{"id":381875,"date":"2025-12-27T07:29:06","date_gmt":"2025-12-27T00:29:06","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=381875"},"modified":"2025-12-27T07:29:06","modified_gmt":"2025-12-27T00:29:06","slug":"apakah-menjadi-atlet-adalah-investasi-terburuk","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/apakah-menjadi-atlet-adalah-investasi-terburuk\/","title":{"rendered":"Apakah Menjadi Atlet Adalah Investasi Terburuk dalam Hidup Saya?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Malam itu, saya pulang dari latihan yang melelahkan dengan kepala berisi banyak pertanyaan. \u201cUntuk apa saya melakukan semua ini? Apa sih yang saya kejar? Apakah menjadi atlet adalah investasi yang buruk bagi saya?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbagai pertanyaan itu menggetarkan hati saya. Iya juga ya. Apa yang saya cari dari semua usaha ini? Saya kejam kepada tubuh, beriringan dengan otak yang memutar kembali rekaman pengorbanan, kepahitan, dan kegagalan mengejar cita-cita sebagai atlet.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sesampainya di kos, berbagai pertanyaan itu semakin membara membakar kepala saya. Hampir 30 menit saya hanya berdiam diri membiarkan hati dan logika berdebat. Namun, pada akhirnya, saya tidak menemukan jawaban.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tubuh ini sudah terlalu <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hanya-atlet-yang-juara-yang-abadi-dalam-ingatan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">lelah dengan kuliah dan latihan<\/a>. Saya tidak bisa memaksa tubuh untuk mengerti kenapa saya mau investasi ke tubuh ini untuk menjadi atlet. Maka, saya biarkan pikiran berjalan sendiri hingga pelan-pelan melemah. Sampai dinginnya Malang membawa saya ke alam mimpi.<\/span><\/p>\n<h2><b>Apakah menjadi atlet semata untuk validasi?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alarm pukul 04:30 berdering kencang. Setelah bangun, saya berjalan ke kamar mandi dengan kepala yang terasa berat. Saya mengambil air wudu dan menunaikan kewajiban saya sebagai seorang muslim di pagi hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biasanya, setelah subuhan, saya mengerjakan tugas kuliah yang belum selesai. Namun, pagi itu, saya memutuskan untuk membaca buku berjudul \u201cPsychology of Money\u201d karya Morgan Housel.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Entah kenapa saya mengambil dan membaca buku itu. Rasanya sangat random karena tujuan awal saya hanya untuk mengendurkan merilekskan pikiran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah melahap sekitar 15 halaman, mata saya terpaku pada sebuah paragraf yang seolah menampar realita. Paragraf tersebut menyebutkan bahwa banyak anak muda lebih memilih menjadi atlet profesional hanya karena mereka haus akan satu hal, yaitu validasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sontak, saya terasa terbangun dari mimpi panjang. Dunia mendadak kosong dan hening.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasa bersalah mulai merayap. Saya mulai meratap, memikirkan kenyataan bahwa hampir seluruh hidup saya habis terjual hanya untuk investasi mengejar pengakuan dari lingkungan sekitar. Tanpa saya sadari, kondisi ini seperti menghilangkan esensi hidup.<\/span><\/p>\n<h2><b>Investasi buruk?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebingungan itu menjadi parasit yang menggerogoti pikiran saya seharian. Di dalam kelas, saya hanyalah raga tanpa jiwa. Suara dosen yang menjelaskan materi terdengar seperti dengung lalat yang lewat begitu saja. Hingga sampailah saya di mata kuliah terakhir hari itu, yaitu Filsafat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dosen Filsafat yang mengajar kelas saya adalah seorang akademisi dari Fakultas Ilmu Sosial. Saya curiga beliau punya hobi membedah isi kepala mahasiswa olahraga seperti kelas saya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beliau membuka kelas dengan sebuah pertanyaan. Suaranya lirih namun isinya menikam dengan sadis. Seolah beliau tahu perang batin para mahasiswa yang menyimpan cita-cita menjadi atlet.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beliau bertanya, &#8220;Kenapa kalian memilih menjadi atlet? Berlatih bertahun-tahun, menyiksa fisik, hanya demi sekeping medali? Jika pengorbanan dan fokus yang sama kalian alokasikan untuk mengasah skill lain, misal membangun usaha atau belajar instrumen investasi seperti trading. Mungkin saat ini kalian tidak akan berada di titik yang serentan dan sekrusial ini.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaan itu menjadi gambaran rapuhnya masa depan atlet. Kenyataan calon atlet dan calon pelatih memang serapuh itu. Pemerintah gembar-gemborkan &#8220;prestasi harga mati&#8221;. Namun, ada kabar <a href=\"https:\/\/soccer.viva.co.id\/soccer\/9936-kemenpora-siapkan-sanksi-untuk-tim-yang-gagal-di-sea-games-33-evaluasi-menyeluruh-dilakukan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kemenpora<\/a> akan menjatuhkan sanksi bagi atlet yang gagal di SEA Games 2025. Sudah begitu, atlet bertandingan dengan biaya sendiri dan sadar masa depannya tidak dijamin oleh negara.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dosen Filsafat itu seperti memaksa kami melihat ke cermin. Apakah investasi kami sebagai calon atlet di masa depan sudah benar? Atau, apakah kami hanya sedang menimbun koleksi logam yang nilainya tak sebanding dengan masa muda yang kami gadaikan?<\/span><\/p>\n<h2><b>Permainan kekayaan dan permainan status<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dosen Filsafat itu belum selesai. Beliau kemudian mengutip sebuah pemikiran dari Eric Jorgenson dalam buku \u201cThe Almanack of Naval Ravikant\u201d, sebuah &#8220;kitab&#8221; bagi mereka yang mengejar kebebasan hakiki.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Kalian harus paham. Naval Ravikant membagi permainan hidup menjadi dua: permainan kekayaan dan permainan status. Atlet dan politik adalah contoh nyata dari permainan status.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keduanya adalah permainan hierarki yang berbasis pada validasi dan pencitraan. Di sana, kalian hanya akan menang jika bisa menjatuhkan orang lain atau mendapatkan pengakuan dari massa.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beliau menjeda sebentar semabari mengambil nafas dan memberikan waktu bagi kami untuk mencerna pahitnya kenyataan. &#8220;Masalahnya, permainan status itu bersifat zero-sum. Untuk ada yang menang, harus ada yang kalah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbeda dengan membangun kompetensi yang memberikan nilai tambah, permainan status membuat kalian terus-menerus haus akan tepuk tangan yang bisa hilang dalam semalam. Begitu kalian cedera atau kalah, tribun stadion akan segera mencari pahlawan baru untuk dipuja.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalimat itu menjadi paku terakhir di peti mati idealisme saya hari itu. Saya teringat 15 kilometer perjalanan dingin saya menuju kos di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pasuruan-bikin-hidup-jadi-lebih-tenang-ketimbang-malang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Malang<\/a>, tugas yang menumpuk, dan badan yang remuk.<\/span><\/p>\n<h2><b>Apakah menjadi atlet adalah ambisi kosong?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah mungkin usaha menjadi atlet adalah investasi kosong? Hari itu, saya kembali ke kos dengan jawaban, dan kesadaran baru. Bahwa membangun hidup di atas pondasi validasi hanyalah tentang membangun istana pasir yang akan runtuh saat air pasang datang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sambil merenung, saya teringat saya pernah membaca pertanyaan retoris dari Seneca yang dikutip dalam \u201cFilosofi Teras\u201d.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Kenapa kita lebih peduli pada apa yang dipikirkan orang lain tentang diri kita, daripada apa yang kita pikirkan tentang diri kita sendiri?&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sentilan itu membuat saya merasa konyol. Saya menyiksa fisik dan mental setiap hari demi menjadi atlet, namun motivasi terbesarnya bukan untuk pengembangan diri. Bercokol di dalam diri saya narasi &#8220;si atlet berprestasi&#8221; di mata publik. Saya sedang mengizinkan orang lain menjadi juri atas kebahagiaan saya sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sadar. Bisa jadi saya terjebak dalam apa yang disebut kaum Stoa sebagai pengabdian pada hal-hal yang tidak di bawah kendali kita (indifferents). Saya sedang memoles wajah hidup saya agar terlihat hebat, padahal di dalamnya sedang keropos dan kelelahan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mulai hari itu, saya memutuskan untuk berhenti menjadi budak bagi tepuk tangan orang lain. Karena pada akhirnya, opini publik adalah tuan yang paling kejam dan tidak pernah merasa puas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Hafidzallah Umar<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/investasi-leher-ke-atas-investasi-paling-menguntungkan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Investasi Leher ke Atas. Investasi Paling Menguntungkan, Gampang, Cocok buat Pemula<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Apakah mungkin usaha menjadi atlet adalah investasi kosong? Bahkan, bisa jadi ini investasi terburuk untuk masa depan saya.<\/p>\n","protected":false},"author":3177,"featured_media":381885,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[8803,31708,10917,5493,208,31709],"class_list":["post-381875","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-atlet","tag-cara-menjadi-atlet","tag-dosen-filsafat","tag-filsafat","tag-investasi","tag-kuliah-olahraga"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/381875","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3177"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=381875"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/381875\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/381885"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=381875"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=381875"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=381875"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}