{"id":384405,"date":"2026-01-11T08:42:08","date_gmt":"2026-01-11T01:42:08","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=384405"},"modified":"2026-01-13T11:19:58","modified_gmt":"2026-01-13T04:19:58","slug":"sisi-gelap-solo-gaji-tidak-berkembang-gaya-hidup-makin-mahal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sisi-gelap-solo-gaji-tidak-berkembang-gaya-hidup-makin-mahal\/","title":{"rendered":"Sisi Gelap Solo: Gaji Tidak Ikut Jakarta tapi Gaya Hidup Perlahan Mengikuti, Katanya Serba Murah tapi Kini Cuma Dongeng"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita semua mungkin masih mengenal Solo sebagai <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-hal-yang-bikin-orang-solo-bangga-orang-luar-nggak-paham\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kota yang ramah di dompet<\/a>. Seperti \u201cbrosur tidak resmi\u201d, banyak yang mempromosikan Solo sebagai tempat dengan hal-hal indah. Misalnya, makan murah, kos terjangkau, orang-orangnya kalem, cocok untuk mahasiswa, pekerja pemula, dan siapa saja yang ingin kabur dari kerasnya kota besar.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seolah-olah, tinggal di Solo adalah bentuk perlawanan terhadap kapitalisme yang terlalu agresif. Masalahnya, hal-hal indah itu mulai retak. Pelan-pelan, tapi konsisten.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya mulai menyadarinya bukan dari data statistik, melainkan dari struk belanja yang makin panjang dan saldo rekening yang makin pendek.<\/span><\/p>\n<h2><b>Makan murah tinggal kenangan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, makan di Solo identik dengan angka belasan ribu. Nasi liwet, soto, tengkleng, atau sekadar nasi kucing di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-perbedaan-mencolok-angkringan-di-pekalongan-jogja-dan-solo\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">angkringan<\/a> bisa mengenyangkan tanpa membuat dompet sesak napas.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kini, angka itu pelan-pelan bergeser. Harga dua puluh ribuan mulai terasa normal. Tiga puluh ribu bukan lagi kemewahan, terutama jika kita tergoda menu \u201ckekinian\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan berarti makan murah lenyap sepenuhnya. Ia masih ada, tapi harus mencarinya lebih keras, masuk gang, kompromi rasa, atau rela antre lebih lama. Murah kini bukan default, melainkan hasil perjuangan. Ironisnya, di kota yang sering dipuja sebagai surga kuliner murah, justru kopi susu dan rice bowl bergaya metropolitan tumbuh lebih cepat daripada warung tradisional.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kos murah di Solo perlahan jadi dongeng<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cerita kos tiga ratus ribu per bulan kini terdengar seperti dongeng yang diceritakan senior ke junior. Masih ada, katanya, tapi lokasinya semakin menjauh dari pusat aktivitas, fasilitas seadanya, dan kadang sinyal internetnya lebih lambat dari proses move on.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kos yang \u201clayak\u201d kini mulai menyentuh angka tujuh ratus ribu hingga sejuta, apalagi jika dekat kampus atau pusat kota. Kamar ber-AC, kamar mandi dalam, dan parkiran aman sudah menjadi standar baru yang otomatis menaikkan harga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Solo pelan-pelan belajar menjadi kota urban. Lengkap dengan harga hunian yang ikut belajar naik.<\/span><\/p>\n<h2><b>Nongkrong murah harus pakai strategi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nongkrong di Solo dulu identik dengan wedangan, teh panas, dan obrolan panjang tanpa takut tagihan. Sekarang, nongkrong sering berarti pesan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-kopi-kemasan-yang-rasanya-nggak-kalah-nikmat-dari-kopi-kekinian\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kopi kekinian<\/a>, duduk di tempat estetik, dan secara tidak sadar menghabiskan uang setara dua kali makan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan salah kafenya. Kita juga ikut berubah. Standar kenyamanan naik, ekspektasi visual meningkat, dan kebutuhan eksistensi ikut bermain. Murah tidak lagi sekadar soal harga, tapi soal gengsi dan pengalaman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hidup murah kini membutuhkan strategi: pilih jam happy hour, pesan air putih, atau pura-pura sibuk supaya tidak pesan ulang.<\/span><\/p>\n<h2><b>Transportasi di Solo memang murah, tapi waktu mahal<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara nominal, transportasi di Solo memang relatif murah. Namun, murahnya ongkos harus kita bayar dengan waktu. Angkutan umum yang belum sepenuhnya terintegrasi membuat banyak orang tetap bergantung pada kendaraan pribadi. Biaya bensin, parkir, servis, dan cicilan motor menjadi pengeluaran rutin yang jarang kita hitung secara jujur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lagi <a href=\"https:\/\/video.tribunnews.com\/regional\/899438\/dishub-solo-tegaskan-tarif-parkir-gencarkan-penertiban-parkir-liar-usai-wisatawan-meningkat\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">parkir liar<\/a> yang tarifnya fleksibel mengikuti mood juru parkir. Murah di teori, mahal di praktik.<\/span><\/p>\n<h2><b>Gaya hidup diam-diam menyamaratakan harga<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah terbesar mungkin bukan kenaikan harga, melainkan perubahan gaya hidup. Mall, kafe, event, konser kecil, dan festival kuliner membuat pola konsumsi warga Solo semakin mirip kota besar. Kita tidak lagi sekadar hidup, tapi ikut berlomba menikmati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya, Solo tetap terasa murah jika membandingkannya dengan Jakarta. Tapi perbandingan itu menipu. Karena gaji tidak ikut Jakarta, sementara gaya hidup pelan-pelan ikut. Murah menjadi relatif, bukan absolut.<\/span><\/p>\n<h2><b>Solo murah secara emosional, tapi mahal secara realitas<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang masih bertahan dari Solo mungkin bukan murahnya. Di sini masih bertahan rasa nyaman dengan ritme hidup yang tidak terlalu tergesa, orang-orang yang ramah, jarak tempuh yang relatif dekat, dan suasana kota yang tidak terlalu bising.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara emosional, hidup di Solo memang menenangkan. Tapi secara finansial, ia mulai menuntut kewaspadaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita tidak lagi bisa hidup asal jalan tanpa perencanaan. Kita harus mencatat anggaran bulanan secara ketat, harus bisa mengendalikan godaan, dan lebih realistis menyikapi romantisme kota murah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Solo tidak berubah menjadi mahal secara tiba-tiba. Ia hanya tumbuh. Seperti anak kecil yang dulu makan sedikit, kini minta porsi lebih besar. Kita yang masih membawa ekspektasi lama akhirnya sering kaget saat membayar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mitos hidup murah di Solo memang belum sepenuhnya mati. Ia hanya tidak lagi sekuat dulu. Dan mungkin, itu bukan sepenuhnya kabar buruk.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kota yang berkembang memang membawa konsekuensi. Tinggal bagaimana kita menyesuaikan diri. apakah tetap hidup dalam nostalgia harga lama, atau belajar berdamai dengan realitas baru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena pada akhirnya, yang paling mahal bukan harga makanan atau kos, melainkan ilusi bahwa segala sesuatu akan selalu murah selamanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ironi-kota-solo-nyaman-ditinggali-biaya-hidupnya-begitu-tinggi\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Ironi Kota Solo: Kotanya Nyaman untuk Ditinggali, tapi Biaya Hidupnya Begitu Tinggi<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Secara emosional, hidup di Solo memang masih pelan dan menenangkan. Tapi secara finansial, ia mulai menuntut kewaspadaan.<\/p>\n","protected":false},"author":2984,"featured_media":384426,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[31883,31885,529,31884,24868,2284,31886],"class_list":["post-384405","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-biaya-hidup-solo","tag-gaji-solo","tag-jakarta","tag-kafe-kekinian-solo","tag-kuliner-solo","tag-solo","tag-solo-mahal"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/384405","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2984"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=384405"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/384405\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":385313,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/384405\/revisions\/385313"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/384426"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=384405"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=384405"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=384405"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}