{"id":384713,"date":"2026-01-12T15:39:11","date_gmt":"2026-01-12T08:39:11","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=384713"},"modified":"2026-01-12T15:39:11","modified_gmt":"2026-01-12T08:39:11","slug":"6-alasan-perantau-begitu-mudah-jatuh-cinta-pada-solo","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/6-alasan-perantau-begitu-mudah-jatuh-cinta-pada-solo\/","title":{"rendered":"6 Alasan Sederhana yang Membuat Perantau seperti Saya Begitu Mudah Jatuh Cinta pada Solo"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya saya datang ke Solo dengan niat sederhana cuma numpang hidup sebentar sambil <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-hal-bikin-mahasiswa-semarang-iri-sama-mahasiswa-solo\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kuliah<\/a>. Rencananya cuma cari pengalaman lalu ke kampung halaman membawa cerita untuk dibanggakan pada keluarga. Tidak ada ekspektasi muluk. Di kepala saya, Solo hanyalah kota kecil, panas, dan sepi. Pokoknya terasa kurang pas untuk saya yang terbiasa hidup di kota agak ribut dan penuh distraksi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ternyata saya salah besar. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Tanpa sadar, hari berubah jadi bulan. Semester demi semester lewat tanpa terasa. Koper yang tadinya selalu siap pulang malah berdebu di pojokan kamar kos, kalah penting dari tumpukan buku, tugas, dan jadwal kelas yang makin padat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada sesuatu di Solo yang pelan-pelan bikin saya betah. Seperti jebakan halus yang tidak terasa, tapi mengikat. Dari sekadar kota tempat menuntut ilmu, Solo berubah menjadi ruang belajar kehidupan. Ini 6 hal yang membuat saya, anak rantau yang awalnya cuma ingin kuliah lalu pulang, akhirnya merasa Solo bukan lagi kota singgah, tapi rumah sementara.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Biaya hidup Solo masih masuk akal meski mulai mahal<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai perantau, urusan paling sensitif tentu soal dompet. Di Solo, setidaknya sampai beberapa waktu lalu, hidup masih terasa ramah di kantong. Makan di warung tiga kali sehari tidak langsung membuat saldo rekening megap-megap. Harga kos juga relatif bersahabat, walau belakangan mulai naik pelan-pelan, mungkin ikut-ikutan inflasi dan kedatangan pendatang seperti saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang bikin tambah seneng, transportasi di sini juga murah meriah. Naik <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Batik_Solo_Trans\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">BST<\/a> cuma tiga ribu rupiah sudah bisa keliling setengah kota. Ojek online? Jangan ditanya, tarifnya masih masuk akal banget dibanding kota-kota besar lain. Jadi saldo e-wallet saya tidak langsung merah di tanggal tua. Alhasil, saya masih bisa menabung buat pulang kampung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Solo, dengan uang pas-pasan, kita masih bisa makan enak, seperti nasi liwet, timlo, tengkleng, sampai angkringan yang seolah tak pernah tutup. Bahkan, jajan malam bisa jadi agenda healing murah meriah. Bagi anak rantauan yang hidupnya sering ditentukan oleh tanggal gajian dan sisa saldo e-wallet, kondisi ini jelas bikin betah.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Ritme kota yang pelan, tapi tidak membosankan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Solo itu tidak tergesa-gesa. Lampu merah tidak membuat orang klakson berjamaah seperti <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nonton-konser-dangdut-kok-tawuran-norak-bos\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">konser dangdut<\/a>. Orang-orang berjalan santai, berbicara pelan, bahkan marah pun nadanya tetap sopan. Awalnya ritme seperti ini membuat saya gelisah, merasa hidup terlalu lambat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, justru di situlah daya tariknya Kota Batik ini. Solo memberi ruang untuk bernapas. Hidup tidak melulu cepat-cepatan. Kita bisa menikmati pagi tanpa harus dikejar bunyi notifikasi dan kemacetan brutal. Kota ini cocok untuk orang-orang yang lelah dikejar ambisi tapi belum siap sepenuhnya menyerah pada hidup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pelan bukan berarti mati gaya. Ada event budaya, kuliner baru bermunculan, kafe estetik di sudut kota, dan diskusi-diskusi kecil yang tumbuh diam-diam. Solo hidup, hanya tidak berisik.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Orang-orangnya ramah dengan cara yang tulus<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ada satu hal yang konsisten membuat saya nyaman, itu adalah keramahan warganya. Di Solo, senyum bukan basa-basi. Sapaan bukan formalitas. Tukang parkir bisa mengingat wajah kita walau cuma bertemu dua kali. Ibu warung bisa hafal pesanan kita tanpa perlu mencatat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai anak rantauan, rasa diterima itu penting. Di kota besar, kita sering merasa anonim datang dan pergi tanpa pernah benar-benar dianggap ada. Di Solo, keberadaan kita terasa. Ada rasa \u201cdiuwongke\u201d yang sulit dijelaskan tapi nyata dampaknya bagi kesehatan mental.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kadang, obrolan singkat di warung kopi atau angkringan justru lebih menghangatkan dibanding motivasi di seminar mahal.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Akses ke mana-mana yang tidak ribet<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Solo itu kecil, dan itu keunggulannya. Mau ke kampus, kantor, pasar, atau tempat nongkrong, jaraknya relatif dekat. Macet memang mulai terasa, tapi belum sampai tahap membuat kita menyesali keputusan hidup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Transportasi mudah, biaya bensin tidak membakar tabungan, dan waktu tempuh masih manusiawi. Hidup terasa efisien tanpa harus hidup seperti robot. Kita masih punya waktu untuk diri sendiri, bukan habis di jalan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi perantau yang terbiasa hidup di kota besar, Solo terasa seperti bonus hidup yang lebih banyak waktu, lebih sedikit stres.<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Kuliner SIki juara, harganya bersahabat, rasanya bikin ketagihan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Solo itu surganya kuliner dengan harga rakyat jelata. Dari nasi liwet, tengkleng, saate buntel, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panduan-makan-selat-solo-agar-rasanya-sesuai-di-lidah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">selat Solo<\/a>, sampai Serabi Notosuman, semuanya enak dan tidak membuat kantong terkuras. Bahkan, makanan kaki lima di sini rasanya bisa mengalahkan restoran mahal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang bikin tambah betah, lokasi jajan di Solo itu tidak cuma di tempat yang itu-itu aja. Hampir di setiap sudut kota ada hidden gem kuliner yang siap memanjakan lidah. Saya sudah mencoba puluhan tempat makan, dan sampai sekarang masih penasaran sama tempat-tempat baru yang belum saya sambangi. Berat badan naik? Sudahlah, itu urusan nanti saja yang penting perut happy dulu.<\/span><\/p>\n<h2><b>#6 Ada rasa aman dan tenang di Solo yang sulit dicari<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini mungkin terdengar klise, tapi, bagi saya, Solo memberikan rasa aman yang sulit ditemukan di kota lain. Malam hari masih terasa bersahabat. Jalanan tidak terlalu mencekam. Orang pulang larut tidak selalu dibayang-bayangi kecemasan berlebihan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu bukan berarti Solo bebas masalah. Tetap ada kriminalitas, tetap ada konflik kecil, tetap ada sisi gelap kota. Tapi secara umum, rasa tenang itu nyata. Bagi anak rantauan yang jauh dari keluarga, rasa aman menjadi kebutuhan emosional yang sering diremehkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Solo, pulang ke kos malam hari tidak terasa seperti misi survival.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, betah di Solo bukan soal fasilitas mewah atau gemerlap kota. Justru kesederhanaannya yang membuat banyak perantau enggan pergi. Kota ini tidak menjanjikan kekayaan instan atau karier gemilang dalam semalam. Tapi, dia menawarkan kehidupan yang layak dijalani tanpa harus selalu tergesa dan tertekan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya datang sebagai tamu. Tanpa sadar, saya jatuh cinta dan belajar menetap. Solo mengajarkan bahwa hidup tidak harus selalu berisik untuk terasa bermakna. Kadang, yang kita butuhkan hanya kota yang mau menerima kita apa adanya dengan segala kekurangan, dompet tipis, dan mimpi yang belum tentu jadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan, entah sampai kapan saya akan di sini, tapi untuk saat ini, saya masih betah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sisi-gelap-solo-serba-murah-itu-kini-cuma-sebatas-dongeng\/\"><b><i>Anggapan Solo Serba Murah Mulai Terasa Seperti Dongeng, Gaji Tidak Ikut Jakarta tapi Gaya Hidup Perlahan Mengikuti.<\/i><\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Solo begitu mudah membuat perantau jatuh cinta lewat biaya hidup yang terjangkau, orang yang ramah, hingga rasa aman dan tenang.  <\/p>\n","protected":false},"author":2984,"featured_media":385215,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[31883,31919,23282,2284],"class_list":["post-384713","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-biaya-hidup-solo","tag-hidup-di-solo","tag-slow-living","tag-solo"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/384713","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2984"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=384713"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/384713\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":385223,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/384713\/revisions\/385223"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/385215"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=384713"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=384713"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=384713"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}