{"id":384375,"date":"2026-01-11T08:01:28","date_gmt":"2026-01-11T01:01:28","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=384375"},"modified":"2026-01-13T11:15:45","modified_gmt":"2026-01-13T04:15:45","slug":"berat-merantau-di-jogja-diserang-umr-rendah-dan-kesepian","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/berat-merantau-di-jogja-diserang-umr-rendah-dan-kesepian\/","title":{"rendered":"Beratnya Merantau di Jogja karena Harus Berjuang Melawan Gaji Rendah dan Rasa Kesepian"},"content":{"rendered":"<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja adalah kota yang istimewa, tapi tidak bagi kelas pekerja.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Merantau bukan hal baru bagi saya. Sejak lulus SMA, saya lebih banyak menghabiskan waktu di luar daerah. Saya lahir dan besar di Jombang, lalu merantau untuk kuliah ke Bangkalan selama enam tahun. Pulang-pergi, hidup pas-pasan, dan menyesuaikan diri dengan kota orang lain sudah menjadi rutinitas.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah lulus, saya sempat bekerja sebentar di kampung halaman. Namun, kontrak habis, dan seperti banyak lulusan baru lainnya, saya harus kembali ke titik awal, yaitu mencari kerja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang saya berniat untuk merantau lagi. Entah mengapa saya tidak betah di rumah. Awalnya saya punya standar. Saya mengirim lamaran ke daerah dengan UMR yang relatif tinggi dan masih dekat dari rumah, seperti <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/derita-orang-jogja-dituduh-sok-tahu-oleh-pekerja-surabaya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Surabaya<\/a> dan sekitarnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Logikanya sederhana. Upah lebih masuk akal dan jika sewaktu-waktu ingin pulang ke rumah, jaraknya dekat.<\/span><\/p>\n<h2><b>Susahnya cari kerja dan keputusan menerima kerja di Jogja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun wapres kita sudah menjanjikan 19 juta lapangan kerja, realitanya mencari kerja bukanlah perkara mudah. Dari sekian banyak lamaran, hanya segelintir yang berujung wawancara. Selebihnya menguap begitu saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi sebagian orang, apalagi yang tidak memiliki privilege, fase mencari kerja adalah salah satu fase terberat dalam hidup. Beberapa bulan tidak kunjung mendapat kerja, membuat saya akhirnya menyerah pada idealime awal.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hingga akhirnya standar mulai turun. Daerah tak lagi jadi soal, asal pekerjaan masih nyambung dengan minat, maka saya akan melamarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Singkat cerita, akhirnya panggilan itu datang dari Jogja. Keputusan menerima pekerjaan di Jogja adalah dilema yang nyata. <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/jogja\/berita\/d-8298853\/alasan-buruh-desak-ump-jogja-rp-2-4-juta-direvisi-khl-rp-4-juta\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">UMR-nya rendah<\/a>, jauh dari Surabaya dan sekitarnya, bahkan masih di bawah kota kelahiran saya. Selain itu, saya juga tidak punya kenalan di sana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun setelah berbulan-bulan menganggur, logika lain muncul. Lebih baik menerima upah kecil daripada tidak punya penghasilan sama sekali. Berbekal restu orang tua dan sedikit kunci untuk menjawab soal matematika UMR Jogja dibagi 30 hari, akhirnya saya nekat berangkat juga.<\/span><\/p>\n<h2><b>Bunuh diri upah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya menganggap keputusan saya bekerja di Jogja adalah sebuah langkah \u201cbunuh diri upah\u201d. Selain itu, yang bilang Jogja serba murah, saya yakin mereka tidak pernah tinggal dalam waktu lama di sini. Faktanya, menurut BPS, standar hidup di Jogja justru berada di atas Surabaya. Aneh banget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kali ini saya sepenuhnya sepakat dengan BPS. Saya rasa harga kebutuhan pokok seperti sembako hampir sama di tiap daerah, khususnya di Pulau Jawa. Namun, harga kos dan makanan lain lagi. Masalahnya bukan semata harga, melainkan jurang antara biaya hidup dan upah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka, Jogja tidak lagi menjadi kota yang istimewa, setidaknya bagi saya. Saya menganggap Jogja is tirakat. Untuk bertahan hidup, saya harus pandai menahan diri. Khususnya untuk menghitung pengeluaran dengan cermat, menekan keinginan, dan berdamai dengan kenyataan bahwa menabung adalah sebuah kewajiban.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Upah rendah dan biaya hidup tinggi adalah duet maut. Yang satu bikin kantong kempes, yang lain bikin hidup ngos-ngosan. Tidak berlebihan jika saya menyebutnya sebagai sebuah langkah \u201cbunuh diri upah\u201d<\/span><\/p>\n<h2><b>Rentan kesepian di Jogja itu nyata<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain masalah UMR rendah dan biaya hidup tinggi, menurut survei Litbang Kompas 2025, Jogja adalah kota dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/jakarta-dan-jogja-sama-saja-menyiksa-dan-bikin-kesepian\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tingkat kerentanan kesepian tertinggi di Indonesia<\/a>. Jika data menunjukkan sekitar dua dari tiga orang yang tinggal di Jogja mengaku setidaknya merasakan kesepian sekali dalam seminggu, maka saya adalah satu dari dua orang tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah beberapa bulan hidup di Jogja, saya berkali-kali merasakan yang namanya kesepian. Hidup di kota orang tanpa keluarga dan teman membuat kesepian terasa nyata.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun ada ponsel, tetap saja tidak bisa menghapuskan rasa sepi yang saya alami. Ponsel memang menjanjikan sebuah keterhubungan. Namun kebutuhan untuk terhubung secara fisik tetaplah ada, dan ponsel tidak bisa memenuhi kebutuhan tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Merantau untuk bekerja tidak sama dengan merantau untuk kuliah. Jika dulu saat kuliah, mencari teman itu sangat mudah. Selain karena banyak dari mereka sama-sama merantau, usia kita juga relatif sama.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tempat saya kerja kali ini, mayoritas rekan kerja adalah asli Jogja. Jika bukan warga lokal, setidaknya mereka sudah lama tinggal di Jogja sehingga sudah punya teman atau keluarga. Selain itu, saya adalah yang paling muda dan selisih usia terpaut cukup jauh dengan yang lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain di tempat kerja, di kos saya juga mencoba untuk \u201cgrapyak\u201d dengan penghuni yang lain. Karena sama-sama perantau, saya berpikir siapa tahu mereka mau berteman akrab.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, sikap mereka terlihat seperti tidak ingin bersosialisasi. Penghuni kos saya kebanyakan lebih suka berada di dalam kamarnya masing-masing. Akhirnya, saya hanya bertegur sapa sekedarnya setiap berpapasan dengan mereka.<\/span><\/p>\n<h2><b>Terpaksa menikmati<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, pilihan rasional agar tetap bisa menikmati hidup di Jogja adalah dengan menerima dan bersyukur. Setidaknya untuk sementara, saya bebas dari status menganggur. Paling tidak dengan bekerja, kita belajar untuk bertanggung jawab atas diri sendiri dan tidak merepotkan orang tua.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untungnya, sejauh ini, saya masih bisa menyiasati berbagai masalah yang datang. Salah satu pegangan hidup saya adalah pelajaran dari <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ki-ageng-suryomentaram-melawan-belanda-bersama-rakyat-jelata\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Ki Ageng Suryomentaram<\/a>.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pelajaran dari beliau berbunyi: \u201cSabutuhe, saperlune, sacukupe, sabenere, samesthine, dan sapenake.\u201d Intinya adalah hidup secukupnya, sewajarnya, dan tidak berlebihan. Pelajaran ini lumayan membantu, meski tidak selalu ampuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Barangkali memang begitu takdir kelas pekerja di Jogja hari ini. Kami harus mau hidup sederhana, menerima, dan menikmati keterbatasan tanpa harus protes. Sayangnya, yang sering disederhanakan bukan gaya hidup saja, melainkan hak untuk hidup lebih layak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Muhammad Nazarrudin<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-alasan-banyak-perantau-tak-angkat-kaki-dari-jogja\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">5 Alasan Banyak Perantau Belum Mau Angkat Kaki dari Jogja, sekalipun UMR-nya Tidak Masuk Akal<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Merantau di Jogja bisa menjadi pilihan yang berat. Di sini, kamu harus melawan UMR rendah dan potensi kesepian yang berbahaya.<\/p>\n","protected":false},"author":3183,"featured_media":384417,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[21900,115,14216,27772,405,12370,6094,27950,31881],"class_list":["post-384375","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-gaji-jogja","tag-jogja","tag-jombang","tag-kerja-di-jogja","tag-surabaya","tag-ump-jogja","tag-umr-jogja","tag-umr-surabaya","tag-upah-jogja"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/384375","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3183"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=384375"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/384375\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":385311,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/384375\/revisions\/385311"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/384417"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=384375"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=384375"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=384375"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}