{"id":380053,"date":"2025-12-17T10:47:21","date_gmt":"2025-12-17T03:47:21","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=380053"},"modified":"2025-12-17T10:47:21","modified_gmt":"2025-12-17T03:47:21","slug":"4-aturan-tak-tertulis-agar-liburan-di-lumajang-menjadi-bahagia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-aturan-tak-tertulis-agar-liburan-di-lumajang-menjadi-bahagia\/","title":{"rendered":"4 Aturan Tak Tertulis agar Liburan di Lumajang Menjadi Bahagia"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya cukup kaget membaca berita tentang jumlah wisatawan yang berlibur ke Lumajang di Januari\u2013Juni 2025 sebanyak<\/span><a href=\"https:\/\/www.lumajangkab.go.id\/berita-opd\/detail\/5966\"> <span style=\"font-weight: 400;\">883.226 orang<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Kekagetan saya muncul karena selama pulang kampung ke Lumajang, jarang melihat bus pariwisata mondar-mandir di jalan raya. Begitu juga waktu saya pulang kampung pas musim liburan sekolah, bus pariwisata jarang saya lihat mondar-mandir di jalan raya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu berbeda dengan Jogja dan Malang, pas saya liburan ke sana, jalan raya pasti penuh sama bus pariwisata. Makanya pas baca angka wisatawan ke Lumajang terbilang besar, saya kaget. Asumsi saya, 800 ribuan orang yang berlibur ke Lumajang bukan dalam skala darmawisata besar, tapi skala solo traveling atau liburan keluarga\/teman.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, secara keindahan, Lumajang memang layak dijadikan destinasi liburan karena punya banyak keindahan alam. Buat kalian yang mau menikmati liburan sekolah atau Nataru, Lumajang bisa menjadi alternatif buat tujuan wisata, selain Jogja, Bandung, dan Malang. Bukan mau melarang, tapi tiga nama itu pasti bakal diserbu banyak wisata. Akhirnya, yang harusnya liburan menyenangkan, malah jadi menyedihkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cuman, kalau kalian mau liburan ke Lumajang harus paham 4 aturan tak tertulis agar liburan kalian juga berakhir menyenangkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Wajib bawa kendaraan pribadi di Lumajang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berlibur ke Lumajang, tapi tidak membawa kendaraan pribadi adalah tindakan yang ceroboh. Soalnya, mencari kendaraan umum di kota ini, sama seperti mencari mantan yang sudah lama pergi. Di Lumajang, kendaraan umum yang paling banyak adalah becak dan taksi L300. Itu pun buat mendapatkannya tidak mudah karena tidak semua lokasi ada becak dan taksi L300.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apalagi, menggunakan dua kendaraan itu buat jalan-jalan di Lumajang sangat tidak memungkinkan. Yang harus kalian pahami, tempat wisata di Lumajang ada di ujung. Jauh banget dari kota, jarak tempuhnya bisa 30 menit sampai 1 jam.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Naik ojek online bukan pilihan yang tepat juga. Soalnya, ojek online di Lumajang, mirip di Sumenep: tidak masif dan tidak semua lokasi bisa dijangkau.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, cara paling aman buat liburan ke Lumajang adalah menggunakan kendaraan pribadi, utamanya naik mobil biar bokong tidak bonyok di jalan. Kalau tidak punya mobil, lebih baik sewa mobil. Kalau mau lebih murah lagi, bisa sewa kendaraan di Lumajang.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Manajemen waktu yang baik agar tidak pulang malam dari tempat wisata Lumajang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bisa dibilang musuh berat bagi wisatawan Lumajang adalah waktu malam hari. Malam hari di Lumajang berbeda jauh sama Jogja, Malang, dan Bandung. Ketiga kota itu pada malam hari masih rame. Sedangkan di sini sebelas dua belas sama Madura, alias sepi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apalagi keamanan pas malam hari di Lumajang terbilang jauh dari kata nyaman. Kondisi jalan sepi dan penerangan jalan yang minim, menjadi ladang empuk kriminalitas terjadi. Kasus begal masih masif terjadi di sana. Biasanya, kata keluarga dan teman saya, begal di Lumajang beraksi pada malam hari.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Agar liburan menjadi aman, lebih baik mengatur waktu sebaik mungkin. Mengatur waktu tentang pukul berapa harus berangkat ke tempat wisata dan estimasi di satu tempat wisata berapa lama.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Beli pisang agung harus punya skill menawar<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lumajang punya julukan Kota Pisang. Bukan karena masyarakatnya suka makan pisang, tapi karena punya jenis pisang super, namanya pisang agung. Pisang agung punya ukuran yang besar dan rasanya legit. Tidak berlebihan buat menjadikan pisang agung menjadi oleh-oleh wajib sebagai hadiah tangan keluarga atau teman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, beberapa pedagang pisang agung terbilang agak licik. Dia tahu, mana orang yang asli Lumajang dan mana yang wisatawan. Cara sederhananya, pedagang memberi harga di atas 150 ribu untuk satu tandan. Kalau yang beli mengajukan penawaran, pedagang bakal menilai, dia orang Lumajang. Kalau tidak menawar, artinya orang luar.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena itu, biar kamu tidak kecolongan sehingga dompet jebol, jangan pernah sungkan menawar dengan harga yang rendah. Umumnya, harga pisang agung berkisar 50 ribu sampai 150 ribu per tandan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tawar harga dengan perasaan tega, biar pedagang yakin kamu emang beneran asli Lumajang. Soalnya, saya pernah nganter teman yang berlibur, lalu dia menawar harga dengan setengah hati. Alhasil, pedagang tidak mau menurunkan harga karena tahu dia bukan orang asli sini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kamu bisa bahasa Jawa, bakal punya nilai plus. Logat Jawamu semakin meyakinkan kalau kamu orang Lumajang.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Pesan penginapan di tengah kota\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Agar liburan kamu makin nyaman, usahakan menginap di tengah kota. Meski agak jauh dari tempat wisata, menginap di tengah kota dekat dengan berbagai fasilitas. Misalnya, kamu butuh belanja sesuatu, maka dekat dengan banyak pertokoan. Kalau misal, tiba-tiba jatuh sakit, bakal dekat dengan fasilitas kesehatan. Kalau nyari kuliner, juga dekat dengan berbagai tempat makan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beda jauh kalau kalian menginap di pinggiran kota. Di sana, bakalan jauh dari pertokoan, fasilitas kesehatan, dan tempat makan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cuman masalahnya, penginapan Lumajang di tengah kota yang worth it, terbilang sedikit jumlahnya. Dari observasi saya, hanya ada tiga. Sisanya, hotel-hotel kecil yang sudah lama berdirinya. Jadi, biar bisa kebagian penginapan di tengah kota, lebih baik booking jauh-jauh hari.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah sekelumit aturan tidak tertulis yang harus dipahami sebelum gas liburan ke Lumajang. Karena seindah-indahnya sebuah kota, akan jadi lebih indah kalau memahami berbagai kerumitan yang ada di sana dahulu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Akbar Mawlana<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kabupaten-lumajang-belum-pantas-jadi-kota-tujuan-wisata-banyak-begal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Meski Dianugerahi dengan Keindahan Alam yang Tiada Banding, Kabupaten Lumajang Belum Pantas Jadi Kota Tujuan Wisata, Banyak Begal!<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kalau kalian mau liburan ke Lumajang harus paham 4 aturan tak tertulis agar liburan kalian juga berakhir menyenangkan.\u00a0<\/p>\n","protected":false},"author":891,"featured_media":333403,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[13873,31606,31607,31605],"class_list":["post-380053","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-lumajang","tag-objek-wisata-di-lumajang","tag-tips-berwisata-di-lumajang","tag-wisata-di-lumajang"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/380053","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/891"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=380053"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/380053\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/333403"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=380053"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=380053"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=380053"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}