{"id":378478,"date":"2025-12-14T10:25:33","date_gmt":"2025-12-14T03:25:33","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=378478"},"modified":"2025-12-14T10:25:33","modified_gmt":"2025-12-14T03:25:33","slug":"drama-puskesmas-bikin-pasien-curiga-dan-trauma","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/drama-puskesmas-bikin-pasien-curiga-dan-trauma\/","title":{"rendered":"Pengalaman Saya Melihat Langsung Pasien yang Malah Curiga dan Trauma ketika Berobat ke Puskesmas"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sakit itu tidak enak. Lebih tidak enak lagi kalau sakit saat tanggal tua dan dompet sedang tipis-tipisnya. Maka, ketika badan mulai meriang dan kepala terasa seperti dipukuli warga sekampung, tujuanku cuma satu: Puskesmas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa Puskesmas? Tentu saja karena saya punya kartu sakti berwarna hijau bernama <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-hal-terkait-klaim-bpjs-kesehatan-yang-perlu-diketahui-orang-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">BPJS Kesehatan<\/a>. Gratis, Bos. Sebuah privilese yang harus saya manfaatkan demi kesehatan fiskal pribadi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, pagi itu, dengan sisa tenaga yang ada, saya menyeret kaki ke Puskesmas terdekat. Saya mengambil nomor antrean dan memulai mengamati.<\/span><\/p>\n<h2><b>Misteri tensi digital Puskesmas yang selalu dicurigai<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum bertemu dokter, ada ritual wajib di meja screening. Mulai dari timbang badan, ukur tinggi (yang sepertinya makin hari makin menyusut karena beban hidup), dan <a href=\"https:\/\/www.halodoc.com\/kesehatan\/pemeriksaan-tekanan-darah?srsltid=AfmBOopYIVKC1L_GLR_hIjCFyxevKOlhxIDW_JRAIjnzqrpvD84ND_-R\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">cek tekanan darah<\/a>. Nah, di bagian cek tensi ini selalu ada hal menarik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Puskesmas zaman sekarang sudah modern. Misalnya, sudah memakai tensimeter digital alias otomatis. Tinggal masukkan lengan, pencet tombol, dan ngwing-ngwing-ngwing, angka keluar. Tapi, entah kenapa, alat ini punya reputasi aneh di kalangan pasien.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Alat ginian kadang nggak akurat, Mas. Kata teman saya yang istrinya perawat, mending yang dipompa manual. Kalau digital gini gerak dikit angkanya langsung ngawur,&#8221; celetuk bapak-bapak di sebelah saya dengan nada penuh konspirasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya manggut-manggut saja. Memang sih, tensimeter ini sensitif banget. Kita batuk sedikit, hasilnya bisa setara orang yang baru dikejar debt collector.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, ya mau bagaimana lagi? Kalau petugas Puskesmas harus memompa manual buat ratusan pasien BPJS tiap hari, bisa-bisa tangan mereka berotot sebelah. Saya harus terima tensimeter ini demi kecepatan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Ujian kesabaran di meja admin<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah lolos dari &#8220;jepitan&#8221; tensimeter, seorang petugas memanggil saya untuk masuk ke ruang pemeriksaan awal. Di sinilah puncak komedi tragis hari itu terjadi, yaitu saat sesi tanya jawab yang sekaligus menjadi sesi input data.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya duduk berhadapan dengan petugas. Pertanyaannya standar: &#8220;Sakit apa, Mas?&#8221; dan &#8220;Sudah sejak kapan?&#8221;.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya menjawab dengan cepat dan lugas. Masalahnya, kecepatan bicara saya tidak sebanding dengan kecepatan jari si petugas Puskesmas dalam mengetik data di komputer.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya menyaksikan atraksi mengetik \u201csebelas jari\u201d alias hanya dua jari telunjuk yang bertugas mematuk keyboard. Telunjuk kiri dan telunjuk kanan beradu di atas tombol dengan gerakan mematuk yang lambatnya minta ampun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak&#8230; (jeda 2 detik)&#8230; Tak&#8230; (jeda lagi).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Parahnya, suara tombol backspace terdengar lebih sering daripada tombol huruf. Typo melulu! Mengetik kata &#8220;demam dan pusing kepala&#8221; saja butuh waktu yang cukup untuk saya merenungi dosa-dosa masa lalu. Rasanya gemas, ingin dan bilang, &#8220;Minggir, Pak, biar saya saja yang ngetik!&#8221;<\/span><\/p>\n<h2><b>Sistem di Puskesmas sudah canggih, tapi operatornya bikin sedih<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selesai sesi wawancara yang diiringi musik staccato keyboard itu, petugas Puskesmas bilang: &#8220;Silakan langsung tunggu di depan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jadi-mahasiswa-jurusan-farmasi-sulit-dikira-tahu-semua-obat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">apotek<\/a> ya, Mas.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Si petugas tidak memberi saya kertas resep. Canggih, Bos. Katanya, data saya sudah terintegrasi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitu petugas menekan Enter (setelah bertarung melawan typo), data resep obat saya langsung meluncur via jaringan lokal ke komputer bagian farmasi. Sistemnya sudah SIMPUS (paperless), modern, dan sat-set.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya sudah. Saya berjalan gontai menuju ruang tunggu pengambilan obat. Di sini saya kembali menunggu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat itulah saya sadar ironi yang sesungguhnya. Sistem pengiriman datanya ke farmasi memang secepat kilat. Tapi, alur yang seharusnya sat-set itu menjadi melambat di bagian hulu, atau di tangan petugas Puskesmas yang kesulitan mencari di mana letak huruf D atau E padahal deketan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Darurat kemampuan mengetik 10 jari<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini membawa saya pada sebuah perenungan serius. Di era digital ini, kenapa kemampuan mengetik 10 jari buta (touch typing) belum menjadi standar wajib kompetensi pegawai?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika satu pasien memakan waktu input data 3 menit hanya karena petugasnya gagap keyboard, dan ada 50 pasien sehari, itu sudah buang-buang waktu berjam-jam secara kumulatif. Kalau mereka bisa mengetik 10 jari, waktu input bisa dipangkas jadi 30 detik. Antrean lebih cepat, pasien tidak makin darah tinggi menunggu, dan obat bisa lebih cepat sampai ke tangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ayolah, ini bukan soal skill premium. Ini skill dasar yang wajib dimiliki semua pekerja di depan komputer, baik di instansi pemerintah, kantoran, sampai Puskesmas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan, petugas apotek akhirnya memanggil nama saya. Mendengar itu, saya beranjak, mendekat, menerima plastik obat, dan pulang membawa <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/paracetamol-obat-yang-aman-tapi-juga-bahaya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Paracetamol<\/a>.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di kepala saya, suara tek&#8230; tek&#8230; backspace&#8230; tek&#8230; dari meja admin masih terngiang-ngiang semacam bikin trauma saja. Semoga cepat sembuh, bukan cuma buat badan saya ini, tapi juga buat skill mengetik para pelayan publik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Hamdan Basofi<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-hal-menyebalkan-saat-periksa-di-puskesmas\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">4 Hal Menyebalkan saat Periksa di Puskesmas<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><i><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Puskesmas ternyata isinya nggak cuma orang berobat. Di sana, ada juga drama yang bikin pasien curiga dan malah trauma.<\/p>\n","protected":false},"author":3162,"featured_media":379371,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[5319,3060,3055,19223,31578,17496],"class_list":["post-378478","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-apotek","tag-bpjs","tag-bpjs-kesehatan","tag-paracetamol","tag-petugas-puskesmas","tag-puskesmas"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/378478","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3162"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=378478"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/378478\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/379371"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=378478"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=378478"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=378478"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}