{"id":381277,"date":"2025-12-24T10:39:04","date_gmt":"2025-12-24T03:39:04","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=381277"},"modified":"2025-12-24T10:39:04","modified_gmt":"2025-12-24T03:39:04","slug":"lulus-kuliah-bukan-lomba-ut-ajarkan-saya-lulus-tepat-tujuan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lulus-kuliah-bukan-lomba-ut-ajarkan-saya-lulus-tepat-tujuan\/","title":{"rendered":"Kuliah Bukan Perlombaan Lulus Tepat Waktu, Universitas Terbuka (UT) Justru Mengajarkan Saya Lulus Tepat Tujuan"},"content":{"rendered":"<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Di Universitas Terbuka (UT), mahasiswa tidak berlomba lulus tepat waktu, tapi tepat tujuan.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap orang tentu memiliki standar sukses yang berbeda-beda. Ada yang dianggap sukses karena habis lulus SMA langsung diterima di PTN favorit, kuliah tepat 4 tahun, lalu dapat kerja mentereng. Jalurnya lurus, rapi, dan enak dipamerkan. Seolah hidup memang harusnya begitu. Cepat, tepat, dan tanpa jeda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin itu memang mimpi sebagian orang. Dan itu sah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi proses perjalanan kehidupan antara satu orang dengan lainnya memiliki garis waktu yang berbeda. Ada yang harus kerja dulu baru kuliah. Ada yang kuliah dulu baru sadar kalau <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/masuk-kuliah-saatnya-salah-jurusan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">salah jurusan<\/a>. Bahkan ada yang sempat berhenti, mundur, lalu mulai lagi dari nol. Dan ada pula yang baru bisa kuliah ketika urusan hidup seperti keluarga, ekonomi, kesehatan, agak \u201clonggar\u201d. Semua jalur itu sering kali tidak masuk kategori \u201csukses\u201d versi lomba lari.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal saya belajar satu hal dari kurikulum kehidupan: tidak ada kesuksesan tanpa ujian. Bedanya, tidak semua ujian berbentuk skripsi dan IPK.<\/span><\/p>\n<h2><b>Ketika kampus tidak ikut mengatur jalan hidup mahasiswa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai mahasiswa Universitas Terbuka (UT), saya menemukan satu hal yang jarang dibicarakan: ada kampus yang tidak sibuk mengatur hidup mahasiswanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau banyak kampus lain melakukan seleksi ketat di awal, lalu setelah itu mahasiswanya berlomba agar lulus secepat mungkin, UT justru membuka pintu selebar-lebarnya. Tanpa batas usia. Tanpa tanya latar belakang. Dan tanpa pretensi harus jadi siapa setelah lulus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sini, saya bertemu mahasiswa yang baru lulus SMA, tapi juga mereka yang rambutnya sudah memutih. Ada yang kuliah sekadar ingin <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tulungagung-tak-gaji-sarjana-dengan-layak-mending-merantau\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">punya gelar<\/a>. Ada yang ingin menambah keahlian. Bahkan ada yang mengulang S1 karena dulu salah jurusan. Dan ada pula yang kuliah lagi untuk pindah jalur karier dari kerja lapangan ke kerja kantoran di usia kepala empat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sendiri termasuk mahasiswa gap year yang memilih UT sambil mencoba berbagai kemungkinan hidup. Di UT, itu bukan aib. Itu normal.<\/span><\/p>\n<h2><b>Seleksi alam yang lebih jujur daripada tes masuk<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sistem kuliah di UT fleksibel. Waktunya bisa diatur. Tidak ada tatapan sinis kalau kamu tidak \u201ccepat\u201d. Yang ada justru seleksi alami: siapa yang bisa bertahan belajar secara mandiri, dialah yang akan sampai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, ada cerita yang selalu diulang saat orientasi: seorang mahasiswa UT yang mulai kuliah tahun 1995 dan baru lulus 2015, karena tiap semester hanya mengambil satu mata kuliah. Dia ingin jadi sarjana setelah anak-anaknya lulus kuliah. Dan kampus tidak mempersoalkan itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba bayangkan cerita itu diceritakan di kampus yang memuja kata \u201ctepat waktu\u201d.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kesempatan kedua di <\/b><b>UT <\/b><b>tidak disebut sebagai keterlambatan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Universitas Terbuka (UT) memberi ruang bagi mereka yang sering dianggap \u201ctelat\u201d. Ada program rekognisi pembelajaran lampau bagi yang pernah kuliah. Ada pula layanan bagi mahasiswa disabilitas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pernah membaca kisah seorang sopir angkot dengan keterbatasan pendengaran yang akhirnya bisa menyandang gelar sarjana lewat UT, dengan dukungan penuh kampus. Saya juga punya kenalan mahasiswi di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jurusan-ilmu-komunikasi-kuliah-dan-cari-kerjanya-susah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">jurusan Ilmu Komunikasi<\/a> UT Jakarta yang berkuliah dalam kondisi disabilitas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di kampus ini, kesempatan kedua tidak disebut sebagai pengulangan kegagalan. Ia hanya disebut sebagai kesempatan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Semua orang datang ke UT dengan cerita hidup masing-masing<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat OSMB dan PKBJJ, saya melihat betapa beragamnya wajah mahasiswa UT. Dari yang masih canggung dengan dunia kuliah sampai yang sudah kenyang dengan pahit-manis hidup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di ruang yang sama, mereka belajar hal yang sama: merencanakan belajar, membaca efektif, menjawab ujian. Tidak ada yang lebih tinggi karena usianya lebih muda, atau lebih rendah karena jalurnya berbelok.<\/span><\/p>\n<h2><b>Lulus tepat waktu atau tepat tujuan?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di banyak kampus, mahasiswa hidup di bawah bayang-bayang <a href=\"https:\/\/campus.quipper.com\/kampuspedia\/drop-out-do\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">drop out.<\/a> Sementara di UT, kamu justru diberi napas. Mau lulus 3,5 tahun, silakan. Lulus 4 tahun, silakan. Mau lulus 7 tahun, 10 tahun, atau kapan pun kamu siap, juga silakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau di tempat lain mahasiswa seolah sedang lomba lari, siapa cepat dia dapat, di UT ritmenya berbeda. Lebih mirip perjalanan jauh. Pelan tidak apa-apa, asal terus bergerak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin inilah yang sering kita lupakan. Kuliah bukan sekadar soal cepat selesai, tapi soal sampai. Kuliah juga bukan soal siapa yang duluan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kuliah-di-ut-itu-kadang-menyebalkan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">wisuda<\/a>, tapi siapa yang benar-benar memetik makna dari prosesnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tengah hidup yang penuh gedebak gedebuk, UT hadir bukan sebagai kampus yang memanjakan, tapi sebagai kampus yang mempercayai. Bahwa mahasiswa sudah cukup dewasa untuk mengatur hidupnya sendiri dan tidak semua orang lulus tepat waktu\u2014dan itu tidak apa-apa\u2014selama mereka lulus tepat tujuan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin itu bentuk kesuksesan yang selama ini jarang kita rayakan.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Faris Firdaus Alkautsar<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kuliah-di-universitas-terbuka-mengajarkan-bahwa-fleksibel-tidak-berarti-mudah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kuliah di Universitas Terbuka Mengajarkan Saya Fleksibel Tidak Berarti Mudah, tapi Akhirnya Saya Bisa Berdamai.<\/a><\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini\u00a0<\/i><\/a><i>ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kuliah bukan sekadar lomba cepat-cepatan lulus. Harus tepat tujuan juga. Kampus UT justru mengajarkan pentingnya proses.<\/p>\n","protected":false},"author":2643,"featured_media":381337,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[20747,19808,20889,22162,30447,6120,6119],"class_list":["post-381277","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-alumni-universitas-terbuka","tag-kuliah-di-universitas-terbuka","tag-kuliah-universitas-terbuka","tag-mahasiswa-universitas-terbuka","tag-pengalaman-kuliah-di-universitas-terbuka","tag-universitas-terbuka","tag-ut"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/381277","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2643"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=381277"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/381277\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/381337"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=381277"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=381277"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=381277"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}