{"id":385333,"date":"2026-01-14T10:37:58","date_gmt":"2026-01-14T03:37:58","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=385333"},"modified":"2026-01-14T10:37:58","modified_gmt":"2026-01-14T03:37:58","slug":"kuliah-s2-ijazah-jadi-overqualified-dan-akhirnya-menyesal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kuliah-s2-ijazah-jadi-overqualified-dan-akhirnya-menyesal\/","title":{"rendered":"Jangan Kuliah S2 Tanpa Rencana Matang, Bisa-bisa Ijazah Kalian Overqualified dan Akhirnya Menyesal"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lulus S1 itu sering dibayangkan sebagai garis finish. Kenyataannya, bagi banyak orang, justru jadi garis start yang paling bikin deg-degan. Bangun pagi tanpa jadwal kuliah, buka HP isinya grup keluarga nanya, \u201cUdah kerja belum?\u201d Tidak lupa akun LinkedIn penuh postingan orang-orang update karier. Di titik itu, wajar kalau kepala mulai panas dan mikir jalan pintas: kuliah S2 aja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekilas, melanjutkan S2 tampak pilihan yang aman. Dengan melanjutkan studi, kalian berarti masih berstatus mahasiswa, masih punya alasan \u201cproduktif\u201d, dan kelihatan keren di CV. Tapi, tidak semua pilihan yang terlihat aman itu benar-benar aman.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini bukan sekadar opini. Ini pengalaman teman saya sendiri. Setelah lulus S1, dia tidak kunjung bekerja. Bukan karena malas, tapi karena proses cari kerja memang melelahkan secara fisik dan mental. Setiap lamaran kayak masuk lubang hitam kirim <a href=\"https:\/\/akupintar.id\/info-pintar\/-\/blogs\/cara-membuat-cv-curriculum-vitae-yang-baik-dan-menarik\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">CV<\/a>, menunggu, lalu ghosting. Akhirnya, dia ambil S2. Bukan karena mimpi jadi akademisi, tapi karena bingung mau ke mana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya terasa baik-baik saja. Jadwal kuliah padat, tugas numpuk, diskusi kelihatan intelektual. Tapi, persoalan baru muncul setelah lulus S2.<\/span><\/p>\n<h2><b>Overqualified yang diam-diam membayangi lulusan S2<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waktu dia mulai melamar kerja setelah lulus S2, respon HR beda. Begitu lihat lulusan terakhir adalah S2, ekspektasi mereka langsung berbeda. Perusahaan mikir dia bakal minta gaji lebih tinggi, cepat bosan di posisi junior, atau terlalu \u201cteoretis\u201d. Padahal, pengalaman kerjanya nol. Akhirnya, dia sering mentok di satu kondisi pahit: ijazahnya ketinggian, tapi pengalamannya belum ada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Inilah yang sering disebut overqualified. Bukan karena kamu terlalu pintar, tapi karena posisi yang tersedia nggak sejalan dengan profilmu. Perusahaan cari orang siap kerja, bukan sekadar siap diskusi. Dan, di dunia kerja, kesiapan itu lebih sering diukur dari pengalaman, bukan gelar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buat <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/enaknya-fresh-graduate-di-jogja-nggak-dicap-pengangguran\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">fresh graduate<\/a>, S2 nggak otomatis bikin kamu lebih laku di pasar kerja. Bahkan di banyak bidang, S1 dan pengalaman kerja 2 tahun jauh lebih dilirik daripada S2 tanpa pengalaman. Dunia kerja itu praktis. Mereka butuh orang yang bisa langsung jalan, bukan yang masih perlu adaptasi dari nol.<\/span><\/p>\n<p><strong><em><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/s2-ugm-diminati-lulusan-s1-kampus-mana-aja-kecuali-ugm\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Baca juga S2 UGM Diperebutkan Lulusan S1 dari Kampus Mana Aja kecuali dari UGM Sendiri.<\/a><\/em><\/strong><\/p>\n<h2><b>Ini bukan propaganda melarang sekolah tinggi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tulisan ini tidak bermaksud menghalang-halangi kalian untuk melanjutkan studi S2. Tidak sama sekali. Apabila kamu memang punya cita-cita jadi dosen, peneliti, akademisi, atau kerja di bidang-bidang yang mensyaratkan S2, silakan langsung lanjut saja. Kuliah S2 itu pilihan yang valid dan keren. Apalagi kalau S2-nya dibarengi riset, publikasi jurnal, ikut proyek, atau jadi asisten dosen. Dalam konteks ini, S2 bukan pelarian, tapi langkah strategis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah muncul ketika kuliah S2 dijadikan tempat ngumpet. Ngumpet dari rasa takut ditolak kerja, ngumpet dari realita persaingan, atau sekadar ngulur waktu karena belum siap menghadapi dunia profesional. Kalau alasannya ini, S2 berpotensi jadi penyesalan di akhir.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, kerja dulu itu banyak manfaatnya. Dari kerja, kamu belajar hal-hal yang nggak ada di kelas komunikasi sama atasan, kerja tim, konflik kantor, deadline mepet, sampai rasa capek yang dibayar gajian. Dari situ kamu jadi lebih ngerti: bidang apa yang cocok, skill apa yang kurang, dan apakah S2 benar-benar dibutuhkan atau cuma keinginan sesaat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak orang justru ambil S2 setelah kerja dan hasilnya lebih maksimal. Mereka sudah tahu tujuan, topik yang ingin diperdalam, dan posisi apa yang ingin dituju setelah lulus.<\/span><\/p>\n<p><strong><em><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-hal-yang-orang-orang-jarang-katakan-soal-beasiswa-lpdp\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Baca juga 5 Hal yang Orang-orang Jarang Katakan Soal Beasiswa LPDP<\/a>.<\/em><\/strong><\/p>\n<h2><b>Lanjut kuliah tanpa tujuan itu berbahaya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hidup bukan lomba siapa paling cepat lanjut kuliah. Ada yang sukses langsung kerja, ada yang matang setelah muter-muter dulu. Bukan cepat atau lambat yang terpenting itu kenapa kamu memilih jalan itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan sampai kalian ambil S2 cuma karena lagi nggak ngapa-ngapain dan nggak tahu risikonya. Karena kalau salah langkah, yang datang belakangan bukan rasa bangga, tapi bingung.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini kejadian nyata di teman saya. Setelah lulus S2, bukannya langsung dapat kerja sesuai harapan, dia justru mentok ke mana-mana. Akhirnya, demi tetap bisa makan dan jalani hidup, dia pilih jadi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/penghasilan-driver-ojol-tak-masuk-akal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ojol<\/a>. Kerja apapun itu bukan hal yang memalukan. Hanya saja, kondisinya jadi ironis karena gelar tinggi nggak sejalan sama peluang yang ada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buat fresh graduate, penting banget buat sadar kalau S2 itu bukan jalan pintas buat keluar dari fase nganggur. Dunia kerja nggak sesederhana: sekolah lebih tinggi peluang lebih besar\u201d. Tanpa pengalaman, gelar S2 malah bisa bikin posisi kamu serba tanggung. Jadi sebelum mutusin lanjut kuliah, pastikan dulu kamu paham risikonya, tahu tujuan akhirnya mau ke mana, dan nggak cuma kabur dari rasa bingung. Kadang, kerja dulu apa pun itu justru lebih masuk akal daripada lanjut S2 tanpa arah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Intan Permata Putri<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kuliah-s2-wajib-caper-atau-kalian-bakal-menyesal-sendiri\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kuliah S2 Itu Wajib Caper kalau Tidak, Kalian Cuma Buang-buang Uang dan Melewatkan Banyak Kesempatan.<\/span><\/i><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tanpa perencanaan yang matang, ijazah kuliah S2 bisa overqualified di banyak lowongan kerja dan berakhir penyesalan. <\/p>\n","protected":false},"author":3172,"featured_media":385489,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[6129,16703,31938,2879,27819,17167,2064],"class_list":["post-385333","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-kuliah-s2","tag-magister","tag-overqualified","tag-pascasarjana","tag-s1","tag-s2","tag-sarjana"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/385333","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3172"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=385333"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/385333\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":385491,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/385333\/revisions\/385491"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/385489"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=385333"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=385333"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=385333"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}