{"id":383908,"date":"2026-01-07T15:13:59","date_gmt":"2026-01-07T08:13:59","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=383908"},"modified":"2026-01-14T10:08:52","modified_gmt":"2026-01-14T03:08:52","slug":"semarang-neraka-pengusaha-kuliner","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/semarang-neraka-pengusaha-kuliner\/","title":{"rendered":"Jangan Ngaku Pengusaha Hebat kalau Belum Sukses Jualan di Semarang, Kota Ini Super Keras!"},"content":{"rendered":"<p><em>Jangan pernah kepikiran buka usaha di Semarang kalau mentalmu tempe dan tidak siap gagal, karena gagal itu hampir pasti<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tengah sulitnya mencari kerja, pilihan untuk membuka usaha memang tampak menjanjikan. Kan enak ya, bisa jadi bos untuk diri sendiri, mengatur jam kerja sendiri, dan kalau kata motivator, pengusaha itu punya potensi cuan tanpa batas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi ya, realistis saja. Dalam kenyataannya, buka usaha itu tidak sesederhana unggahan reels yang viral semalam lalu besoknya antre pembeli. Ada banyak faktor yang harus dipikirkan ketika mulai membuka usaha. Mulai dari modal, konsep, harga, target pasar, sampai satu hal krusial yang sering disepelekan: lokasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, soal lokasi ini, kalau kamu baru akan memulai usaha, sebaiknya hindari membuka usaha di Semarang.<\/span><\/p>\n<h2><b>Semarang tidak mudah tergoda tren<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi begini. Dalam dunia bisnis, latah itu hal yang biasa. Semua tahu itu. Apalagi kalau usahanya di bidang kuliner. Tiru meniru itu lumrah dan jadi semacam jalan ninja bagi pengusaha anyaran yang nggak mau repot mikirin inovasi. Tinggal tiru aja apa yang lagi rame, niscaya kecipratan berkahnya. Sayangnya, rumus itu tidak berlaku di Semarang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semarang itu anomali. Di kota ini, yang viral belum tentu laku. Yang estetik belum tentu dibeli. Dan yang mahal, besar kemungkinan cuma jadi tontonan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soal yang viral belum tentu ramai di Semarang ini, penyebabnya bukan karena kota ini ketinggalan zaman, ya. Bukan. Tapi, dalam hal makanan orang Semarang memang cenderung selektif. Istilahnya, mereka itu nggak gampang <a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Fear_of_missing_out\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">FOMO.<\/a><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ditambah lagi, orang Semarang ini cenderung praktis. Mereka sukanya yang murah, rasanya cocok, porsinya masuk akal, tempatnya bersih, parkir gampang, dan penjualnya sumeh. Titik. Kalau salah satu saja meleset, siap-siap sepi. Bisa jadi itu sebabnya, banyak franchise yang wangi di kota lain, tapi gugur di Semarang.<\/span><\/p>\n<h2><b>Pengalaman jualan di Semarang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan pengalaman beberapa orang yang pernah menjajal peruntungan di Semarang, buka usaha di kota lumpia ini memang menantang. Terlebih, orang kota ini tuh cukup susah untuk diyakinkan. Dikasih barang mahal, carinya yang murah. Dikasih yang murah, curiga barangnya nggak bagus. Kan angel.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi ya, nggak heran kalau banyak brand yang buka cabang di mana-mana, tapi giliran Semarang malah dilewati. Alasannya sederhana dan sering terdengar: \u201cRa bakal.\u201d Seolah menguatkan keyakinan bahwa masuk ke selera orang Semarang itu pancen uangel.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski demikian, begitu ketemu dengan yang masuk ke selera, orang Semarang ini cenderung loyal. Mereka bakal ke sana lagi, lagi, dan lagi. Bahkan, tempat tersebut akan direkomedasikan ke siapa pun. Ya keluarga, ya saudara, ya teman\u2026 semuanya! Jadi jangan heran kalau ada usaha yang buka sampai turun temurun. Karena, pembelinya juga turun temurun. Curiga, Semarang itu \u2018S\u2019-nya \u2018setia\u2019<\/span><\/p>\n<h2><b>Kawah candradimuka pengusaha<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saking menantangnya buka usaha di Semarang, sampai-sampai kota ini kerap disebut sebagai kawah candradimuka-nya para pengusaha. Mampu bertahan 2\u20133 tahun saja sudah bisa dibilang prestasi. Artinya, usahamu bukan sekadar numpang lewat, tapi benar-benar diterima pasar. Sudah melewati fase coba-coba, sudah lolos dari tahap penasaran doang, dan mulai masuk fase dipilih secara sadar oleh warga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, mental memang jadi penentu utama. Pengusaha anyaran yang gampang keder jelas bakal ngos-ngosan di Semarang. Pengusaha lawas yang sudah sukses di kota lain pun belum tentu bisa menuai kesuksesan yang sama di kota ini. Singkatnya, jangan ngaku pengusaha hebat kalau belum bisa menaklukkan Semarang!<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/semarang-di-mata-orang-jogja-panas-makanannya-nggak-enak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Penderitaan yang Saya Rasakan Saat Pindah dari Jogja ke Semarang: Udah Panas, Makanannya Nggak Seenak di Jogja<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jangan pernah kepikiran buka usaha di Semarang kalau mentalmu tempe dan tidak siap gagal, karena gagal itu hampir pasti.<\/p>\n","protected":false},"author":613,"featured_media":372959,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[31832,31830,4652,31831],"class_list":["post-383908","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jumlah-usaha-kuliner-di-semarang","tag-prospek-buka-usaha-di-semarang","tag-semarang","tag-usaha-kuliner-di-semarang"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/383908","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/613"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=383908"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/383908\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":385474,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/383908\/revisions\/385474"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/372959"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=383908"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=383908"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=383908"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}