{"id":385947,"date":"2026-01-17T08:58:18","date_gmt":"2026-01-17T01:58:18","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=385947"},"modified":"2026-01-17T08:58:18","modified_gmt":"2026-01-17T01:58:18","slug":"jalan-dayeuhkolot-bandung-wujud-ruwetnya-jalanan-bandung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jalan-dayeuhkolot-bandung-wujud-ruwetnya-jalanan-bandung\/","title":{"rendered":"Jalan Dayeuhkolot Bandung: Jalan Raya Paling Menyebalkan di Bandung. Kalau Hujan Banjir, kalau Kemarau Panas dan Macet"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebanyakan driver ojol pasti punya satu keresahan terkait rute ketika notifikasi masuk. Kalau saya, sebagai salah satu driver ojol, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dayeuhkolot-kecamatan-paling-meresahkan-di-kabupaten-bandung\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ujian mental<\/a> di depan mata ketika harus melewati rute Jalan Dayeuhkolot Bandung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dapat orderan melewati Jalan Dayeuhkolot Bandung, ada refleks otomatis untuk menghela napas panjang. Setelah itu saya mengusap dada sembari berbisik dalam hati, &#8220;Ya Allah, kuatkan hamba melewati Jalan Dayeuhkolot hari ini.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun Jalan Dayeuhkolot Bandung jalannya mulus, kemacetan dan ujian melewatinya tetap melegenda seantero Bandung Raya. Berikut ini adalah tiga alasan mengapa jalan Dayeuhkolot ini menjadi &#8220;momok&#8221; bagi para pengendara:<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Kemacetan di Jalan Dayeuhkolot Bandung yang tiada akhir alias tanpa libur<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai jalan provinsi yang membelah kawasan industri, Jalan Dayeuhkolot Bandung adalah urat nadi yang nyaris tersumbat setiap hari. Ribuan buruh pabrik yang tumpah ruah, ditambah truk-truk raksasa bermuatan berat, membuat aspal ini tak pernah diberi nafas untuk sepi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Statusnya sebagai penghubung utama antara Kota Bandung dan Kabupaten Bandung semakin memperparah keadaan. Ketika jam sibuk, kendaraan merayap pelan-pelan seperti siput. Lebar jalan yang terbatas seolah tak berdaya menampung volume kendaraan yang terus membludak, menciptakan antrean yang sanggup menguras habis bensin dan kesabaran secara bersamaan.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Banjir, puncak keresahan maut bagi para pengendara<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika macet adalah masalah harian, maka banjir adalah puncak penderitaan ketika melewati Jalan Dayeuhkolot Bandung. Lokasi jalannya yang bertetangga dengan Sungai Citarum membuat jalan ini menjadi langganan banjir saat musim hujan tiba.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Ci_Tarum\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Citarum<\/a> meluap, titik dari Pasar Dayeuhkolot hingga Jembatan bisa berubah menjadi wahana air dadakan dengan ketinggian bisa mencapai lebih dari satu meter.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini adalah skenario terburuk bagi kami. Memilih untuk menerobos berarti siap dengan risiko mesin motor mati total (water hammer). Namun, menunggu surut pun bukan pilihan bijak karena bisa memakan waktu berjam-jam, bahkan berhari-hari.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mencari jalan tikus ke Bojongsoang, Cibaduyut, atau Rancamanyar? Sama saja. Semua jalur alternatif tersebut biasanya sudah terkunci oleh kemacetan dan genangan Banjir yang tak kalah parahnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Melewati Jalan Dayeuhkolot Bandung di musim kemarau tetap meresahkan pengendara (terutama motor)<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan kira musim kemarau membawa kelegaan. Justru melewati Jalan Dayeuhkolot Bandung saat matahari sedang terik-teriknya adalah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dayeuhkolot-kecamatan-yang-kerap-diolok-se-kabupaten-bandung-bisa-dibanggakan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pengalaman fisik yang sangat menyiksa<\/a>. Material jalan yang berbahan dasar beton dan bukan aspal memberikan kesan psikologis ke pengendara bahwa daerah ibu begitu gersang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisi ini diperparah dengan absennya pepohonan di kedua sisi jalan Jalan Dayeuhkolot Bandung. Yang ada hanyalah debu tebal sisa aktivitas pabrik dan asap knalpot kendaraan berat yang menyesakkan dada.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi kami pengendara motor, &#8220;bonus&#8221; dari rute ini sangat nyata: tangan yang menghitam atau belang karena terpanggang paparan cahaya matahari, wajah bisa hinyai (berminyak) dan cepel (lengket) karena keringat bercampur debu, hingga rambut yang yang mudah lepek di balik helm.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah realita Jalan Dayeuhkolot Bandung. Sebuah jalur yang meskipun permukaannya mulus, tetap menyimpan sejuta keresahan. Melewati jalan ini, baik di bawah guyuran hujan maupun sengatan matahari, bukan lagi sekadar perjalanan biasa, melainkan sebuah ujian kesabaran bagi siapa saja yang melewatinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Acep Saepulloh<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dayeuhkolot-bandung-tidak-cocok-ditinggali-oleh-orang-orang-ini\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">4 Tipe Orang yang Nggak Cocok Tinggal di Dayeuhkolot Bandung<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini\u00a0<\/i><\/a><i>ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jalan Dayeuhkolot Bandung seperti menjadi wujud ruwetnya jalanan di Bandung. Kalau hujan pasti banjir. Kalau kemarau, menyiksa fisik.<\/p>\n","protected":false},"author":2577,"featured_media":386041,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[141,14195,31984,31983,14196,10905],"class_list":["post-385947","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bandung","tag-dayeuhkolot","tag-jalan-dayeuhkolot","tag-jalan-dayeuhkolot-bandung","tag-kabupaten-bandung","tag-kota-bandung"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/385947","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2577"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=385947"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/385947\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":386042,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/385947\/revisions\/386042"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/386041"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=385947"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=385947"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=385947"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}