{"id":384011,"date":"2026-01-08T11:16:15","date_gmt":"2026-01-08T04:16:15","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=384011"},"modified":"2026-01-14T10:21:09","modified_gmt":"2026-01-14T03:21:09","slug":"hal-aneh-yang-hanya-terjadi-di-perkampungan-padat-penduduk-kota-jogja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hal-aneh-yang-hanya-terjadi-di-perkampungan-padat-penduduk-kota-jogja\/","title":{"rendered":"Hal Unik yang Hanya Terjadi di Perkampungan Padat Penduduk di Jogja, Pasti Bikin Kalian Geleng-geleng"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi sebagian orang, warga Jogja itu unik. Keunikan ini berhulu dari beragamnya latar belakang warganya. Keunikan dan keberagaman ini kemudian seperti dua mata pisau, ada yang berdampak baik dan tentu ada yang buruknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai warga Jogja yang dari mbrojol sampai dewasa hidup di salah satu kampung padat penduduk di Kota Jogja, wabil khusus bantaran Sungai Code, bikin saya melihat banyak perilaku unik warga perkampungan padat penduduk Kota Jogja yang nggak kita lihat di sisi lain Kota Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin perilaku semacam ini hampir mirip sama perkampungan padat penduduk di kota-kota lain. Tapi saya ingin menunjukkan sisi lain Kota Jogja, yang tertutup dan terjebak di antara gemerlap lampu kota dan masifnya pariwisata Jogja. Mulai dari \u201ckeunikan\u201d yang masih dapat dimaklumi sampai kelewat unik.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tempat umum serasa milik sendiri<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namanya juga pemukiman padat penduduk, sudah pasti lahannya sangat terbatas. Ini yang bikin setiap rumah tangga sangat memanfaatkan lahan yang ada untuk segala keperluan mereka. Bisa jadi itu adalah sarana umum seperti lapangan badminton, tapi kalau pribadi butuh untuk parkir kendaraan atau jemur pakaian, label sarana umum jadi berasa milik pribadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanya nggak heran saat <a href=\"https:\/\/jogjapolitan.harianjogja.com\/read\/2025\/12\/10\/510\/1238646\/jembatan-kewek-ditutup-arus-ke-malioboro-dialihkan-lewat-kridosono\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jembatan Kewek ditutup<\/a>, kemudian dipakai untuk main bola anak-anak. Ya, karena mereka nggak punya lahan lagi untuk bermain. Jalan umum pun jadi milik warga untuk melakukan berbagai hal termasuk main bola.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-kota-yang-keburukannya-selalu-dimaafkan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>BACA JUGA: Jogja, Kota yang Keburukannya (Entah Kenapa) Selalu Dimaafkan<\/strong><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, kadang halaman rumah orang lain juga dipakai untuk keperluan bersama. Mengganggu nggak? Tentu ganggu banget, tapi ya mau gimana lagi. Kamar mandi masjid juga dianggap milik bersama karena realitasnya masih ada rumah tangga di Kota Jogja yang nggak punya MCK sendiri di rumahnya. Tapi perilaku ini kadang nggak dibarengi dengan perilaku bersih.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jalan kampung Kota Jogja adalah teras rumah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masih berhubungan sama tempat umum serasa milik pribadi, jalan kampung pun adalah fasilitas umum yang juga jadi teras rumah warga. Lagi-lagi masalah keterbatasan lahan bikin kebanyakan rumah nggak punya teras apalagi halaman. Buka pintu ya langsung jalan kampung. Dan jangan dipikir jalannya itu lebar. Kalau ada dua motor berpapasan, salah satu harus ngalah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah lumrah dan dianggap wajar kalau jalan kampung yang jadi \u201cteras\u201d ini dipasangi bangku-bangku untuk cangkrukan warga bahkan untuk kegiatan-kegiatan lainnya, mulai dari menerima tamu, gitaran sampai tengah malam, bahkan metani alias kegiatan mencari kutu rambut. Ada-ada saja kegiatan dan gebrakannya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Masih sempat memelihara ayam dan merpati<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak ada yang salah sama memelihara ayam dan merpati. Tapi kalau nggak punya lahan kok masih sempet-sempetnya melihara itu yang bikin agak kesel. Di saat jarak antar rumah sangat berdempetan dan parkir motor saja di lahan orang lain, ada saja warga yang masih sempat berbagi ruang rumahnya yang sempit dengan ayam. Alhasil tetangganya juga yang kebagian baunya.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/memahami-makna-sakral-kota-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>BACA JUGA: 4 Hal yang Bisa Kita Pakai buat Memaknai Ulang \u201cKesakralan\u201d Kota Jogja<\/strong><\/a><\/p>\n<h2><b>Tanaman cuma bisa hidup satu bulan di kampung Kota Jogja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin kesannya seperti berlebihan tapi kadang begitu realitasnya. Ini bukan karena tanahnya beracun atau gimana, tapi lagi-lagi karena keterbatasan lahan. Bukan nggak bisa hidup tapi lebih ke peluang hidupnya kecil karena dapat berbagai ancaman di lingkungan yang padat ini. Tanaman bisa bertahan hidup satu bulan saja sudah syukur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya, baru kemarin menanam tanaman baru di pot, hari ini kemungkinan sudah rusak. Entah karena keserempet sama motor tetangga atau kena hantam tendang anak-anak kampung yang main bola. Belum lagi dirusak tikus, atau kucing dan ayam tetangga, nggak sampai satu bulan sudah ludes. Kalau kata Bernadya, \u201cbelum ada satu bulan\u2026\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya begitulah hidup di tengah perkampungan padat penduduk di Kota Jogja. Suka dan dukanya harus selalu disyukuri. Kalau mau panjang umur dan tetap waras, segala rupa problemnya harus disikapi dengan lapang dada dan riang gembira. Gimana nggak, lha wong tingkah warganya saja lucu bin unik bin kocak gini kok.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Rizqian Syah Ultsani<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/derita-warga-kota-jogja-kena-gusur-terpaksa-pindah-bantul\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Penderitaan Warga Jeron Beteng Jogja yang Rumahnya Digusur dan Terpaksa Pindah ke Bantul. Ongkos Semakin Mahal dan Fasilitas Kesehatan Terasa Kurang<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya ingin menunjukkan sisi lain Kota Jogja yang tak terlihat, terjebak di antara gemerlap lampu kota dan masifnya pariwisata Jogja.<\/p>\n","protected":false},"author":2509,"featured_media":345030,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[1413,31840,31841,13870],"class_list":["post-384011","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-diy","tag-jogjakarta","tag-kampung-padat-penduduk-di-jogja","tag-kota-jogja"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/384011","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2509"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=384011"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/384011\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":385481,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/384011\/revisions\/385481"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/345030"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=384011"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=384011"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=384011"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}