{"id":384006,"date":"2026-01-08T11:14:49","date_gmt":"2026-01-08T04:14:49","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=384006"},"modified":"2026-01-08T11:14:49","modified_gmt":"2026-01-08T04:14:49","slug":"jurusan-ekonomi-pembangunan-sadarkan-saya-soal-kemiskinan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jurusan-ekonomi-pembangunan-sadarkan-saya-soal-kemiskinan\/","title":{"rendered":"Jurusan Ekonomi Pembangunan Menyadarkan Saya kalau Kemiskinan Itu Bukan Sekadar Orang yang Tidak Punya Uang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dahulu sebelum masuk kuliah jurusan Ekonomi Pembangunan, saya pikir kemiskinan itu sesederhana <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/slow-living-frugal-living-di-desa-memang-omong-kosong\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tidak punya uang<\/a>. Solusinya juga saya pikir simpel saja, memberikan uang. Namun, setelah belajar di jurusan Ekonomi Pembangunan, pandangan naif itu langsung menguap.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dosen saya memulai perkuliahan dengan pertanyaan provokatif, &#8220;Kalau saya kasih kalian 100 juta sekarang, apakah kalian sudah pasti tidak akan miskin lagi?&#8221; Seisi kelas kompak menjawab \u201cIya\u201d.\u00a0 Dosen saya hanya tersenyum sambil menggeleng pelan.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Bukan cuma soal kantong tipis<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ternyata, kemiskinan itu seperti bawang bombay berlapis-lapis dan bikin nangis kalau dikupas satu per satu. Di semester pertama kuliah, dosen saya mengajarkan konsep kemiskinan yang multidimensi. Awalnya saya mikir, &#8220;Ah, ini mah dosen lagi sok intelek aja bikin istilah ribet.&#8221; Tapi, semakin dipelajari, konsep tersebut semakin makes sense.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ternyata, orang bisa disebut miskin bukan cuma karena penghasilannya di bawah garis kemiskinan. Ada orang yang punya uang cukup buat makan tiga kali sehari, tapi nggak punya akses ke pendidikan yang layak. Kasus lain, ada yang rumahnya bagus, tapi nggak punya akses ke air bersih atau sanitasi yang proper. Ada juga yang secara ekonomi menengah, tapi terisolasi secara sosial dan nggak punya bargaining power dalam komunitasnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya jadi ingat tetangga di kampung. Bapaknya kerja keras, penghasilan cukup buat hidup sehari-hari, tapi anaknya nggak bisa sekolah karena nggak ada sekolah menengah di desanya. Sementara, biaya ngekos kalau mau sekolah di kota terlalu mahal. Itu namanya kemiskinan akses. Uangnya ada, tapi pintunya tertutup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya juga jadi teringat cerita teman saya yang ibunya sakit, punya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/kilas\/iuran-bpjs-ketenagakerjaan-pekerja-rentan-semarang-ditanggung-asn\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">BPJS<\/a>, tapi rumah sakitnya jauh banget dan nggak ada transportasi publik. Akhirnya, telat berobat dan penyakitnya semakin parah. Itu namanya kemiskinan infrastruktur. Sistemnya ada, tapi jembatannya nggak ada.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jurusan Ekonomi Pembangunan membuka mata saya soal jebakan kemiskinan yang seperti lubang hitam<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jurusan Ekonomi Pembangunan membuat saya tercerahkan sekaligus sedih. Terlebih ketika mendalami konsep poverty trap atau <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Jebakan_kemiskinan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">jebakan kemiskinan<\/a>. Konsep ini menjelaskan kenapa orang miskin susah banget keluar dari kemiskinan, bahkan ketika mereka kerja keras sekalipun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan saja, keluarga miskin biasanya punya banyak anak. Kenapa? Karena anak dianggap sebagai investasi. Anak bisa bantu kerja dan tumpuan di hari tua. Tapi, karena banyak anak, biaya hidup makin besar, dan uang yang seharusnya buat pendidikan jadi kepotong. Alhasil, anak-anak dari keluarga miskin sulit sekolah tinggi, cuma bisa kerja kasar dengan upah rendah. Siklus kemiskinan pun terulang lagi di generasi berikutnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kasus lain yang sering banget terjadi, petani miskin nggak punya modal buat beli pupuk atau bibit berkualitas. Hasil panennya jadi sedikit. Karena hasil panen sedikit, penghasilannya juga sedikit. Penghasilan yang tidak seberapa itu membuat mereka tidak bisa beli bubuk berkualitas lagi di tahun depan. Begitu terus, berputar-putar seperti lingkaran setan yang nggak ada ujungnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini yang bikin saya sadar kalau kasih uang doang nggak cukup. Kalau sistemnya masih sama, uangnya bakal habis buat konsumsi sehari-hari, dan besok-besoknya mereka balik miskin lagi. Yang perlu diubah adalah strukturnya akses ke pendidikan, akses ke modal, akses ke pasar, akses ke informasi.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jurusan Ekonomi Pembangunan menyadarkan saya kalau s<\/b><b>istem yang ada memang bikin orang-orang susah naik kelas<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, ini bagian yang paling bikin saya kesel sekaligus tercerahkan yakni kemiskinan struktural. Pernahkah terlintas di benak kalian, kenapa anak orang kaya gampang banget sukses, sementara anak orang miskin berjuang mati-matian, tapi tetep aja susah? Bukan cuma soal modal atau koneksi orang tua. Lebih dari itu, sistem kita memang sadar atau nggak sadar dirancang untuk menguntungkan yang sudah punya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/terlahir-sebagai-laki-laki-jawa-dan-islam-adalah-privilese-yang-tak-boleh-kami-dustakan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">privilese<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh mudahnya, sistem kredit perbankan. Bank lebih suka ngasih kredit ke orang yang udah punya aset sebagai jaminan. Sementara, orang miskin kan nggak punya aset. Itu mengapa kebanyakan dari mereka terpaksa pinjam ke rentenir dengan bunga gila-gilaan. Ujung-ujungnya mereka makin terjerat utang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini yang bikin saya frustasi. Bukan berarti orang miskin nggak mau usaha atau malas. Tapi sistemnya aja udah nggak fair dari awal. Seolah-olah kalian sedang bermain game, tapi karaktermu spawn-nya sudah minus HP. Sementara karakter orang lain spawn dengan full equipment legendary.<\/span><\/p>\n<h2><b>Belajar soal<\/b><b> dignitas dan agency dalam kemiskinan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perkuliah di jurusan Ekonomi Pembangunan paling mengena buat saya adalah ketika dosen membahas soal dignitas dan agency dalam kemiskinan. Miskin itu bukan cuma soal nggak punya uang atau akses, tapi juga soal kehilangan harga diri dan kehilangan kemampuan untuk menentukan nasib sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang miskin sering banget dianggap nggak punya aspirasi, nggak punya impian, atau nggak punya kapasitas untuk memutuskan apa yang terbaik buat hidup mereka. Jadinya, kebijakan dibuat dari atas, tanpa tanya mereka butuh apa. Program bantuan dirancang seenaknya, tanpa libat mereka dalam prosesnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, orang miskin itu tahu persis apa yang mereka butuhkan. Mereka nggak butuh dikasihani. Mereka butuh kesempatan, butuh sistem yang adil, butuh didengar dan dihargai sebagai manusia yang punya akal dan kehendak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya jadi inget waktu <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sudah-berkali-kali-mahasiswa-kkn-ke-desa-saya-tapi-tak-ada-efeknya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">KKN<\/a> dulu, ada ibu-ibu di desa yang bilang, &#8220;Kami nggak mau dikasih ikan terus. Kami mau diajarin mancing, dikasih kail, dan dikasih akses ke kolam.&#8221; Simple, tapi powerful banget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya ingin berterima kasih pada jurusan ini karena telah membuka mata saya. Saya jadi lebih humble dan sadar bahwa penyelesaian masalah kemiskinan itu nggak ada jalan pintasnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemiskinan itu kompleks, jadi solusinya juga harus komprehensif. Kasih uang saja nggak cukup, perlu ada perubahan sistem dan struktur. Orang miskin juga bukan objek yang perlu dikasihani, tapi subjek yang perlu diberdayakan. Dan, pembangunan itu bukan cuma soal pertumbuhan ekonomi, tapi juga soal keadilan dan keberlanjutan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kukira-jurusan-ekonomi-pembangunan-cuma-itung-itungan-ternyata-tidak\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kukira Jurusan Ekonomi Pembangunan Cuma Itung-itungan, Ternyata Isinya Analisis Kebijakan Melulu yang Bikin Pusing.<\/span><\/i><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jurusan Ekonomi Pembangunan membuat mahasiswanya tidak naif melihat kemiskinan yang akar persoalannya bersumber dari sistem. <\/p>\n","protected":false},"author":2984,"featured_media":384032,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[31201,31141,4783,790,436,34,542],"class_list":["post-384006","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-ekonomi-pembangunan","tag-jurusan-ekonomi-pembangunan","tag-jurusan-kuliah","tag-kemiskinan","tag-kuliah","tag-mahasiswa","tag-miskin"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/384006","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2984"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=384006"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/384006\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/384032"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=384006"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=384006"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=384006"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}