga-lokal-hampir-punah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">paling timur<\/a>, ijen bagi saya hanya satu: Gunung Ijen. Tidak ada makna lain. Titik. Sampai suatu hari, saat baru menginjak Malang, seorang teman bertanya, \u201cIjenan a?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan langsung saya jawab jujur dengan penuh keyakinan, \u201cEnggak, aku gak lewat Ijen.\u201d Beberapa detik hening. Lalu tawa pecah. Ternyata, ijen artinya sendirian. Pertanyaan tadi maksudnya sederhana yaitu, kamu datang sendiri kah?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jawaban saya malah melenceng jauh, sampai ke jalur pendakian. Malu? Jelas. Namanya belum tahu, mau bagaimana.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Gojek, istilah Bahasa Jawa yang paling sering bikin salah paham<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini salah satu istilah yang paling sering bikin salah paham lintas kota dan lintas generasi. Dalam Bahasa Jawa yang saya kenal, gojek (atau guyon) berarti bercanda ramai, kadang berlebihan, sampai suasana jadi riuh. Tidak ada hubungannya dengan motor, jaket hijau, atau promo diskon.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi ketika istilah ini saya pakai di depan teman asli Surabaya, saya mendapat banyak respons. Ada yang paham, ada yang mengira saya sedang menyebut aplikasi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sini saya belajar bahwa bahkan di Jawa Timur, tidak semua kosakata hidup merata. Ada yang tumbuh subur di satu wilayah, tapi asing di wilayah lain juga. Sungguh luar biasa.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/8-istilah-bahasa-jawa-yang-orang-jawa-sendiri-salah-paham\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: Istilah yang bikin salah paham.<\/strong><\/em><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>#5 Mbecek: Satu kata, beda dunia<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau di banyak daerah Jawa Timur, kondangan dikenal sebagai buwuh atau nyumbang, lain ceritanya dengan Banyuwangi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di lingkungan saya, kegiatan datang ke hajatan sambil membawa amplop itu disebut mbecek. Masalahnya, di telinga sebagian orang Jawa, mbecek memiliki arti basah, kotor, atau situasi yang ribet.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi ketika saya bilang, \u201cBesok aku mbecek,\u201d reaksinya bukan, \u201cOh, kondangan,\u201d tapi, \u201cLho, kenapa? Kehujanan?\u201d Di sinilah letak keindahan sekaligus kekacauan Bahasa Jawa. Satu kata, beda dunia.<\/span><\/p>\n<h2><b>#6 Sawi, istilah dalam Bahasa Jawa paling membagongkan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang ini mungkin istilah dalam Bahasa Jawa paling membagongkan. Di Banyuwangi, sebutan sawi merujuk pada satu umbi-umbian yaitu singkong atau ketela pohon. Sumber karbohidrat rakyat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi begitu keluar daerah, seperti di Malang, Surabaya, dan sekitarnya, saya baru sadar bahwa sawi adalah sayuran hijau yang biasa nongkrong di mangkok mi ayam saya. Itu Namanya sawi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dua benda. Satu kata. Dan tidak ada yang salah. Hanya berbeda konteks saja.<\/span><\/p>\n<h2><b>#7 Tilik, berpotensi bikin orang salah sangka<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kosakata berikutnya datang dari dapur, secara harfiah. Di Banyuwangi, tilik bukan urusan sosial, apalagi rumah sakit. <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-kendaraan-yang-biasanya-digunakan-untuk-tilik-selain-truk-gabah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tilik<\/a>, ngetilik, tilikono adalah kegiatan yang sangat spesifik yaitu mengicip makanan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ibu dan mbah saya sering mengucapkan ini saat masak. \u201cCoba tilik sek, wes gurih apa durung?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artinya jelas yaitu, cicipi, cek rasanya, pastikan masakannya layak disajikan tanpa memicu konflik keluarga. Makanya, bagi saya, tilik selalu berhubungan dengan lidah, bukan dengan empati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampai suatu hari, saya mendengar kalimat, \u201cNiliki wong loro.\u201d Otak saya langsung error. Kenapa orang sakit malah disuruh diicip? Kurang kerjaan apa kurang bumbu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan barulah saya paham bahwa di daerah lain, terutama Jawa Tengah, tilik berarti menjenguk, seperti yang dipopulerkan lewat film Tilik dengan Bu Tejo dan rombongan ibu-ibu yang penuh dinamika sosial itu. Sementara di Banyuwangi, untuk menjenguk orang sakit, saya lebih akrab dengan istilah ngendangi. Jadi wajar kalau awalnya saya kaget. Di satu tempat, tilik itu urusan rasa. Di tempat lain, urusan rasa\u2026 tapi rasa sosial.<\/span><\/p>\n<h2><b>#8 Empakne, istilah Bahasa Jawa yang paling sering bikin ketawa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Istilah dalam Bahasa Jawa\u00a0 ini mungkin terdengar sepele, tapi cukup sering bikin kebingungan kecil yang berujung tawa. Jika di lingkungan saya, empakne adalah kata kerja, yang sangat praktis. Memiliki arti menyalakan atau mengaktifkan sesuatu, biasanya benda elektronik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh paling sederhananya seperti, \u201cEmpakne lampune kae.\u201d Artinya tidak filosofis, hanya permintaan agar lampu dinyalakan supaya tidak gelap dan tidak menabrak meja. That\u2019s simple.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, ketika istilah ini saya pakai di depan teman dari daerah lain yang sama-sama wong Jawa, reaksinya sering datar, bahkan bingung. Ada yang diam, ada yang bertanya ulang, ada juga yang langsung menertawakan, \u201cBahasa Jawamu aneh banget, e.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pun ikut tertawa. Bukan karena tersinggung, tapi karena sadar, bahkan untuk hal sesederhana menyalakan lampu, Bahasa Jawa bisa <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/8-istilah-bau-dalam-bahasa-jawa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">berbeda kamus<\/a>. Ujung-ujungnya, kami sering menyerah dan kembali ke Bahasa Indonesia. Bukan karena Bahasa Jawa kurang kaya. Tapi justru karena terlalu kaya sampai perlu penerjemah dadakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Ferika Sandra<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-kosakata-bahasa-jawa-yang-sering-salah-penggunaannya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">4 Kosakata Bahasa Jawa yang Sering Salah Penggunaannya<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini\u00a0<\/i><\/a><i>ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada istilah dalam Bahasa Jawa yang bikin bingung, ada yang bikin tertawa. Bahkan orang Jawa sendiri salah paham. Gendheng! <\/p>\n","protected":false},"author":1810,"featured_media":386172,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[763,6216,2426,27623,24404,623,2501,985,4652,405,32000,8496],"class_list":["post-386137","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bahasa-jawa","tag-banyuwangi","tag-gojek","tag-ijen","tag-istilah-bahasa-jawa","tag-jawa","tag-jawa-timur","tag-malang","tag-semarang","tag-surabaya","tag-tanduk","tag-tilik"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/386137","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1810"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=386137"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/386137\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":386314,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/386137\/revisions\/386314"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/386172"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=386137"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=386137"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=386137"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}