{"id":37680,"date":"2020-04-20T12:35:26","date_gmt":"2020-04-20T05:35:26","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=37680"},"modified":"2020-04-20T12:37:10","modified_gmt":"2020-04-20T05:37:10","slug":"empat-tingkatan-santri-ndugal-di-pondok-pesantren","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/empat-tingkatan-santri-ndugal-di-pondok-pesantren\/","title":{"rendered":"Empat Tingkatan Santri Ndugal di Pondok Pesantren"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sistem pendidikan di Indonesia boleh dibilang beragam. Namun dari sekian banyak program pendidikan yang membuat saya terkagum adalah pendidikan pesantren. Umumnya di pesantren, para murid yang biasa disebut santri ini akan dididik ilmu-ilmu agama. Mulai dari fiqih, tauhid, hadis, Alquran, dan segala sesuatu yang berbau agama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Program pendidikan pesantren pun beragam, ada yang bercorak salaf, ada yang modern, ada pula yang menggunakan keduanya, yakni salaf-modern. Sebenarnya tidak ada perbedaan yang mencolok dari ketiganya, hanya saja program pendidikannya saja yang berbeda. Intinya sama, belajar agama. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah menjadi hal yang lumrah ketika lulusan dari pesantren diharapkan dapat menjadi seorang pemuka agama di kampung halamannya. Karena memang dari awal masuk pesantren hingga lulus, asupannya adalah pelajaran agama. Namun pertanyaannya, apakah semua santri lulusan pesantren bisa menjadi seorang pemuka agama? Jawabannya adalah tidak. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak alasan kenapa santri lulusan pesantren tidak selalu mampu menjadi seorang pemuka agama, antara lain, mondoknya nggak niat, memang bukan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">basic<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menjadi dai atau kiai, dan masih banyak lagi faktor-faktor lain. Nah, di sini yang akan saya bahas adalah seorang santri yang mondoknya kurang niat saat di pesantren.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seorang santri pada awal masuk pesantren sudah bisa dipastikan akan menangis berhari-hari. Wajar saja, meninggalkan keluarga yang dicintainya bukan suatu perkara yang mudah. Sehingga, awal masuk pesantren seolah sudah ada seleksi alamnya, ada yang betah dan ada yang tidak. Biasanya, kalau yang tidak betah akan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">boyong <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">atau keluar dari pesantren. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menariknya, seorang santri baru pasti akan menaati peraturan pondok. Lantaran mereka belum hafal medan, belum mengetahui jalur tikus, dan yang jelas mereka baru anak kemaren sore. Lain halnya ketika mereka sudah menjalani kehidupan di pondok dalam beberapa tahun, minimal 1 tahunlah untuk mulai mampu melanggar peraturan pondok. Namun ini hanya oknum santri saja, jangan berpikiran kalau semua santri akan menjadi pelanggar aturan pondok. Ingat hanya oknum, ya!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, santri pelanggar itu juga ada tingkatannya. Sesuai dengan pengamatan saya yang pernah mondok di sebuah pesantren yang tidak bisa saya sebutkan namanya, ada tiga kategori santri pelanggar menurut pendapat saya.<\/span><\/p>\n<h4>Santri Pelanggar #1 Kelas Ringan<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya bisa menyandarkan kata ringan karena pelanggar jenis ini tidak keterlaluan dalam melanggar aturan pondok. Mungkin mereka hanya melanggar aturan \u201cDilarang Merokok,\u201d tapi tetap merokok di pondok. \u201cDilarang Membawa HP,\u201d tapi mereka masih menyimpan HP di lemarinya. Pelanggar jenis ini bisa dikatakan ringan karena masih senantiasa mengikuti kegiatan-kegiatan di pondok. Jadi, peluang mereka mendapatkan takziran cukup kecil.<\/span><\/p>\n<h4>Santri Pelanggar #2 Kelas Medium<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pelanggar jenis ini tentunya memiliki tingkatan dan &#8220;kualitas&#8221; lebih tinggi dibanding pelanggar kelas ringan dalam hal melanggar aturan pondok. Mereka lebih sering menghabiskan waktu di luar pondok, entah apa pun alasannya. Dibandingkan pelanggar kelas ringan, santri pelanggar kelas medium ini sudah cukup jarang mengikuti kegiatan-kegiatan pesantren. Pelaku jenis ini biasanya sering mendapatkan takzir, karena dalam setiap absensi kegiatan dirinya tidak ada saat dipanggil. Tidak jarang, mereka akan berakhir di ruangan keamanan pondok untuk diadili. Wqwqwq.<\/span><\/p>\n<h4>Santri Pelanggar #3 Kelas Berat<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya saya cukup sulit untuk mendeskripsikan kategori ini. Namun pada dasarnya, kegiatan yang dilakukan oleh pelanggar jenis ini sama saja dengan para pelanggar kelas sebelumnya. Perbedaannya hanyalah terletak pada intensitas mereka dalam melanggar. Contohnya seperti saya dulu yang pernah ditakzir gundul sebanyak 7 kali dalam 3 tahun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan berpikir jika angka itu adalah angka yang kecil. Itu adalah hal yang menyedihkan karena saya jadi tidak pernah merasakan mempunyai rambut panjang. Hiks. Pelanggar kelas ini sebagian besar adalah santri yang sudah kebelet untuk lulus tapi waktunya masih lama, rasanya seperti makan buah simalakama. Jika ada yang bertanya dalam urusan takzir, kelas berat ini sudah jagonya dalam merasakan takziran. <\/span><\/p>\n<h4>Santri Pelanggar #4 Kelas Kakap<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Layaknya penjahat, santri pelanggar juga bisa mempunyai tingkatan kakap asalkan sakti. Kelas ini nakalnya minta ampun\u2014setingkat di atas kelas berat sedikit sih, sebenernya. Namun, merekalah yang membuat santri pelanggar kelas lain sering iri dan dengki, khususnya untuk kelas berat. Bagaimana nggak iri? <em>Lah wong<\/em> ngelanggarnya barengan, kok si kelas kakap nggak kena takziran? Kan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">asu<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. Ini bukan fiktif belaka ya, ini asli pake huruf hijaiyah <em>shod<\/em><\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Entah apa yang membuat kelas kakap ini begitu sakti. Padahal mereka ya biasa-biasa saja, sama-sama suka ngelanggar, sering nggak ikut kegiatan pondok, ng<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">gak<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> mbuak blas-<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">lah dengan apa yang dilakukan pelanggar lainnya. Namun, kenapa mereka kok jarang sekali bahkan tidak pernah merasakan takziran? Sudahlah, semuanya memang punya rezeki yang berbeda-beda. Wqwqwq.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bagaimana-rasanya-jadi-santri-yang-pondoknya-dekat-dengan-rumah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Bagaimana Rasanya Jadi Santri yang Pondoknya Dekat dengan Rumah?<\/a><\/strong> <strong>atau<\/strong> <strong>tulisan Deni Alfiyansyah lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Santri pada awal masuk pesantren biasanya akan menangis berhari-hari. Wajar saja, meninggalkan keluarga yang dicintainya bukan suatu perkara yang mudah.<\/p>\n","protected":false},"author":665,"featured_media":37805,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[6244,6245,3301],"class_list":["post-37680","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-nakal","tag-pondok","tag-santri"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/37680","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/665"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=37680"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/37680\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/37805"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=37680"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=37680"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=37680"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}