{"id":376553,"date":"2025-12-01T14:00:37","date_gmt":"2025-12-01T07:00:37","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=376553"},"modified":"2025-12-01T14:02:39","modified_gmt":"2025-12-01T07:02:39","slug":"5-alasan-sps-uin-jakarta-berbeda-dari-pascasarjana-kampus-lain","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-alasan-sps-uin-jakarta-berbeda-dari-pascasarjana-kampus-lain\/","title":{"rendered":"5 Alasan yang Membuat SPs UIN Jakarta Berbeda dengan Program Pascasarjana Kampus Lain"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">SPs itu singkatan dari Sekolah Pascasarjana. Salah satu program yang ada di UIN <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Syarif Hidayatullah atau UIN Jakarta yang setingkat dengan <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Pendidikan_pascasarjana\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">graduate school<\/a>. Hanya saja, di kuping saya, penggunaan kata \u201csekolah\u201d untuk mereka yang menempuh program pascasarjana itu lumayan menggelitik ego. Bayangkan, kalian sudah lulus wajib belajar 9 tahun, sudah menempuh <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-ambil-s2-ugm-setelah-lulus-s1-dari-tempat-sama\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">S1<\/a>, eh malah setelahnya malah balik \u201csekolah\u201d lagi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenyataannya, tambahan kata \u201csekolah\u201d bukan sekadar permainan diksi. Atmosfer SPS benar-benar membuat kita mengulang cara berpikir dari nol, rasanya lebih mirip reset otak daripada lanjutan kuliah biasa. Itu baru perbedaan pertama, masih ada beberapa perbedaan lain terkait program SPs UIN Jakarta ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Tidak ada kompromi jadwal di SPs UIN Jakarta<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di kampus lain, pascasarjana itu penuh kompromi. Jadwal kuliah disesuaikan dengan ritme kalangan pekerja. Ada yang kuliah Rabu-Sabtu, ada yang Sabtu-Minggu. Ada yang online kalau inget. Semua serba fleksibel, seakan kampus berkata, \u201cKamu kan sudah kerja, kami ngerti kok.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, SPs UIN Jakarta tidak demikian. Kalau kamu sibuk dan mau masuk SPs, maka kamu yang harus meluangkan waktu. Semester satu bisa empat hari seminggu di kampus, terutama bagi mereka yang dulu jurusan S1-nya terlalu \u201cumum\u201d. Tidak beraroma Studi Islam, blas. Di SPs, jadwal bukan negosiasi; jadwal adalah takdir. Kalian tinggal menjalaninya.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Cuma ada satu jurusan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perbedaan lain yang membuat SPs UIN Jakarta beda adalah hanya ada satu jurusan, Studi Islam. Hanya itu. Baru setelah masuk, kamu menepi ke konsentrasi\/minat masing-masing: sejarah, hukum, ekonomi, biologi, komunikasi, dan seterusnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akibatnya, siapa saja yang datang dari jurusan yang tidak punya latar Islam harus masuk matrikulasi. Di tahap ini kalian akan diajarkan tafsir dasar, hadis dasar, metodologi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kampus-islam-rasa-bebas-fenomena-uin-yang-bikin-bingung-malaikat-pencatat-amal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Studi Islam,<\/a> dan kelas-kelas fondasi lainnya. Belum sempat mengeluarkan teori-teori canggih, kalian sudah dipaksa kembali ke dasar-dasar. Pesan SPs jelas, spesialisasi itu penting, tapi hanya bisa dibangun di atas dasar yang kokoh.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 SPs UIN Jakarta itu gampang masuk, susah keluar<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak calon mahasiswa datang dengan cerita horor dari para kakak tingkat. Kabar yang beredar, SPs itu gampang masuknya, tapi keluarnya susah. Saya dulu tidak percaya. Saya kira itu sekadar bumbu-bumbu senior untuk menakut-nakuti adik kelas. Tapi, setelah masuk dan merasakannya sendiri, eh, saya justru menggenapkan nubuat itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebaruan yang dicari benar-benar serius. <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/kampus\/kisah-profesor-sarjiya-ugm\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Profesor<\/a> yang membimbing pun bukan yang cuma mengetik \u201clanjutkan\u201d di pinggir file. Mereka mengawal sampai kita sadar bahwa revisi itu gaya hidup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan, karena mayoritas mahasiswa sudah bekerja, berkeluarga, atau bahkan punya jabatan, target lulus 3 tahun terasa seperti target diet. Banyak yang ingin, tapi tak semua kuat menjalani.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Tidak ada privilese, tidak ada jalan pintas<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada satu kisah nyata di UIN Jakarta. Seorang kakak tingkat yang kebetulan seorang camat, menghilang setelah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/6-kesalahan-saat-seminar-proposal-skripsi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ujian proposal<\/a>. Dia baru muncul lagi lima tahun kemudian ketika masa studinya tinggal menghitung bulan. Semua tunggakan dua belas semesternya dia lunasi, lalu dia tancap gas mengejar revisi. Namun, Bab 5 tak kunjung rampung, dan waktu habis lebih dulu. Akhirnya, dia dinyatakan tidak lulus dan harus memulai semuanya dari awal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di SPs, tidak ada<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">fast track. Tidak peduli jabatan, nama besar, atau siapa orang tuamu; semua tunduk pada aturan akademik yang sama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Barangkali karena beberapa alasan tadi, ada rasa bangga tertentu yang muncul ketika seseorang akhirnya keluar sebagai lulusan. Bukan bangga karena gelar di belakang nama; itu bisa dicetak di mana saja. Melainkan bangga karena tahu bahwa proses panjang itu benar-benar ditempuh, bukan dipersingkat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">SPs UIN Jakarta memang bukan tempat yang ramah, bukan tempat yang memanjakan, dan bukan tempat yang menawarkan kemudahan. Tapi, justru di sanalah nilainya. Ia mengajarkan bahwa sebagian capaian dalam hidup memang lebih pantas diraih dengan napas panjang, bukan jalan pintas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Muhammad Asgar Muzakki<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-salah-kaprah-uin-jakarta-yang-terlanjur-diyakini-banyak-orang\/\"><b><i>5 Salah Kaprah tentang UIN Jakarta yang Terlanjur Dipercaya Banyak Orang, Termasuk Calon Mahasiswanya<\/i><\/b><\/a><b><i>.<\/i><\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SPs UIN Jakarta berbeda dan unik karena beberapa hal seperti minim kompromi jadwal, cuma ada satu jurusan, hingga tidak ada privilese. <\/p>\n","protected":false},"author":3100,"featured_media":376596,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[12910],"tags":[16703,2879,31415,31414,6071],"class_list":["post-376553","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-magister","tag-pascasarjana","tag-sekolah-pascasarjana","tag-sps-uin-jakarta","tag-uin-jakarta"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/376553","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3100"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=376553"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/376553\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/376596"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=376553"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=376553"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=376553"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}