{"id":375576,"date":"2025-11-28T13:24:44","date_gmt":"2025-11-28T06:24:44","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=375576"},"modified":"2025-11-28T13:24:44","modified_gmt":"2025-11-28T06:24:44","slug":"pembayaran-tunai-tak-boleh-ditolak-tapi-tolong-pake-otak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pembayaran-tunai-tak-boleh-ditolak-tapi-tolong-pake-otak\/","title":{"rendered":"Saya Setuju Jika Tidak Boleh Menolak Pembayaran Uang Tunai, tapi Pembeli juga Harus Memperhatikan Hal Ini!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah dua kali saya membaca artikel<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> Terminal Mojok<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang membahas tentang tidak bolehnya menolak pembayaran uang tunai. Artikel yang pertama ditulis oleh <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kafe-yang-hanya-terima-pembayaran-qris-itu-diskriminatif\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Muhamad Iqbal Haqiqi<\/a>, kemudian disusul oleh <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/qris-memang-memudahkan-tapi-pembayaran-tunai-tidak-boleh-ditolak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Arsyanisa Zelina<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika membaca dua artikel tersebut, saya hanya mengangguk-angguk saja. Saya menerima pendapat mereka tanpa menolak sedikit pun. Sebab, argumen mereka benar-benar kuat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang yang pernah bekecimpung di dunia perkasiran, izinkan saya memberikan sudut pandang. Pembayaran tunai memang tidak boleh ditolak, tapi kenyataannya tidak semudah yang dibayangkan. Setidaknya, jika pembeli ingin membayar memakai uang tunai, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Saya jelaskan agar dapat dipahami.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jangan menyembunyikan uang kecil atau uang pas kalau mau pembayaran tunai<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Percayalah, pembeli kerap melakukan trik licik ini agar tetap menyimpan uang kecil. Sebagaimana yang kita tahu, semakin susah untuk mencari uang kecil. Alhasil, pembeli selalu mengandalkan uang besar untuk transaksi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa uang kecil begitu penting? Karena uang pecahan kecil bisa untuk membayar parkir, beli es teh jumbo, dan beli jajanan murah. Repot jika membayar dengan uang gede.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat menjadi kasir, tak jarang saya memaksa secara halus kepada pembeli agar membayar dengan uang kecil atau uang pas. Dengan cara memaksa seperti itu, pembeli biasanya akan merogoh kantong dan memeriksa di dompet. Ternyata mereka punya uang pas!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Motif mereka melakukan hal itu karena ingin menimbun uang kecil. Terdengar sadis, tapi begitulah kenyataannya. Bahkan, pernah ada yang secara terang-terangan mengakui butuh uang pecahan kecil. Lha emang dikira kasir juga nggak butuh?<\/span><\/p>\n<h2><b>Kalau bawa cash jangan cuma bawa yang gede, mempersulit hidup!<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk poin kedua ini, lebih terkait dengan uang kembalian. Sebisa mungkin, pembeli jangan cuma membawa lembaran uang Rp100 ribu dan Rp50 ribu. Siapkan uang kecil agar kasir mudah memberikan uang kembalian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya begini, lagi-lagi berdasarkan pengalaman saya, pelanggan membeli barang seharga Rp52 ribu. Dia membayar menggunakan uang yang bergambar Soekarno-Hatta alias Rp100 ribu. Biasanya akan saya tanya apakah ada uang Rp2 ribu. Biar uang kembaliannya menjadi satu lembar Rp50 ribu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terus kalian tahu apa jawabannya? Tidak ada. Wow enteng sekali ya ngomongnya. Seolah-olah tidak ada dosa yang keluar dari mulutnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Serius, setiap kali kasir mendengar kata \u201ctidak ada\u201d, kuping terasa menjadi panas. Maksudnya, masa duit Rp2 ribu aja nggak punya gitu lho. Jadinya saya harus menyiapkan kembalian Rp48 ribu dengan Rp20 ribu dua lembar, Rp5 ribu satu lembar, Rp2 ribu satu lembar, dan Rp1 ribu satu lembar. Benar-benar tutorial mempersulit hidup!<\/span><\/p>\n<h2><b>Kasir juga bingung jika sama-sama tidak punya uang kecil<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kasir dan pembeli sama-sama tidak punya uang kecil, saat itu pula situasi menjadi menegangkan. Apalagi jika kasir sudah mencoba menukar uang ke toko di sekelilingnya, tapi hasilnya nihil. Kondisi akan semakin tidak menentu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Skenario terburuk dari semua itu adalah pelanggan tidak jadi membeli. Transaksi menjadi batal. Padahal, kasir dituntut untuk mencapai target penjualan oleh bosnya. Mengetahui hal seperti itu, bisa jadi pak bos akan memarahi kasir tersebut. Apalagi jika pak bos serakah kikir kapitalis ala <a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Mr._Krabs\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mr. Krabs<\/a>, iblis aja bisa kalah kejamnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka dari itu, jika pembeli memang ingin membayar dengan uang tunai, siapkan uang pas atau uang kecil. Cari dulu sampai dapat. Entah itu lewat penukaran uang di bank atau jajan di Indomaret. Pokoknya terserah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lha bayangin aja, misalnya, membeli roti di warung madura seharga Rp7 ribu. Tapi uangnya Rp100 ribu. Kui jenenge ngejak gelut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maksudnya gini lho, coba pikirin kalian berada di posisi kasir atau penjual. Kalau kejadian di atas terus berulang, kan lama-lama uang kembalian habis. Gunakanlah empati kalian. Asli, ini menjadi masalah sehari-hari yang harus dihadapi oleh mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitulah kira-kira yang harus diperhatikan oleh pembeli jika pembayaran menggunakan uang tunai. Hal ini agar terjadi kenyamanan antara kasir atau penjual dengan pembeli. Masalah hidup sudah begitu banyak, jangan ditambah lagi dengan perkara uang kecil.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Nafiuddin Fadly<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/qris-memudahkan-tapi-bikin-pedagang-kecil-kebingungan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">QRIS Dianggap sebagai Puncak Peradaban Kaum Mager, tapi Sukses Bikin Pedagang Kecil Bingung<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n<div class=\"diperbarui\"><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebagai orang yang pernah bekecimpung di dunia perkasiran, izinkan saya memberikan sudut pandang tentag pembayaran tunai.<\/p>\n","protected":false},"author":1186,"featured_media":375648,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[5338,24739,31367],"class_list":["post-375576","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-kasir","tag-pembayaran-tunai","tag-uang-kecil"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/375576","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1186"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=375576"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/375576\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/375648"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=375576"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=375576"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=375576"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}