{"id":383713,"date":"2026-01-08T14:14:13","date_gmt":"2026-01-08T07:14:13","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=383713"},"modified":"2026-01-08T14:14:13","modified_gmt":"2026-01-08T07:14:13","slug":"pengendara-motor-pengguna-kacamata-adalah-orang-paling-sial-ketika-hujan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengendara-motor-pengguna-kacamata-adalah-orang-paling-sial-ketika-hujan\/","title":{"rendered":"Pengendara Motor yang Juga Pengguna Kacamata Adalah Orang Paling Sial ketika Hujan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hujan selalu datang dengan cara yang tidak adil. Bagi sebagian orang, ia hanya urusan jas hujan dan jalan basah. Tapi bagi pengendara motor yang memakai kacamata, hujan adalah kesialan yang berlapis-lapis. Pandangan mendadak buram, refleks melambat, dan rasa waswas naik dua tingkat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika orang lain masih bisa melaju dengan \u201chanya\u201d mengeluh kedinginan, kami sibuk bernegosiasi dengan nasib: mau tetap jalan dengan penglihatan setengah mati, atau menepi sambil menerima kenyataan bahwa perjalanan hari ini akan jauh lebih lama dari seharusnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hidup sebagai pengguna kacamata saja sebenarnya sudah cukup merepotkan. Kami ini manusia yang selalu butuh alat bantu. Bangun tidur cari kacamata. Mau mandi cari kacamata. Kacamata jatuh, panik. Padahal logikanya lucu: kami mencari benda agar bisa melihat, tapi untuk mencarinya, kami justru tidak bisa melihat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesialan itu masih bisa ditoleransi kalau hidup hanya soal duduk, membaca, dan berjalan pelan-pelan. Masalahnya, hidup jarang sesederhana itu. Ada satu fase hidup yang membuat penderitaan pengguna kacamata naik level: ketika harus mengendarai motor.<\/span><\/p>\n<h2><b>Susahnya jadi pengendara motor berkacamata: ketika hujan turun, pandangan ikut luntur<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buat yang belum paham, izinkan saya jelaskan secara perlahan. Ketika pengendara motor berkacamata kehujanan, air hujan akan menempel di lensa kacamata. Seketika pandangan jadi buram. Dunia berubah jadi lukisan abstrak. Lampu kendaraan lain menyebar seperti video buram.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oke, mungkin solusinya menutup kaca helm. Masalahnya, air hujan juga membasahi kaca helm. Jadilah buram bertumpuk buram. Kacamata basah, helm basah, penglihatan pun ikut menyerah. Mungkin terdengar alay dan berlebihan, tapi inilah realitasnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi pengguna helm full face, mungkin mereka lebih \u201cenak\u201d. Cuma, ketika kaca helm sudah kalah melawan air hujan, ujungnya ya sama saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi pengendara motor bermata \u201cnormal\u201d, biasanya tinggal membuka kaca helm. Angin menerpa wajah, air mengalir, pandangan kembali jernih. Tapi itu berlaku kalau Anda tidak mengalami masalah dengan kondisi mata sehingga harus pakai kacamata.<\/span><\/p>\n<h2><b>Efek daun talas itu hak istimewa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai warga biasa dengan ekonomi yang mendat-mendut, saya hanya mampu membeli kacamata berlensa standar. Tidak ada efek daun talas. Tidak ada teknologi anti-air. Air hujan tidak mengalir indah seperti iklan. Yang ada menempel, membentuk titik-titik kecil yang membuat jarak pandang tinggal kira-kira.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah saya tidak menginginkan lensa tersebut? Tentu saja saya ingin, masalahnya dompet saya tidak demikian. Harganya agak kurang masuk. Setidaknya bagi ekonomi saya. Iya, di satu titik saya juga sadar, \u201cefek daun talas\u201d adalah simbol kelas sosial. Pengguna kacamata, terlebih pengendara motor, yang bisa melihat jelas saat hujan, adalah mereka yang hidupnya sedikit lebih beruntung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara kami, para pengguna kacamata kelas menengah ke bawah, hanya bisa mengelap lensa dengan jaket, kaus, atau tangan basah, lalu berharap keajaiban agar hujan segera mereda.<\/span><\/p>\n<h2><b>Perjalanan yang lambatnya berlipat-lipat\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pernah mengalami pengalaman paling menyebalkan: kehujanan dari perbatasan Lamongan\u2013Mojokerto sampai <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kabupaten_Lamongan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Lamongan<\/a> utara. Kalau kondisi normal, perjalanan itu sekitar dua jam. Santai. Wajar. Bisa sambil maido pemerintah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi karena hujan dan pandangan kabur, saya terpaksa melaju pelan. Sangat pelan. Setiap lampu kendaraan lawan arah terasa seperti flash kamera. Setiap genangan air terasa seperti jebakan Batman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akibatnya, durasi perjalanan itu hampir dua kali lipat. Bukan karena macet. Bukan karena rusak. Tapi karena saya tidak bisa melihat dengan layak. Saya memilih selamat ketimbang sok gagah dengan kecepatan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di titik itu, hujan bukan lagi romantis. Hujan adalah kesialan, setidaknya bagi pengendara motor pengguna kacamata seperti saya. Iya, bagi pengendara motor pengguna kacamata, hujan bukan sekadar cuaca. Ia adalah ujian hidup yang datang tanpa aba-aba. Ah, hidup memang kadang sial sekali memang.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: M. Afiqul Adib<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/beberapa-momen-yang-bikin-saya-sadar-pakai-kacamata-itu-nggak-enak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Beberapa Momen yang Bikin Saya Sadar Pakai Kacamata Itu Nggak Enak<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bagi pengendara motor pengguna kacamata, hujan bukan sekadar cuaca. Ia adalah ujian hidup yang datang tanpa aba-aba.<\/p>\n","protected":false},"author":580,"featured_media":384078,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[12903],"tags":[5083,8059,31851,1020],"class_list":["post-383713","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-otomotif","tag-hujan","tag-kacamata","tag-kacamata-antiair","tag-pengendara-motor"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/383713","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/580"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=383713"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/383713\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/384078"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=383713"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=383713"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=383713"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}