{"id":378135,"date":"2025-12-08T11:00:53","date_gmt":"2025-12-08T04:00:53","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=378135"},"modified":"2025-12-08T11:00:53","modified_gmt":"2025-12-08T04:00:53","slug":"pindang-tetel-makanan-khas-pekalongan-yang-nggak-masuk-akal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pindang-tetel-makanan-khas-pekalongan-yang-nggak-masuk-akal\/","title":{"rendered":"Pindang Tetel: Makanan Khas Pekalongan yang Nggak Masuk Akal tapi Wajib Dijajal"},"content":{"rendered":"<p style=\"font-weight: 400;\"><span data-originalfontsize=\"12pt\" data-originalcomputedfontsize=\"16\">Pernah mendengar soal pindang tetel? Seperti apa bentuk hidangannya, dan rasa apa yang terbayang di pikiranmu? Kalau penasaran, kamu harus baca artikel ini sampai selesai. Tujuannya satu: supaya kamu tidak salah mengartikan kelezatan makanan khas Pekalongan satu ini di balik namanya yang terdengar sedikit menggelikan.<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span data-originalfontsize=\"12pt\" data-originalcomputedfontsize=\"16\">Tulisan ini berangkat dari cerita salah satu teman saya yang keheranan melihat makanan yang sama sekali tidak selaras dengan namanya. Orang yang baru pertama kali mendengarnya biasanya akan mengira kalau pindang tetel adalah olahan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/belajar-dari-kecerdasan-bondowoso\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ikan pindang<\/a> yang diberi berbagai bumbu penyedap. <\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span data-originalfontsize=\"12pt\" data-originalcomputedfontsize=\"16\">Jika diartikan secara harfiah dalam bahasa Jawa Pekalongan, pindang adalah olahan ikan yang direbus dan digarami, sementara tetel adalah tetelan. Jadi, pemaknaan lengkapnya mungkin dipahami sebagai &#8220;tetelan dari olahan ikan pindang&#8221;. Padahal yang mengejutkan, sajian khas warga Pekalongan ini justru tidak ada kaitannya sama sekali dengan pindang maupun tetelan sebagaimana definisi di atas.<\/span><\/p>\n<h2 style=\"font-weight: 400;\"><strong><span data-originalfontsize=\"12pt\" data-originalcomputedfontsize=\"16\">Apa itu pindang tetel?<\/span><\/strong><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span data-originalfontsize=\"12pt\" data-originalcomputedfontsize=\"16\">Pindang tetel adalah salah satu makanan khas Pekalongan yang disajikan dengan guyuran kuah hitam dan berbagai bumbu pawon lainnya. Isian dalam kuliner ini justru berupa irisan daging yang dipadukan dengan kerupuk usek. Kerupuk usek adalah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kasta-kerupuk-urut-dari-yang-paling-enak-sampai-yang-bikin-ngilu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kerupuk<\/a> yang digoreng menggunakan pasir, bukan minyak.<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span data-originalfontsize=\"12pt\" data-originalcomputedfontsize=\"16\">Kuah pindang tetel dimasak cenderung encer, sehingga kesegarannya terasa maknyus saat diseruput. Rasanya gurih, sedikit pedas, dan aromanya khas karena penggunaan kluwek. Kuliner ini paling nikmat disantap ketika masih panas kemebul. <\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span data-originalfontsize=\"12pt\" data-originalcomputedfontsize=\"16\">Akan lebih menggugah selera lagi jika kamu menambahkan gorengan ke dalam kuahnya. Beuuuh, wenakeee! <\/span><span data-originalfontsize=\"12pt\" data-originalcomputedfontsize=\"16\">Sebagai pelengkap, kamu juga bisa mencocol lontong sebagai pengganti nasi untuk mengganjal perut yang sedang berdendang.<\/span><\/p>\n<h2 style=\"font-weight: 400;\"><strong><span data-originalfontsize=\"12pt\" data-originalcomputedfontsize=\"16\">Harga terjangkau<\/span><\/strong><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span data-originalfontsize=\"12pt\" data-originalcomputedfontsize=\"16\">Seporsi pindang tetel di Pekalongan biasanya dihargai sekitar Rp4.000 hingga Rp10.000. Tentu saja harga ini tergantung lokasi. Beberapa warung kecil masih mematok harga di bawah Rp5.000, sementara warung lainnya sudah memasang harga di atas Rp7.000.<\/span><\/p>\n<h2 style=\"font-weight: 400;\"><strong><span data-originalfontsize=\"12pt\" data-originalcomputedfontsize=\"16\">Kuliner yang berinovasi<\/span><\/strong><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span data-originalfontsize=\"12pt\" data-originalcomputedfontsize=\"16\">Ternyata bukan hanya teknologi yang bisa berinovasi, kuliner khas Pekalongan ini pun ikut berevolusi pada sisi isiannya. Di beberapa tempat yang pernah saya kunjungi, tersedia <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kuluban\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">menu kluban<\/a>, yakni campuran irisan berbagai sayuran dengan pindang tetel. Awalnya saya ragu untuk mencicipi, tapi rasa yang dihasilkan justru semakin enak. Perpaduan yang tampak aneh itu ternyata berhasil mengecoh karena kelezatannya.<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span data-originalfontsize=\"12pt\" data-originalcomputedfontsize=\"16\">Tidak semua warung di Pekalongan menyediakan kluban pindang tetel. Banyak tempat yang tetap menawarkan versi original. Begitu pula selera orang, ada yang lebih suka inovasi, tapi banyak juga yang bertahan pada rasa klasik.<\/span><\/p>\n<h2 style=\"font-weight: 400;\"><strong><span data-originalfontsize=\"12pt\" data-originalcomputedfontsize=\"16\">Rekomendasi warung pindang tetel di Pekalogan<\/span><\/strong><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span data-originalfontsize=\"12pt\" data-originalcomputedfontsize=\"16\">Di Pekalongan, kamu bisa menemukan warung pindang tetel di banyak lokasi, seperti kawasan Buaran, Jalur Kedungwuni, dan lainnya. Namun kali ini saya akan merekomendasikan tiga warung yang menurut saya punya daya tarik tersendiri.<\/span><\/p>\n<p>Pertama, war<span data-originalfontsize=\"12pt\" data-originalcomputedfontsize=\"16\">ung Om Teguh. Berlokasi di\u00a0<\/span><span data-originalfontsize=\"12pt\" data-originalcomputedfontsize=\"16\">Jalan Raya Pakumbulan, Watusalam, Buaran, Pekalongan, warung ini menawarkan pengalaman kuliner yang unik. Warungnya berada di pinggir sawah dengan konsep saung sederhana. Kamu bisa menikmati makanan sambil memandang hamparan sawah hijau.<\/span><\/p>\n<p><span data-originalfontsize=\"12pt\" data-originalcomputedfontsize=\"16\">Seporsi pindang tetel Om Teguh disajikan dalam mangkuk tempurung kelapa. Harganya sangat ramah di kantong, sekitar Rp10.000 per porsi.<\/span><\/p>\n<p>Ked<span data-originalfontsize=\"12pt\" data-originalcomputedfontsize=\"16\">ua, warung Mbak Isah yang terletak di\u00a0<\/span><span data-originalfontsize=\"12pt\" data-originalcomputedfontsize=\"16\">Sapugarut, Buaran. Hidangan pindang tetel di sini sudah menjadi favorit warga Pekalongan selama sekitar 30 tahun. Berbekal uang Rp15 ribu, kamu sudah bisa mencicipi seporsi pindang tetel yang autentik.<\/span><\/p>\n<p><span data-originalfontsize=\"12pt\" data-originalcomputedfontsize=\"16\">Ketiga, pindang tetel Lapangan Gondang Wonopringgo. Meski lokasi warung terakhir ini agak sulit ditemukan, pindang tetel di sini jadi jujugan warga karena kuahnya yang cukup pekat. Cocok sekali disantap di siang hari sambil menikmati <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/gorengan-kehilangan-harga-diri-akibat-pembeli-rese\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">gorengan<\/a> dan es teh.<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span data-originalfontsize=\"12pt\" data-originalcomputedfontsize=\"16\">Kalau masih ada temanmu yang bingung atau salah paham soal kuliner khas Pekalongan satu ini, coba ajak dia mencicipi kuliner ini langsung. Sayang sekali kalau makanan ikonik ini hanya lewat di telinga tanpa pernah dicoba. Ia layak dikenal bukan karena namanya yang membingungkan, tetapi karena rasanya yang bikin ketagihan.<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Mei Rahmawati<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/selain-megono-berikut-kuliner-khas-pekalongan-yang-wajib-kalian-ketahui\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Selain Megono, Berikut Kuliner Khas Pekalongan yang Wajib Kalian Ketahui<\/a>.<\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini\u00a0<\/i><\/a><i>ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pindang tetel disangka kuliner berupa tetelan dari ikan pindang. Padahal kuliner khas Pekalongan ini tak ada hubungannya dengan ikan pindang.<\/p>\n","protected":false},"author":3155,"featured_media":378145,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[23238,4736,31509,1337,4576,31508],"class_list":["post-378135","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-kabupaten-pekalongan","tag-kuliner-khas-pekalongan","tag-kuliner-pekalongan","tag-makanan-khas","tag-pekalongan","tag-pindang-tetel"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/378135","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3155"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=378135"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/378135\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/378145"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=378135"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=378135"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=378135"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}