{"id":37954,"date":"2020-04-21T10:20:34","date_gmt":"2020-04-21T03:20:34","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=37954"},"modified":"2020-04-21T09:52:19","modified_gmt":"2020-04-21T02:52:19","slug":"tak-melulu-santet-banyuwangi-juga-gudang-musisi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tak-melulu-santet-banyuwangi-juga-gudang-musisi\/","title":{"rendered":"Tak Melulu Santet, Banyuwangi Juga Gudang Musisi"},"content":{"rendered":"<p><em>&#8220;Sing ono hang biso ngalangi niat iki<\/em><br \/>\n<em>Masio tah samudro sun arungi<\/em><br \/>\n<em>Sing ono hang biso mbatesi welas iki<\/em><br \/>\n<em>Masio ilang nyowo sun belani<\/em><br \/>\n<em>Paran baen sun lakoni kanggo riko\u201d<\/em><\/p>\n<p>Salah satu komposisi lagu karya Demy Hardi sineas Banyuwangi yang mungkin bakal asing di telinga para penikmat senja kopi. Namun tunggu dulu, ini tentu tidak berlaku bagi pasukan cendol dawet garis lentur. Bahkan saking tenarnya lagu-lagu Banyuwangi di kancah percendol dawetan dalam dan luar negeri, membuat nama penyanyinya kian tersohor. Saking moncernya, baru tiga tahun tinggal di Banyuwangi beberapa kawan yang ada di Semarang mulai kepo dengan segudang pertanyaan seputar lagu dan penyanyi Banyuwangi, terutama yang cewe kinyiss kinyis. <em>Plak.<\/em><\/p>\n<p>Ya, tetep saya jawab sekenanya aja, <em>lha wong<\/em> saya malah nggak memahami pergadisan penyanyi Blambangan masa kini. Padahal, sama-sama satu kabupaten tetep saja saya kenal lagunya ya dari YouTube juga. Paling mentok, tahu lirik karena sering denger tetangga setel lagunya.<\/p>\n<p>Orang asli Banyuwangi biasa menyebutnya dengan lagu kendang kempul. Ya, kayak penyebutan campursari kalau di Jawa. Bedanya, bahasa yang digunakan kendang kempul itu bahasa Osing, bahasa asli Suku Osing Banyuwangi.<\/p>\n<p>Kalau dibandingin Semarang, sineas Banyuwangi itu memang lebih tokcer dan tahan banting, Bro. Mulai era Fitri Karlina sampai sekarang ada Syahiba Saufa, semua dimulai dari akar rumput. Pernah <em>ngarit suket paling biyen.<\/em> Eh.<\/p>\n<p>Tambah beruntungnya, industri musik di Banyuwangi memang sudah terbentuk ekosistemnya. Dimulai dari nol pokoknya. Sebut saja label-label rekaman lokal yang bejibun. Sampai ajang-ajang pencarian bakat lokal yang hadiahnya adalah dibuatkan album sendiri. Biuuuh, dahsyat bikin ngiler, kan? Tapi, <em>iku yen<\/em> menang.<\/p>\n<p>Tidak hanya itu saja, membahas soal musisi Banyuwangi tentu tak lengkap rasanya kalau nggak membahas sejarahnya. Kalau sekarang ini lagu-lagu Osing Banyuwangi cenderung didominasi sama aliran cendol dawet, tentu tidak pada masa lampau. Nah, saya cerita sedikit ini, ya. Soal sejarahnya, lagu Osing dari musisi Banyuwangi sempat mengalami masa keemasannya saat pra kemerdekaan. Coba perhatikan lirik lagu berikut,<\/p>\n<p><em>\u201dGenjer-genjer nong kedokan pating keleler<\/em><br \/>\n<em>Genjer-genjer nong kedokan pating keleler<\/em><br \/>\n<em>Emake thulik teka-teka mbubuti genjer<\/em><br \/>\n<em>Emake thulik teka-teka mbubuti genjer<\/em><br \/>\n<em>Ulih sak tenong mungkur sedhot sing tulih-tulih<\/em><br \/>\n<em>Genjer-genjer saiki wis digawa mulih\u201d<\/em><\/p>\n<p>Gimana-gimana? Sudah mulai ingat sesuatu sama lagu itu? Tapi tunggu dulu, jangan langsung berpikiran negatif. Sebenarnya, lagu itu bagus. Kalau kalian tahu isinya, ya memang pada masa itu apa yang dirasakan warga Banyuwangi terpatri dalam lagu tersebut.<\/p>\n<p>Penciptanya adalah seniman berbakat Banyuwangi, Muhammad Arief, pada tahun 1943 untuk menyindir kondisi di masa penjajahan Jepang. Lagu ini tambah kesohor ketika dinyanyikan ulang oleh Bing Slamet dan juga Lilis Suryani pada tahun 1962. Pada masa pemerintahan Soekarno, banyak musisi yang meyanyikannya di istana. Kepopuleran lagu inilah yang lantas dimanfaatkan oleh Partai Komunis Indonesia untuk menggunakannya dalam setiap kampanyenya waktu itu.<\/p>\n<p>Nuran Wibisono dalam tulisannya berjudul, <em><a href=\"https:\/\/tirto.id\/genjer-genjer-yang-terus-ditakuti-cwSF\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">&#8220;Genjer-Genjer&#8221; yang Terus Ditakuti<\/a>,<\/em> menyajikan data yang memilukan hati, berulam jantung. Bagaimana tidak? Propaganda terhadap lagu <em>Genjer-Genjer<\/em> semakin ketara karena film <em>Pengkhianatan G30SPKI<\/em> pada masa Orde Baru. Lagu itu kemudian menjadi sinonim PKI dan karenanya dibenci sekaligus ditakuti.<\/p>\n<p>Memang terbukti bukan? Hingga kini, kegiatan yang berhubungan dengan lagu <em>Genjer-Genjer<\/em> dianggap makar. Namun, itu belum seberapa. Saya yang tinggal di Banyuwangi tiga tahun sudah kenyang tiap hari makan jangan PKI (sayur genjer). Lha gimana nggak kenyang? Nggak cuma lagunya yang dicap kiri, sampai makanan jangan genjer juga kena imbasnya. Tiap Bu Lek saya masak jangan genjer, Pak Lek selalu nyeletuk, \u201cJangan PKI meneh~&#8221; (Sayur PKI lagi~).<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/santet-banyuwangi-ternyata-kalah-sama-pesona-bupati\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Santet Banyuwangi Ternyata Kalah sama Pesona Bupati<\/a><\/strong> <strong>dan tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/fareh-hariyanto\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Fareh Hariyanto<\/a> lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang a<\/em><em>pa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Orang asli Banyuwangi biasa menyebutnya dengan lagu kendang kempul, seperti campursari kalau di Jawa. Sementara bahasa yang digunakan adalah bahasa Osing.<\/p>\n","protected":false},"author":664,"featured_media":38006,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[6216,6255,2697,6240],"class_list":["post-37954","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-banyuwangi","tag-genjer-genjer","tag-musisi","tag-santet"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/37954","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/664"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=37954"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/37954\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/38006"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=37954"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=37954"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=37954"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}