{"id":3842,"date":"2019-06-16T08:00:18","date_gmt":"2019-06-16T01:00:18","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=3842"},"modified":"2022-01-17T12:55:08","modified_gmt":"2022-01-17T05:55:08","slug":"dulu-ibu-menyuruh-kami-tidur-siang-sepulang-sekolah-tapi-saat-libur-kuliah-kami-disuruh-main-main","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dulu-ibu-menyuruh-kami-tidur-siang-sepulang-sekolah-tapi-saat-libur-kuliah-kami-disuruh-main-main\/","title":{"rendered":"Dulu Ibu Menyuruh Kami Tidur Siang Sepulang Sekolah, Tapi Saat Libur Kuliah Kami Disuruh Main-Main"},"content":{"rendered":"<p>Tidak ada yang mengkhawatirkan kami saat pulang sekolah. Karena yang penting itu kami berangkat sekolah. Jadi main ke manapun setelah pulang sekolah\u2014ya terserah kami. Toh kalau ada yang menculik kami dan minta tebusan\u2014itu hanya cerita. Tapi jikalau ada orang yang gelisah saat kami main sepulang sekolah dan marah saat kami belum ganti baju ketika main, ya berarti dia\u2014biasanya kupanggil dia Ibu.<\/p>\n<p>Ibu suka marah saat kami kecil. Tepatnya saat kami masih sekolah dasar dan suka main-main untuk mengisi waktu sepulang sekokah. Kami setiap hari kena marah. Tapi ya tetap, kalau ada celah untuk pergi, sudah pasti kami pergi\u2014mandi ke sungai, main layangan ke sawah, sesekali juga ke tempat rental PlayStation. Saat itu kami tidak ada yang punya sepeda motor, paling tidak kami sudah bahagia betul kalau udah sunnat dan dibelikan <a href=\"https:\/\/tirto.id\/ahok-ubah-kalijodo-jadi-area-skate-park-dan-sepeda-bmx-bXYD\"><em>onthel<\/em> macam BMX<\/a> gitu lah. Malah jika waktu libur seminggu sekali kami tidak suka main jauh-jauh\u2014malahan di rumah dan mungkin main di pelataran rumah.<\/p>\n<p>Entah bagaimana dunia main saat kecil itu sangat heboh dan asyik sekali. Seperti masak-masakan itu bukan hanya perempuan, sebagian kami laki-laki juga. Lalu main monopoli, ular tangga, klereng, dan dunia permainan saat kecil dulu. Tentu tidak sama dengan anak-anak sekarang yang konon katanya sebagian besar sudah punya <em>handphone<\/em> dan minimal sanggup main ML atau Hago. Jelas beda, jangan samakan, apalagi memaksa permainan jaman kita untuk anak-anak sekarang. Kasihan\u2014dan nantinya mereka malah sendirian kalau memilih main seperti jaman kita dulu. Lha wong teman-temannya sedang mabar\u2014main bareng.<\/p>\n<p>Kalau ada di antara kami yang sudah tua sedang bernostalgia dengan permainan dulu, maka biarin saja. Mereka sedang membayangkan masa lalu. Dan rindu masa anak-anak itu adalah hak segala warga. Pada akhirnya diantara kami harus percaya dan yakin dengan kalimat Ali Bin Abi Thalib, \u201cdidiklah anakmu dengan sesuai jamannya\u201d.<\/p>\n<p>Seperti bicara kekompakan atau <em>team work<\/em> dalam permainan, hampir sama cara kerjanya antara permainan jaman dulu dan sekarang. Secara substansi memang berkelompok dan melatih skill kerjasama yang baik\u2014PUBG contoh kecilnya.<\/p>\n<p>Maksudnya biarlah urusan permainan adalah urusan masing-masing anak. Sebagai yang lebih tua perlu memberi batasan waktu <a href=\"https:\/\/mojok.co\/ayz\/konsultasi\/resah\/perlukah-anak-anak-usia-dini-dilarang-menggunakan-gadget\/\">bermain di <em>gadget<\/em><\/a> itu. Orangtua punya porsi waktu untuk bermain dengan kita, atau paling tidak kontak fisik secara langsung. Dan bermain itu harus ada batas waktunya.<\/p>\n<p>Sebagian besar ibu-ibu itu punya tingkat keanehan cara didiknya, salah satu diantaranya itu kami suka dimarah-marahi kalau main-main terus saat kecil. Namun tidak saat libur kuliah tiba dan kami hanya tidur-tiduran saja di rumah. Ini seperti yang dikatakan sahabat Ali di atas, asumsinya bahwa cara didik ibu mungkin berharap tepat sasaran.<\/p>\n<p>Padahal melihat beberapa anak itu tidak bisa main jauh-jauh saat menjelang dewasa. Seperti contoh beberapa anak perempuan ibu kami. Kalau sudah besar tidak bisa sembarangan main kemana aja, proseduralnya lebih ketat. Kecenderungan cara didik seperti ini adalah kebiasaan patriarki yang dulu Ibu kami juga rasakan. Memilih untuk diskusi dengan Ibu pasti jawabannya tetap sama,<\/p>\n<p>\u201cKalau pendidikan soal anak-anak perempuan, biar Ibu sendiri yang menentukan. Kalau yang laki-laki terserah kalian.\u201d Ujar ibu saat saya mengusulkan adik perempuan kuliah di kota lain.<\/p>\n<p>\u201cBeda nak. Kekuatan perempuan untuk menjaga dirinya di luar itu lebih rapuh. Dan mereka adik-adikmu yang perempuan tidak boleh main jauh-jauh.\u201d Kali ini kehati-hatian ibu berakar dari ketakutan masa lalu, tapi biarlah hak Ibu memberikan pendidikan kepada anaknya.<\/p>\n<p>Akhirnya kalau adik perempuanku liburan kuliah bisa bermain ke luar rumah dengan alasan pergi bersama dengan ponakan-ponakan yang lain. Artinya kecurigaan Ibu menurun seketika mereka perempuan tidak pergi sendirian, apalagi ke kota. Namun saya sebagai anak laki-laki yang juga masih kuliah terkadang memilih tidur saat pagi. Bermain-main juga sudah tidak punya teman, dan kenapa mesti ribet bersentuhan fisik kalau mau main-main, kan sudah ada game di Play Store dan App Store.<\/p>\n<p>\u201cSana main, Nak,\u201d kata Ibu suatu siang saat di rumah.<\/p>\n<p>\u201cNgantuk, Bu,\u201d balasku lirih sedikit sebal sembari membenamkan kepala di bawah bantal.<\/p>\n<p>\u201cMasak ya tidur <em>tok, <\/em>Nak.\u201d Ibu berkata sambil menggoyangkan tubuhku yang masih tidur.<\/p>\n<p>Sulit benar memang mengenal ibu-ibu\u2014pikirku. Sesulit saat kita memahami beberapa pengendara motor dari kaum ibu-ibu yang menyalakan lampu sein ke kiri kemudian memilih belok ke kanan. Mau marah bagaimana, diapa-apakan saja dia ibu kami. Bahkan separah-parahnya perlakuan Ibu, masih saja letak surga berada di bawah telapak kakinya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya sebagai anak laki-laki yang juga masih kuliah terkadang memilih tidur saat pagi. Bermain-main juga sudah tidak punya teman.<\/p>\n","protected":false},"author":45,"featured_media":3903,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[436,34,1000,999],"class_list":["post-3842","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-kuliah","tag-mahasiswa","tag-sepulang-sekolah","tag-tidur"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3842","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/45"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3842"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3842\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3903"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3842"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3842"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3842"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}