{"id":380862,"date":"2025-12-26T12:21:14","date_gmt":"2025-12-26T05:21:14","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=380862"},"modified":"2025-12-23T12:47:49","modified_gmt":"2025-12-23T05:47:49","slug":"perpustakaan-di-indonesia-memang-nggak-bisa-buka-24-jam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/perpustakaan-di-indonesia-memang-nggak-bisa-buka-24-jam\/","title":{"rendered":"Perpustakaan di Indonesia Memang Nggak Bisa Buka Sampai Malam, apalagi Sampai 24 Jam"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada beberapa hal yang perlu kamu ketahui kenapa perpustakaan di negeri ini belum sanggup hidup 24 jam seperti minimarket atau warung kopi. Mungkin dianggap hal-hal kecil, sepele, tapi cukup serius untuk disimak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai pustakawan, saya sebetulnya juga ingin perpustakaan buka 24 jam. Serius. Siapa sih yang tidak ingin melihat perpustakaan hidup sepanjang hari, jadi tempat aman bagi mahasiswa yang kejar deadline, pekerja yang butuh Wi-Fi gratis, atau warga yang ingin membaca tanpa harus beli kopi tiga puluh ribuan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, hal-hal yang ideal kadang tidak realistis. Alih-alih buka 24 jam, ada banyak hal yang lebih krusial dalam pengelolaan perpustakaan di Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya yang sudah beberapa tahun melakoni profesi sebagai penjaga perpustakaan rasanya campur aduk. Iya, kata \u201cpenjaga\u201d itu memang masih sering melekat dengan pustakawan. Tidak bisa didebat. Di satu sisi, kami membawa beban moral sebagai penyedia literasi, penjembatan informasi, bahkan sering disebut sebagai salah satu kontributor pencerdas kehidupan bangsa. Atau lebih puitisnya, penjaga jendela dunia, ceunah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sisi lain, kami masih harus menjawab pertanyaan klasik yang datang berulang-ulang seperti kaset rusak. Seperti, \u201cKenapa sih perpustakaannya selalu tutup cepat?\u201d, atau \u201cKenapa nggak buka 24 jam aja sih?\u201d Jawaban singkatnya: mau. Jawaban panjangnya, sini saya jelaskan dulu perkaranya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Membuka perpustakaan 24 jam artinya pembengkakan anggaran<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keterbatasan dana adalah penyebab utama, dan ini bukan rahasia negara. Perpustakaan di Indonesia sejak lama hidup dalam mode bertahan, bukan berkembang. Anggaran untuk pemeliharaan gedung, pengadaan koleksi, listrik, keamanan, hingga sistem teknologi informasi saja sering dianggap \u201csudah terlalu besar\u201d. Padahal, kalau dihitung dengan jujur, justru sering tidak cukup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika membuka perpustakaan 24 jam, artinya membuat anggaran akan membengkak. Mulai biaya listrik, keamanan, kebersihan, dan tentu saja biaya kerja. AC harus terus on, selain keamanan pengunjung dan pegawai. Sehingga perlu biaya kebersihan ekstra, karena perpustakaan butuh pendanaan. Nah di sinilah masalahnya: institusi sering ingin memberikan layanan ekstra, tapi tidak ingin membayar ekstra.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangankan membayar staf dengan sistem shift, membayar pustakawan sesuai tupoksinya saja masih jadi kemewahan. Gaji rendah di dunia perpustakaan bukan isu baru. Ia sudah jadi rahasia umum, bahkan mungkin sudah jadi folklore profesi. Belum lagi tambahan pekerja non-pustakawan, seperti tukang bersih-bersihnya. Sudah berapa biaya yang akan membengkak coba. Apalagi jika dipaksakan menjadi 24 jam.<\/span><\/p>\n<h2><b>Pengunjung malam hari hanya ideal di kepala, sepi di dunia nyata<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara pribadi, saya juga akan lebih memilih menghabiskan malam di perpustakaan daripada di kafe. Duduk tenang, Wi-Fi stabil, tidak perlu beli minuman hanya demi numpang colokan. Kedengarannya ideal. Namun nyatanya pustakawan hanya berkawan sepi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengalaman magang saya di salah satu perpustakaan kampus ternama di Malang membuktikan satu hal, minat kunjungan malam hari itu tidak setinggi yang dibayangkan. Perpustakaan tersebut buka sampai pukul 20.00 bahkan 22.00 WIB. Tapi pengunjungnya bisa dihitung jari. Akhirnya pustakawannya pun ikut gigit jari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara profesional, perpustakaan memang berkewajiban menyediakan layanan maksimal meski pengunjung sedikit. Tapi dalam logika birokrasi, angka tetap berbicara. Kalau data menunjukkan bahwa layanan malam tidak terlalu diminati, atasan pasti akan bertanya, \u201cUrgensinya di mana? Banyak-banyakin pengeluaran saja\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yah, kurang lebihnya seperti itu. Tau kan, kalau birokrasi tidak mau bekerja sama dengan literasi. Ia hanya mau bekerja dengan laporan, data, dan efisiensi anggaran.<\/span><\/p>\n<h2><b>Perpustakaan itu ruang sosial, bukan sekadar jam operasional \u00a0 <\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada satu hal yang jarang dibicarakan, perpustakaan 24 jam tidak akan hidup jika budaya belajarnya tidak hidup. Di Jepang, perpustakaan Nakajima, atau <a href=\"https:\/\/www.ucl.ac.uk\/library\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">UCL di London<\/a>, perpustakaan 24 jam bukan sekadar bangunan yang menyala lampunya. Ia hidup karena masyarakatnya terbiasa menggunakan ruang publik secara disiplin, tenang, dan bertanggung jawab.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Indonesia, membuka perpustakaan malam hari sering justru menambah pekerjaan non-literasi. Nanti ujung-ujungnya mengatur keributan, menegur pengunjung yang tidur, bahkan memastikan perpustakaan tidak berubah fungsi menjadi ruang \u201cmojok\u201d yang tidak-tidak. Ini bukan menyalahkan pengunjung, tapi menunjukkan bahwa perpustakaan bekerja dalam konteks sosial yang nyata, di Indonesia adalah PR plus lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, kenapa pustakawan cenderung diam ketika dihujat soal jam buka, bukan karena kami tidak peduli. Tapi karena kami tahu, kalau membuka mulut tanpa kuasa hanya akan menambah daftar keluhan tanpa solusi. Meskipun kami juga bermimpi bisa membuka perpustakaan buka 24 jam, tapi kami juga ingin work-life balance sebagai pustakawan sejahtera. Tidak kelelahan, tidak ditekan ugal-ugalan, tidak miskin, dan tidak terus dianggap \u201ccuma penjaga gedung\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin yang perlu ditanya bukan hanya kenapa perpustakaan tidak buka 24 jam, melainkan seberapa serius kita sebagai negara dan masyarakat jika ingin menjadikan literasi sebagai kebutuhan utama. Bukan hanya slogan saja. Kalau jawabannya masih setengah-setengah, ya jangan heran kalau perpustakaan pun hidupnya setengah hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang jelas sih, jangan keburu marah, jangan langsung menuduh pustakawan malas, jangan buru-buru menyimpulkan juga bahwa perpustakaan Indonesia tutup cepat karena tidak peduli pada kebutuhan publik. Tapi, realitas yang ada berbicara lebih banyak ketimbang yang ada di dalam kepala.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Ferika Sandra<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/derita-jadi-pustakawan-dianggap-bergaji-besar-dan-kerjanya-menata-buku-aja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Derita Jadi Pustakawan: Dianggap Bergaji Besar dan Kerjanya Menata Buku Aja<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jangan buru-buru menyimpulkan bahwa perpustakaan Indonesia tutup cepat karena tidak peduli pada kebutuhan publik. Nyatanya tidak seperti itu.<\/p>\n","protected":false},"author":1810,"featured_media":298726,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[12910],"tags":[31682,6402,31681],"class_list":["post-380862","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-jam-operasional-perpustakaan","tag-perpustakaan","tag-perpustakaan-indonesia"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/380862","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1810"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=380862"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/380862\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/298726"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=380862"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=380862"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=380862"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}