{"id":375323,"date":"2025-11-27T14:12:08","date_gmt":"2025-11-27T07:12:08","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=375323"},"modified":"2025-11-28T13:00:19","modified_gmt":"2025-11-28T06:00:19","slug":"kasihan-solo-selalu-dibandingkan-dengan-jogja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kasihan-solo-selalu-dibandingkan-dengan-jogja\/","title":{"rendered":"Kasihan Solo, Selalu Dibandingkan dengan Jogja, padahal Perbandingannya Kerap Tidak Adil!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Solo dan Jogja. Dua nama kota yang seperti saudara kembar, tapi karakternya beda. Sama-sama punya keraton, sama-sama lahir dari sejarah Mataram Islam, sama-sama dikenal santun dan berbudaya. Wajar kalau keduanya sering dibandingkan. Tapi yang sering jadi persoalan bukan soal membandingkan, tapi bagaimana membandingkannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, yang sering terjadi bukan perbandingan Kota Surakarta dengan Kota Yogyakarta, melainkan Solo dengan seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Tentu saja Solo akan tampak \u201ckalah lengkap\u201d. Masa kota disandingkan dengan satu provinsi beserta empat kabupaten dan satu kota? Ya otomatis tidak apple to apple.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biasanya, perbandingan ini muncul di postingan-postingan yang menyangkut dua kota ini di media sosial. Bisa berupa konten prestasi kota, konten kebudayaan, atau kadang cuma sekadar konten kuliner dan pariwisata. Tapi ujung-ujungnya selalu ada yang nyeletuk perkara pantai, gunung, dan destinasi wisata alam. Ya, tetap saja pembahasannya itu-itu lagi.<\/span><\/p>\n<h2><strong>&#8220;Solo punya pantai nggak?&#8221;<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, dari komentar-komentar tersebut, biasanya akan muncul narasi seperti, \u201cSolo punya pantai nggak? Jogja dong punya Parangtritis,\u201d atau, \u201cSolo mana punya gunung? Jogja punya Merapi.\u201d Padahal pantai itu adanya di Bantul atau Gunungkidul, dan Merapi adanya di Sleman. Semuanya memang masuk di wilayah DIY, tapi bukan Kota Yogyakarta. Kota Yogyakarta sendiri, seperti halnya Kota Surakarta, ya tidak punya pantai dan tidak punya gunung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, kalau mau dibandingkan dengan Solo Raya, itu baru fair. Karena daerah itu mencakup Surakarta, Sukoharjo, Boyolali, Karanganyar, Wonogiri, Klaten, dan Sragen. Baru terasa seimbang kalau disandingkan dengan DIY. Solo Raya punya tiga gunung sekaligus yakni Merapi, Merbabu, dan Lawu yang mengapit dari barat dan timur. Bahkan punya waduk yang besar di Wonogiri, <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Waduk_Gajah_Mungkur\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Waduk Gajah Mungkur<\/a>, lengkap dengan pantainya di ujung selatan Wonogiri meskipun kecil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, kalau konteksnya wilayah, Solo Raya pun tidak kalah kaya secara lanskap alam.<\/span><\/p>\n<p><strong>Baca halaman selanjutnya<\/strong><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kasihan-solo-selalu-dibandingkan-dengan-jogja\/2\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em>Jangan dibandingkan dong!<\/em><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>Jangan dibandingkan, karena keduanya punya nilai tersendiri<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi sebenarnya, esensinya bukan soal siapa yang lebih lengkap atau lebih indah. Karena Solo dan Jogja bukan soal alamnya saja, tapi soal atmosfernya, dan \u201cjiwanya\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja dikenal sebagai kota pelajar dan kota singgah. Tempat orang datang merantau, belajar, tumbuh, dan kemudian membawa pulang cerita. Dinamis, ramai, dan penuh energi. Sementara Solo dikenal sebagai kota tinggal. Ritmenya tenang, tidak terburu-buru, lebih akrab, dan kuat dengan akar warganya. Sama-sama tenang, tapi rasa tenangnya beda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja terasa muda. Solo terasa matang. Jogja riuh dengan kultur populer, Solo pelan dengan napas tradisi. Jogja cocok jadi tempat mencari, Solo cocok jadi tempat kembali. Dan Jogja seperti tempat merangkai kenangan, Solo seperti tempat menyimpan kenangan itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan di balik perbedaan itu, sebenarnya dua kota ini saling melengkapi. Jogja punya geliat ekonomi kreatif, Solo punya kekuatan budaya yang mengakar. Jogja penuh mahasiswa, Solo penuh pekerja rantau. Lalu, Jogja kuat di ruang publik dan seni modern, Solo kuat di pelestarian warisan budaya. Keduanya unik dengan caranya sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena perbandingan itu sebenarnya tidak melulu soal siapa lebih unggul. Tapi tentang memahami bahwa dua hal yang mirip belum tentu harus sama. Solo tidak harus punya pantai untuk disebut menarik, Jogja tidak harus punya tradisi seperti Sekaten untuk disebut berbudaya. Keduanya punya ceritanya sendiri.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Jadi diri sendiri<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja tidak perlu menjadi Solo, dan sebaliknya. Dua-duanya punya caranya sendiri untuk membuat orang betah, betah tinggal ataupun betah rindu. Tidak perlu saling meniru, karena keduanya memang sudah kembar. Yang dibutuhkan bukan saling mengungguli, tapi saling melengkapi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita terlalu sering sibuk mencari pemenang dari perbandingan yang sebenarnya tidak sedang mengadakan lomba. Kedua kota ini tidak pernah bertanding. Mereka hanya berjalan berdampingan, dengan pesona dan takdirnya masing-masing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena kota itu tidak harus sama untuk dianggap hebat. Ia hanya perlu punya rasa. Keduanya jelas punya rasa itu. Duet, bukan rival.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Muhammad Nur Azza<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jalan-solo-jogja-jalan-paling-monoton-dan-bikin-ngantuk\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jalan Solo-Jogja, Jalan Paling Monoton dan Bikin Ngantuk<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jogja tidak perlu menjadi Solo, dan Solo tidak perlu menjadi Jogja. Dua-duanya punya caranya sendiri untuk membuat orang betah.<\/p>\n","protected":false},"author":3103,"featured_media":352001,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[5281,115,30773,31352,2284,783],"class_list":["post-375323","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-gunungkidul","tag-jogja","tag-pantai-di-jogja","tag-pantai-di-solo-raya","tag-solo","tag-wonogiri"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/375323","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3103"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=375323"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/375323\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/352001"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=375323"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=375323"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=375323"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}