{"id":375061,"date":"2025-11-26T11:47:31","date_gmt":"2025-11-26T04:47:31","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=375061"},"modified":"2025-11-26T11:47:31","modified_gmt":"2025-11-26T04:47:31","slug":"beratnya-jadi-laki-laki-di-tegal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/beratnya-jadi-laki-laki-di-tegal\/","title":{"rendered":"Beratnya Jadi Laki-laki di Tegal: Daerahnya Makin Maju, Banyak Pabrik Dibuka, tapi Tak Ada Lowongan untuk Mereka"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada masa ketika Tegal dikenal sebagai daerah dengan imej ndeso. Logatnya jadi bahan candaan, bahkan sering dijadikan sebagai gimmick di film dan sinetron. Tapi ya sudah. Nggak masalah. Toh, memang begitu adanya. Tegal, memang pernah se-katrok itu dan kami menyadarinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, kalau bicara Tegal hari ini, label \u2018ndeso\u2019 dan \u2018katrok\u2019 sudah tidak lagi relevan. Sekarang saya tanya. Memangnya ada daerah \u2018katrok\u2019 yang punya banyak mall, bioskop, kafe kekinian dan franchise populer bertebaran di sepanjang sudut? Memangnya pantas Tegal disebut ndeso padahal sukses membuat iri tetangga sekitarnya? Itu, Brebes dan Pemalang sampai harus ke kota ini untuk cari hiburan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitulah. Kota Tegal benar-benar bertransformasi menjadi kota yang sesungguhnya, lengkap dengan hiruk pikuk dunia. Transformasi ini, dari perspektif laki-laki, sungguh membuat hidup di Tegal semakin berat. Bagaimana tidak? UMR yang cuma 2 juta lebih dikit harus melawan modernisasi yang begitu masif. Sungguh tak masuk ke logika.<\/span><\/p>\n<h2><b>Matematika terberat adalah 2 juta dibagi 30<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan kamu adalah laki-laki yang hidup di Tegal dan kamu punya pacar. Dengan <a href=\"https:\/\/money.kompas.com\/read\/2025\/01\/01\/125857026\/gaji-umr-tegal-2025-baik-kota-maupun-kabupaten?page=all\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">UMK 2 juta lebih dikit<\/a>, ngajak ayang beb nonton, beli tiket dua, minum, popcorn, bensin dan makan sebelum pulang nge-date saja, sudah menghabiskan seperdelapan gaji. Itu pengeluaran sekali jalan. Kalau dalam sebulan jalan sampai 4 kali, setengah gaji sudah habis, hanya untuk jalan sama pacar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau statusnya kepala keluarga. Lebih berat lagi. Ngajak anak istri sekali jalan, nggak cukup kalau cuma bawa selembar ratus ribuan. Yakali tiap jalan anak dan bini cuma diajak makan angin di alun-alun?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalian mungkin berkilah \u2018Ah. Itu kan mahal karena ngasih makan egonya. Coba kalau gaya hidupnya biasa-biasa saja. Nyukuplah gaji dua juta tuh~\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nyukup, Ndasmu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Matematika yang paling susah adalah 2 juta dibagi 30. Secara matematika, perhitungan tersebut akan menghasilkan angka 66 ribu. Bahkan jika kendaraanmu adalah dinosaurus sekalipun yang nggak butuh bensin dan pajak, 66 ribu sehari sungguh angka yang tidak realistis. Terutama bagi laki-laki yang kerap jadi tulang punggung.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kabupaten Tegal punya nasib yang serupa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nahasnya, jadi laki-laki di Kabupaten Tegal juga sama beratnya. Beda kemasan saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini tentang maraknya pembukaan pabrik sepatu di Kabupaten Tegal. Sepintas, pembukaan pabrik sepatu tampak seperti pesta yang mengundang banyak lapangan kerja. Tapi dalam pesta tersebut, laki-laki hanya bisa menonton dari kejauhan. Pasalnya, tiap kali ada pembukaan lowongan kerja di pabrik yang baru buka, selalu saja lowongan yang tersedia hanya untuk perempuan. Laki-laki hanya bisa gigit jari, sementara perempuan berdikari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bisa jadi itu sebabnya muncul banyak fenomena bapak-bapak antar istri kerja. Polanya sama: Pagi mengantar istri kerja ke pabrik. Siang, ngopeni burung sambil udud. Sore, menjemput istri pulang. Malamnya kumpul di pos ronda sambil main catur. Besok, ulangi lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya yakin kadang mereka malu sama jakun. Tapi, mau bagaimana lagi? Tak ada lowongan kerja untuk laki-laki.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJadi ya, jangan heran kalau di kabupaten Tegal makin banyak tukang parkir dan pak ogahnya. Di sini, laki-laki susah cari kerja.\u201d Begitu kata salah satu warga.<\/span><\/p>\n<h2><b>Lalu, apa pilihannya?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baik di kota maupun kabupatennya, laki-laki Tegal seperti tidak benar-benar diberi pilihan. Pabrik memang banyak dibangun, lapangan kerja ada, tapi tidak ditujukan untuk mereka. Sementara gemerlap kehidupan makin silau saja di sana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena itu, satu-satunya jalan yang terasa masuk akal bagi laki-laki Tegal adalah merantau. Setidaknya dengan merantau, laki-laki Tegal terbebas dari tatapan miring tetangga dan dari ekspektasi keluarga besar. Mereka, bisa kembali merasa utuh, merasa berguna, merasa punya peran, tanpa harus terus bergantung pada perempuan. Singkatnya, mereka tidak lagi harus menumpuk rasa malu pada jakun sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi yang laki-laki Tegal yang masih muda dan belum punya tanggungan, merantau ke luar negeri jadi opsi paling terang. Ada yang ikut kapal, jadi ABK berbulan-bulan di lautan. Ada pula yang mendaftar kerja pabrik di Malaysia atau Taiwan. Semua dilakukan supaya tampak layak di mata keluarga besar. Supaya ketika pulang, kepala bisa sedikit lebih tegak, dan gengsi tidak lagi diinjak nasib.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang tabah ya, para lelaki yang hidup di Tegal. Hidup kadang memang selucu itu. Siapa sangka? Tanah kelahiran yang semakin megah, pada akhirnya justru jadi tempat yang membuat kalian kehilangan arah.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jadi-orang-tegal-itu-berat-tapi-saya-tidak-menyesal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Orang Tegal Sering Dianggap Ndeso dan Diolok-olok Logatnya, tapi Saya Tetap Bangga<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jadi laki-laki Tegal seperti tidak benar-benar diberi pilihan. Pabrik dibangun, lapangan kerja ada, tapi tidak untuk mereka.<\/p>\n","protected":false},"author":613,"featured_media":334630,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[9998,9999,31324,31325,2857,27274],"class_list":["post-375061","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-kabupaten-tegal","tag-kota-tegal","tag-lowongan-kerja-di-tegal","tag-pabrik-di-tegal","tag-tegal","tag-umr-tegal"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/375061","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/613"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=375061"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/375061\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/334630"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=375061"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=375061"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=375061"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}